Tahun Ketujuh

Sebelumnya gw mau mengajak kalian untuk mengheningkan cipta sejenak, karena hari ini adalah peringatan 7 tahun tsunami Aceh. Lets pray for ACEH…

Well, kalo kalian pernah ke Banda Aceh, pasti kalian gak bakalan nyangka kalo dulu kota ini pernah diterjang bencana yang maha dahsyat *caelah bahasa gw…gw sendiri juga gak yakin kalo tulisan ini gw yang bikin* Gw pribadi pun juga berpikiran demikian. Waktu pertama kali menginjakkan kaki di kota ini, gw ngerasa kalo Banda Aceh gak beda jauh sama kota-kota lain yang pernah gw singgahi. Ya, sama. Gak ada puing-puing sisa tsunami yang masih berserakan *yaiyalah wooiii!! kejadiannya kan tahun 2004!!* Gak ada lagi bangunan yang bentuknya gak karuan. Tapi memang gw akui, trauma pasca bencana mungkin masih tersisa bagi sebagian masyarakat Aceh.

Emang sih, ini kali pertama gw ke Banda Aceh. Jadi gw baru melihat Banda Aceh pasca tsunami, bukan sebelum tsunami. Menurut cerita orang-orang sekitar gw, Aceh pasca tsunami berkembang pesat dibanding sebelumnya. Hal ini dipicu oleh beberapa faktor seperti banyaknya bantuan dari luar negeri yang masuk ke Aceh. Jadi, secara tidak langsung para donatur/relawan luar negeri itu juga ‘menyebarkan’ budaya mereka di serambi mekah ini. *kok gw jadi kayak nulis makalah*

Secara tidak langsung, tsunami membawa perubahan bagi Aceh. Sekarang udah banyak pembangunan disana-sini. Aceh pun udah mulai terbuka dengan dunia luar. Udah banyak brand-brand terkenal yang berseliweran (?) di Aceh *just my opinion*

Jujur, meskipun gw bukanlah orang Aceh asli, dan gw juga bukan saksi mata dari bencana tsunami, tapi gw bisa merasakan kepedihan dari kejadian itu. Coba lo bayangin, di minggu pagi yang ceria, saat lo dan keluarga lo sedang menikmati sarapan, tiba-tiba ada gelombang air yang memasuki daratan. Menyapu rumah lo, menghanyutkan keluarga lo, merenggut nyokap lo, menyeret adek-adek lo yang masih kecil. Gimana?? Gimana perasaan lo?? Sakit kan?? Sedih kan??

Saat melihat Banda Aceh yang sekarang, memang perasaan pilu akan sedikit terminimalisir. Tapi gw yakin, masih ada sisa-sisa trauma yang membekas terutama bagi anak-anak yang kehilangan orang tua saat bencana tsunami. Ahh gw gak bisa ngebayangin kalo gw yang berada diposisi mereka. Coba lo bayangin bro, saat lo masih kecil lo udah kehilangan orang tua!! Coba bayangin saat lo mencari-cari jenazah orang tua lo di tempat penampungan!! Jangankan untuk berkumpul dengan keluarga, jenazahnya pun sulit untuk ditemukan!! Coba tempatkan diri lo diposisi itu!! Apa yang bakal lo lakuin?? Nangis?? Guling-guling di tempat penampungan?? Atau lo bakal nyari orang tua angkat???

Hal ini yang bikin gw salut sama anak-anak korban tsunami. Meskipun udah ditinggal pergi sama keluarga, hidup sebatang kara, tapi mereka tetap semangat bro!! Mereka gak pernah menyerah dan menyalahkan takdir!! Dan, coba lo liat sekarang, Aceh udah bangkit lagi kan??

Waktu memutuskan untuk kuliah disini, gw mendapat beberapa kritikan dari orang-orang terdekat gw. Dan rata-rata mereka melarang gw hanya karena Aceh pernah dilanda tsunami!! Mereka takut pas gw lagi asik-asiknya kuliah di Aceh tiba-tiba gelombang tsunami datang lagi. Aduuuhhh…kalo prinsip gw mah, JODOH, MAUT, REZEKI, HIDUP DAN MATI ITU UDAH ADA YANG MENGATUR!! Jadi gak usah takut kalo niat kita emang buat belajar😀

Diperingatan 7 tahun tsunami ini gw berharap Aceh lebih terbuka lagi. Meskipun menjalankan syariat Islam, tapi gw harap Aceh jangan terlalu mengekang sehingga pembaharuan sulit didapatkan. Tempat ini adalah tempat pertama bagi gw untuk hijrah…dan gw harap, gw bisa hijrah ke tempat lainnya suatu saat nanti😀

Be Stronger Our Nangroe..

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s