Ayah, Aku Rindu…

Pernahkah kalian merasa bahwa ayah adalah orang yang ‘kejam’? Yang selalu melarang kita melakukan ini itu. Orang yang melarang kita untuk bepergian jauh dengan teman-teman. Orang yang tidak pernah mengatakan IYA terhadap setiap permintaan kita.

Pernah, kan?

Tapi, coba kita renungkan lebih dalam, kenapa ayah bertindak demikian?

Ayah pasti punya alasan dibalik itu semua.

Gw pernah membaca sebuah note yang bercerita tentang seorang ayah yang tak bisa mengungkapkan perasaannya melalui untaian kata. Ya, hal ini sama persis dengan karakter ayah kita masing-masing, bukan?

Ayah, dibalik postur tubuhnya yang tegap, memiliki jiwa yang rapuh. Ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya melalui kata-kata maupun perbuatan. Benar, bukan? Coba resapi apa yang telah ayah kalian lakukan selama ini.

Pernahkan ayah memberikan nasihat seperti yang dilakukan oleh ibu? TIDAK. Ayah hanya berkata sepatah dua patah kata saat Ia memberikan nasihat. Tidak seperti ibu yang akan membelai rambut kita saat menyampaikan amanatnya.

Jika kalian kuliah/belajar di luar kota, mungkin yang sering menelpon adalah ibu, bukan ayah. Disaat awal bulan, ibu akan bertanya “uangmu masih cukup?” padahal yang mencemaskan hal itu adalah ayah. Ayah yang menyuruh ibu untuk menelpon kita yang sedang berada di luar kota. Ayah yang menyuruh ibu untuk bertanya perihal uang saku kita. Bukan ibu. Ibu hanya menjalankan apa yang ayah perintahkan.

Disaat kita mengadu tentang bayaran SPP/uang kuliah,dll orang pertama yang ‘kebakaran jenggot’ adalah ayah. Ayah akan mati-matian mencari sumber dana untuk memenuhi kebutuhan kita. Tak peduli bagaimana pun lelahnya Ia bekerja, asalkan kita bisa membayar SPP atau entah apalah namanya. Yang terpenting bagi beliau adalah ‘anakku tak boleh terhalang hanya karena kekurangan dana’

Benar, bukan?

Coba renungkan lagi.

Disaat kita kecil, ayah mengajarkan kita berbagai hal di luar sana. Ayah mengajari kita mengendarai sepeda. Dengan sabarnya ayah memegangi bagian belakang sepeda agar tubuh kita seimbang saat mengendarainya. Tapi apa yang ayah lakukan disaat kita terjatuh dari sepeda? Ayah hanya diam. Membiarkan kita bangun dengan sendirinya, tanpa bantuan dari beliau. Sedangkan ibu? Mungkin ibu adalah orang pertama yang berlari dan membantu kita berdiri.
Tapi kenapa ayah diam saja? Karena ayah ingin putri kecilnya bisa mandiri, berdiri sendiri tanpa bantuan dari orang lain, bahkan ayahnya sendiri. Karena ayah sadar, bahwa suatu saat nanti, putri kecilnya perlahan-lahan akan Ia ‘lepas’ ke dunia luar, dan Ayah, tidak mungkin bisa menemani kita hingga saat itu tiba.

Disaat kita meminta izin untuk bepergian jauh bersama teman-teman, ayah tidak secara otomatis mengatakan IYA, melainkan mempertimbangkannya terlebih dahulu. Ayah akan menyelidiki dengan siapa kita akan pergi, kemana, dan berapa lama. Ayah sangat detail dalam hal ini, karena ayah tidak mau putri kecilnya mengalami hal-hal yang tidak diinginkan.

Disaat kita akan pergi keluar kota/ke luar negeri untuk menuntut ilmu, ayah akan mengantarkan kita sampai bandara. Ayah tak banyak bicara pada hari itu, namun jauh di lubuk hatinya, ayah merasakan pilu karena harus melepas putri kecilnya untuk menuntut ilmu ke negeri yang jauh. Saat kita akan berangkat, ayah hanya berkata “hati-hati di jalan”. Padahal lebih dari itu, ayah ingin memeluk kita sebagai tanda perpisahan dengan putri kecilnya. Namun ayah tak dapat melakukan hal itu, karena ayah terlalu ‘maskulin’ untuk menitikkan air mata dihadapan putri kecilnya.

Disaat kita mendapat penghargaan/juara kelas ataupun mendapat medali dan sebagainya, orang pertama yang akan merasa bangga adalah ayah. Ayah sangat bangga saat namanya disebut sebagai orang tua dari penerima penghargaan/juara kelas. Ayah merasa bahwa kerja kerasnya selama ini membuahkan hasil. Ayah merasa, bahwa keringat yang selama ini Ia teteskan tidak jatuh dengan sia-sia.

Disaat kita mulai beranjak remaja, ada beberapa orang laki-laki yang berusaha untuk mendekati kita. Namun ayah dengan sigapnya memproteksi kita dengan sangat aman. Ayah akan menyeleksi laki-laki yang benar-benar pantas untuk putri kecilnya. Karena ayah tidak mau putri kecilnya tersakiti oleh laki-laki lain. Karena ayah mau putri kecilnya mendapatkan laki-laki yang lebih baik dari dirinya, yang bisa melindungi putri kecilnya sekaligus menggantikan perannya suatu saat nanti.

Disaat putri kecilnya telah tumbuh menjadi seorang wanita yang dewasa, ada suatu kecemasan yang timbul dalam benak ayah. “Siapa yang akan mempersunting putriku kelak?” “Siapa lelaki yang akan menggantikan tugasku untuk menjaga putri kecilku?”
Ayah, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, mengalami kebimbangan yang teramat sangat. Ayah tidak akan ‘menyerahkan’ putri kecilnya kepada lelaki sembarangan, karena ayah ingin pendamping putrinya kelak bisa menggantikan tugasnya sebagai seorang ayah.

Disaat kita telah dipersunting oleh lelaki ‘pilihan’ ayah, disinilah tugas mulia ayah berakhir. Tugas-tugas yang dahulunya menjadi tanggung jawab ayah, kini beralih menjadi tanggung jawab dari pendamping hidup kita. Ya, disatu sisi ayah merasa lega, karena putri kecilnya telah menjadi wanita dewasa dan menemukan lelaki yang tepat untuk menjadi pendamping hidupnya. Tapi disisi lain, ayah merasa sedih. Karena putri kecilnya akan meninggalkannya untuk ‘pergi’ bersama sang suami. Ayah merasa sedih, karena tak ada lagi putri kecil yang merengek minta dibelikan mainan. Tak ada lagi putri kecil yang menangis saat terjatuh dari sepeda. Tak ada lagi putri kecil yang terus mengoceh saat dibawa berjalan-jalan di kebun binatang. Tak ada lagi, karena tugas ayah telah selesai sampai disini.

Buat bokap gw…

Ayah, aku rindu.
Aku tahu ayah juga merindukanku. Ayah hanya mengatakan ”hati-hati di jalan” saat aku akan pergi kuliah di luar kota. Tapi aku tahu, sebenarnya ada banyak kata yang ingin ayah ucapkan saat itu. Ada banyak pesan yang ingin ayah sampaikan.

Ayah, aku rindu.
Jujur saja, saat ini aku sudah tak sanggup lagi untuk terus kuliah disini. Aku terlalu lelah untuk menapaki jalan yang semakin lama semakin jauh kurasa. Tapi mengingat perjuangan ayah, aku malu untuk pulang. Aku malu untuk mengatakan ”Ayah, aku ingin pulang saat ini juga” Aku malu untuk pulang sebelum saat itu tiba.

Ayah, aku rindu.
Ayah tahu? Kini aku sedang berusaha untuk tidak tidur setelah shalat Subuh. Seperti anjuran ayah, sejak sepuluh hari yang lalu aku mencari kesibukan lain setelah melaksanakan shalat Subuh, agar aku tidak tertidur.

Ayah, aku rindu.
Aku sangat senang saat ayah mengatakan bahwa aku harus kuliah sampai S2, bahkan ayah telah memberi ‘lampu hijau’ supaya aku bisa sekolah sampai luar negeri.
Ayah, memang itu impianku. Aku bisa bertahan hingga detik ini karena impian itu. Mohon doakan aku, agar suatu saat nanti aku bisa hijrah ke negeri gingseng seperti harapan ayah. Mohon selipkan namaku disetiap doa-doa yang ayah ucapkan. Mohon doakan aku, agar aku bisa terus bertahan disini hingga saat itu tiba.

Ayah, aku rindu.
Ayah, tolong perhatikan kesehatan. Jangan terlalu lelah bekerja. Karena aku juga lelah saat ayah merasa lelah.

Ayah, aku rindu.
Semoga niat mulia ayah untuk beribadah ke Tanah Suci segera di ijabah oleh Allah. Aku tahu, ayah telah mempersiapkan hal ini dari jauh-jauh hari, namun mungkin sekarang bukan saatnya bagi ayah untuk berangkat kesana. Mungkin suatu hari nanti.
Ayah, saat ayah telah berada di Tanah Suci nanti, mohon doakan aku di tempat paling mustajab. Doakan agar aku bisa melanjutkan pendidikan di Korea. Doakan semoga mimpi-mimpiku dipeluk oleh Sang Pemiliknya.

Ayah, aku rindu.
Saat ini aku telah merasa lelah. Aku lelah untuk terus berada disini. Ayah, aku ingin segera pulang. Aku ingin hijrah ke tempat yang lebih baik.

Ayah, aku rindu.
Jeongmal bogoshipda, appa.

Ayah, aku rindu.
Ayah tahu? Ada banyak orang di luar sana yang sering mengolok-olok putrimu ini. Ada banyak orang yang mengatakan bahwa aku ‘gendut’, ‘gemuk’, atau bahkan sering menganalogikan diriku dengan benda-benda atau hewan yang besar.
Jujur, meskipun wajahku tersenyum, namun jauh di lubuk hati yang paling dalam aku merasa tersinggung atas olokan itu. Bukankah kita diciptakan dengan berbagai macam perbedaan??
Tapi ayah, ayah sangat mengerti akan hal itu. Ayah dengan sabar memberiku masukan, melarangku untuk tidur setelah shalat Subuh agar aku tidak menjadi bahan olokan lagi.

Ayah, aku rindu.
Aku benar-benar merindukan ayah. Jeongmal bogoshipda, appa. Aku bahkan tak berani untuk melihat foto ayah ataupun mendengar suaramu. Karena aku takut. Aku takut tak bisa membendung perasaan ini. Aku takut tak bisa bertahan hingga saat itu tiba.

Ayah, aku rindu.
Jeongmal saranghanda, appa.
Saat aku tiba di Korea nanti, kuharap ayah bisa mengantarku dan memberikan nasihat yang lebih panjang dari biasanya. Ya, Ayah, doakan aku. Doakan agar aku bisa sampai disana….

Tuhan, tolong sampaikan salam rinduku untuk Ayah yang jauh disana…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s