Life Is A Choice

Hidup itu adalah pilihan. Dan yang memiliki otoritas untuk menentukan pilihan tersebut adalah diri kita sendiri. Kita berhak untuk memilih jalan mana yang harus kita lalui. Kita juga berhak untuk menentukan masa depan seperti apa yang harus kita jalani. Meskipun dalam kehidupan ini ada yang namanya takdir Tuhan. Iya, takdir. Segala sesuatu yang sudah menjadi ketentuan Tuhan itu disebut takdir. Kecuali soal takdir inilah, kita sebagai individu berhak menentukan pilihan manapun yang kita mau.

Well, postingan gue kali ini bukan bermaksud untuk menggurui. Gue gak bermaksud untuk menonjolkan diri sebagai seseorang yang filosofis. Gak. Gue gak bermaksud begitu. Kali ini gue cuma pengen sharing aja. Gue pengen orang-orang pada tau tentang pilihan yang telah gue ambil selama ini, dan pilihan itulah yang telah merubah jalan hidup dan masa depan gue.

Bicara soal pilihan hidup, gue baru mempunyai keberanian untuk menyatakan hal itu sejak beberapa bulan yang lalu. Iya, selama 18 tahun masa hidup gue, gue gak pernah punya pilihan hidup sendiri. Selama 18 tahun gue ‘disetir’ sama orang-orang disekeliling gue. Orang tua gue, abang-abang gue, keluarga besar gue, merekalah yang berperan sangat besar dalam menentukan jalan hidup gue selama 18 tahun itu. Sampai akhirnya, di ulang tahun gue yang ke-19, gue memberanikan diri untuk ‘memberontak’. Tepat di bulan April tahun ini, gue memberanikan diri untuk memiliki suatu pilihan hidup sendiri. Meskipun ada banyak pro dan kontra yang mengiringi pilihan gue tersebut.

Dari kecil hingga saat ini, sebagian besar pilihan yang gue ambil itu berasal dari masukan-masukan orang tua gue. Misalnya pas gue mau naik kelas 2 SMA. Seperti sekolah yang lainnya, di sekolah gue juga terjadi ‘penyaringan’ jurusan. Hati kecil gue sebenernya pengen masuk jurusan Bahasa ataupun IPS. Tapi berhubung di sekolah gue ga membuka jurusan bahasa, maka pada saat itu hati gue udah mantap banget buat memilih jurusan IPS. Ternyata orang tua dan keluarga gue berpendapat lain. Mereka menyarankan gue untuk masuk jurusan IPA supaya pas lulus SMA nanti, gue bisa melanjutkan kuliah di kedokteran. Iya, meskipun itu hanya berupa saran, tapi tetep aja gue dibikin stress sama saran tersebut. Kalau gue gak ngikutin saran mereka, otomatis gue udah bikin keluarga gue kecewa. Atau hal terburuknya, gue bisa di cap sebagai anak durhaka.

Waktu pembagian raport, rasanya gue pengen nangis. Bukan gara-gara nilai gue pada jelek semua. Tapi karena di raport gue tertulis bahwa gue masuk ke jurusan IPA. Rasanya dengan memasuki jurusan IPA, hari-hari gue kedepannya akan terasa lebih berat lagi. Gak kebayang kalau gue harus berhadapan dengan mata pelajaran kimia selama 2 tahun lebih. Gak kebayang kalo gue harus berangkat sekolah dengan membawa buku-buku pelajaran yang setebal kasur. Gak kebayang kalo gue musti bawa preparat ini itu saat waktu praktikum telah tiba. Asli. Rasanya waktu itu gue pengen berontak.

Dan pemberontakan gue ini sedikit tersampaikan saat gue udah kelas 3 SMA. Gue masih inget waktu itu dipenghujung tahun 2010 keluarga besar gue bertolak ke Semarang untuk menghadiri pelantikan abang gue. Saat semua keluarga gue berkumpul itulah gue tumpahkan semua kekesalan gue selama ini. Waktu itu keluarga besar gue lagi memperbincangkan soal perkuliahan gue, berhubung waktu itu gue udah kelas 3 SMA. Dan seperti tebakan gue, mereka kembali ‘menyetir’ pilihan hidup gue. Mereka sepakat bahwa gue harus melanjutkan kuliah di kedokteran. Asli. Rasanya air mata gue udah mau tumpah semua dan mengalir sampai sungai nil sana. Rasanya gue pengen berteriak yang kenceng kalo gue gak sepintar itu sampai harus kuliah di kedokteran. Dan memang, pada waktu itu gue membantah habis-habisan saran dari keluarga gue itu. Gue nyerocos tanpa henti dengan semangat yang menggebu. Gue udah kehabisan cara untuk ‘menyadarkan’ mereka bahwa jiwa gue ini bukanlah jiwa seorang dokter. Gue bercerita di hadapan keluarga besar gue itu gimana susahnya gue selama 2 tahun duduk di kelas IPA. Gue ceritain semua gimana sulitnya gue menghadapi mata pelajaran kimia yang selama 3 tahun gue di SMA, belum pernah gue mendapatkan angka 8 untuk mata pelajaran tersebut. Waktu itu gue hanya ingin pengertian dari keluarga gue. Gue memohon pengertian mereka agar gue diperbolehkan untuk memilih jurusan lain selain kedokteran. Tapi mau gimana lagi. Profesi dokter telah menempati ‘kasta’ tersendiri di masyarakat kita. Termasuk di setiap jalinan syaraf kedua orang tua gue. Bokap gue khususnya, berkeinginan agar gue menjadi seorang dokter gigi. Karena menurut beliau profesi dokter gigi itu sangat menjanjikan apalagi dengan adanya trend pemakaian kawat gigi saat ini. Sekali pasang behel saja seorang pasien bisa mengeluarkan uang hingga 8 juta, bahkan lebih dari itu, tergantung material yang digunakan. Jika dalam kurun waktu satu bulan ada sekitar 10-20 orang yang memasang behel, ada berapa banyak rupiah yang bisa gue kantongin?? Iya, itu pemikiran paling sederhana yang bokap gue miliki. Bahkan suatu hari bokap pernah bicara empat mata sama gue. Beliau bilang kalo gue jadi dokter gigi, kehidupan masa tua gua akan terjamin, apalagi saat gue udah gak punya orang tua lagi. Seenggaknya gue gak ngemis-ngemis sama orang lain karena gue punya penghasilan sendiri (yang tentunya menggiurkan).

Tapi balik lagi ke hati kecil gue. Di balik tulang rusuk sana, hepar gue sebenernya terasa sesak saat mendengarkan kata-kata itu. Penghasilan besar?? Kehidupan yang menjanjikan??

Gue sebenernya gak percaya sama teori bahawa jika kita menjadi seorang dokter, maka kehidupan di masa depan akan terjamin. Penghasilan akan lebih dari cukup, dan masa tua akan lebih cerah daripada masa sekarang. Sumpah. Gue gak percaya itu. Yang gue percaya cuma satu, bahwa rezeki itu sudah diatur sama Tuhan. Iya, gue percaya akan 3 hal, rezeki, maut, serta jodoh udah ada yang ngatur. Allah SWT. Gue jadi inget sama sebuah hadits yang sering ditulis sama temen kuliah gue (dulu) di buku catatannya. Nama temen gue itu Amy. Kalo gue kesel pas nilai-nilai gue lebih jelek dibanding orang lain, Amy bakal ngebacain hadits itu ke gue. Kira-kira begini bunyi dari potongan hadits itu “Aku percaya bahwa rezeki ku takkan pernah tertukar dengan rezeki orang lain. Makanya hatiku tenang”.

Iya, emang bener. Hati gue tenang banget kalo inget kata-kata itu. Rasanya hidup gue udah terjamin. Iya, yang menjamin hidup gue adalah Allah SWT. Gue gak perlu lagi mikirin pekerjaan apa yang musti gue lakoni agar mendapatkan penghasilan yang besar. Karena gue yakin bahwa Allah telah menakdirkan gue untuk memiliki rezeki tersendiri. Pekerjaan apapun yang kita jalani, pasti memiliki ‘kadar’ rezekinya tersendiri. Mungkin bagi orang lain penghasilan kita belum seberapa, tapi bagi kita pribadi penghasilan segini juga udah cukup. Iya, rezeki masing-masing individu itu berbeda-beda, tergantung kebutuhan masing-masing. Bagi seorang pemulung, penghasilan seorang dokter itu sangatlah fantastis. Tapi mungkin hal ini tidak berlaku bagi dokter itu sendiri, karena kebutuhan yang ia miliki juga besar. Si dokter harus membeli peralatan praktek, stok obat-obatan, dll. Sementara bagi si pemulung, gaji seorang dokter itu terbilang amazing! Bagitu pula sebaliknya. Jadi jangan takut kehilangan rezeki. Karena rezeki itu adalah takdir yang telah digariskan Sang Khalik.

Makanya, gue gak begitu ngotot untuk jadi dokter. Karena menurut gue, pintu rezeki itu terbuka dari mana saja. Gue gak harus menjadi seorang dokter agar bisa menjadi orang kaya. Gue gak harus jadi dokter agar bisa beli mobil mewah. Gue gak harus jadi dokter agar mendapatkan tempat tersendiri dalam ‘kasta’ tertinggi di masyarakat. Masih banyak cara lain untuk mencari rezeki yang halal.

Tapi balik lagi ke persoalan semula. Orang tua gue masih menginginkan gue jadi seorang dokter. Ya mau gimana lagi. Mau gak mau gue harus menuruti ‘saran’ tersebut. Hingga akhirnya gue menjalani 2 semester sebagai seorang Mahasiswa di Fakultas Kedokteran Hewan. Awalnya gue berpikir bahwa itu adalah takdir Tuhan. Gue beranggapan bahwa gue memang ditakdirkan untuk menjadi seorang dokter. Mungkin karena ini adalah harapan tulus dari kedua orang tua gue.

Selama 2 smeseter menjalani perkuliahan, hati gue semakin gelisah. Gue makin gak nyaman dengan status calon dokter. Fisik gue memang menerima hal ini, tapi tidak dengan hati gue. Setiap hari, detik demi detik gue mempertanyakan keseriusan gue menjalani kuliah di kedokteran. Pikiran gue melayang entah kemana. Dan memang, semua ini berawal dari hati. Hati kecil gue ingin kuliah di bidang lain. Hati kecil gue ingin merantau ke tanah Jawa, bukannya berkuliah di Sumatera…

Makanya, pada bulan April tahun ini gue memberanikan diri untuk berterus terang pada kedua orang tua gue. Gue mengatakan bawa gue mengundurkan diri dari calon profesi ini. Gue mengatakan bahwa gue siap untuk mengulangi bangku perkuliahan lagi (memulai dari semester 1 kembali) tapi dengan jurusan yang berbeda dan Universitas yang berbeda pula. Gue mengatakan bahwa dari dulu gue ingin kuliah di Jawa, bukannya di Sumatera. Dari dulu gue gak kepikiran buat jadi dokter. Dari dulu gue pengen bebas, BREAK THE RULES!  Dan, Alhamdulillah. Kedua orang tua gue mulai ‘melunak’ dan memahami keluh kesah gue. Meskipun diawal-awal orang tua gue masih menyuruh gue untuk melanjutkan kuliah di kedokteran. Kalau mendengar kata-kata itu, rasanya gue pengen berontak lagi. Tapi berkat bantuan dari abang gue, akhirnya bokap nyokap mulai mengerti akan jalan pikiran gue. Akhirnya gue mendapatkan restu untuk meninggalkan bangku perkuliahan yang lama (sebagai seorang mahasiswa kedokteran hewan) dan bokap telah memberikan gue ijin untuk mengikuti ujian masuk perguruan tinggi di Jawa. Alhamdulillahirrabbil’alamiin. Rasanya satu per satu beban pikiran gue mulai terangkat. Doktrin yang selama ini melekan di benak gue secara perlahan mulai memudar. Kini, gue gak perlu lagi menyandang status sebagai seorang calon dokter. Yang perlu gue lakukan saat ini hanyalah FOLLOW YOUR HEART. Iya, gue harus mengikuti kata hati.

Tapi gue juga gak bisa bohong. Sampai saat ini gue masih kepikiran sama mantan calon profesi gue itu. Gue masih suka sedih kalau kepikiran sama temen-temen gue di Aceh sana. Gue suka ngebayangin kalau beberapa tahun lagi mereka bakalan memakai setelan jas warna putih serta mengalungkan stetoskop di leher mereka. Gue suka ngebayangin kalau mereka bertemu pasien, pasti mereka bakalan dipanggil dengan sebutan Dokter. Iya, seharusnya panggilan itu juga berlaku bagi gue, kalau gue mau bertahan sedikit lagi. Tapi, apa gunanya gue bertahan, kalau ujung-ujungnya gue bakalan tersiksa seumur hidup? Bukan tersiksa dalam artian sebenarnya, tapi siksaan yang gue maksud adalah beban pikiran yang harus gue tanggung selama menjalani tugas mulia sebagai seorang dokter. Gue udah pernah bilang, kan? Gue ini tipikal orang yang gak sabaran. Sementara dokter itu harus sabar dan telaten. Gue gak mau mengorbankan hak hidup si pasien hanya karena sikap gue yang gak sabaran ini.

Well, sakit memang. Saat mengingat hari-hari yang telah gue lalui selama 2 semester itu. Memori-memori sebagai seorang calon dokter itu sering berkelebat dalam pikiran gue. Gue sering teringat akan kebersamaan gue sama temen-temen di kampus. Gue juga inget pas di laboratorium Fisologi, saat praktikum membuat anti koagulan (anti pembekuan), kelompok gue hampir gagal gara-gara sifat gue yang gak sabaran. Waktu itu gue pengen cepet-cepet pulang gara-gara gue ngeliat kelompok lain udah pada beres. Makanya gue ‘mendesak’ teman-teman kelompok gue buat masukin reagen sesuka hati. “Ah, beda-beda dikit gak apa-apa. Toh bedanya juga nol koma ini kok” Iya, sifat gue emang kampret banget. Gak sabaran. Coba kalo hal itu juga gue lakuin pas menghadapi pasien nanti. “Udah, beda-beda dikit gak apa-apa. Toh bedanya cuma sepersekian centi ini kok. Cussss” Gue langsung nancepin jarum suntik ke pergelangan tangan si pasien. Padahal jarum yang gue masukin itu mengarah ke pembuluh nadi. Iya, emang beda tipis. Tapi akibatnya fatal. Kalo pembuluh nadi yang terbuka, lo bayangin aja berapa liter darah yang bakalan keluar. Akhirnya gue harus mendekam di penjara gara-gara kasus malpraktek. Inilah satu dari sekian banyak alasan mengapa gue gak cocok jadi dokter.

Gue juga suka terbayang sama hari-hari yang udah gue lalui sebagai seorang mahasiswa kedokteran hewan. Jujur, gue akui. Selama kuliah disana gue punya banyak temen. Baik itu laki-laki maupun perempuan. Gue gak pernah merasa kesepian saat berada di kampus. Gue punya banyak teman yang bisa mengerti keadaan gue, dan menerima kekurangan gue. Sakit memang, saat berpisah sama mereka, itu berarti gue harus mencari teman baru lagi, di kampus yang baru, di Universitas yang baru, di tanah Jawa. Dan, kenyataan memang terasa pahit. Di kampus yang baru ini, gue mempunyai suatu problem dalam hal pertemanan. Karena suatu alasan, temen-temen yang pada awalnya gue anggap bisa menjadi sahabat sekaligus keluarga (seperti temen-temen gue yang di Aceh sana), ternyata memilih untuk menjaga jarak sama gue. Yah, mau gimana lagi. Gue juga gak bisa berbuat apa-apa. Pertemanan itu bukan hanya soal kita yang bisa menerima orang lain, namun juga membiarkan diri kita diterima oleh orang lain. Point kedua inilah yang gak gue dapatkan. Gue merasa gak diterima dalam pertemanan itu, makanya gue secara sadar mengundurkan diri. Ya, gue anggap ini sebuah risiko yang harus gue jalani karena telah mengambil keputusan ini. Gue anggap ini sebuah cobaan kecil karena gue telah ‘memberontak’ pada pilihan orang tua. Gue anggap ini merupakan sebuah ujian sebelum gue naik kelas nanti. Gue anggap ini merupakan sebuah syarat agar gue bisa merantau lagi ke Korea..

Ya, ini untuk pertama kalinya gue mempunyai pilihan hidup sendiri tanpa adanya embel-embel ‘saran’ dari orang lain. Makanya, gue harus bertanggung jawab atas pilihan ini. Gue harus belajar yang rajin untuk ‘menebus’ semua biaya, waktu, dan tenaga yang udah dikeluarkan sama keluarga gue. Coba bayangkan, berapa banyak biaya yang telah dikeluarkan oleh keluarga gue selama 2 semester di perkuliahan gue yang dulu. Dan semua biaya itu harus ‘hilang’ begitu saja karena gue lebih memilih untuk mundur. Belum lagi biaya untuk perkuliahan gue yang baru (kuliah gue yang saat ini). Mulai dari biaya ujian, biaya perjalanan selama ujian, biaya daftar ulang, sewa rumah kost, biaya bulanan, dll. Gue salut sama bokap yang gak pernah menggelengkan kepalanya saat ditanya mengenai masalah biaya. Bokap selalu siap sedia, meskipun biaya yang harus dikeluarkan itu gak sedikit jumlahnya. Ada rasa bersalah dalam diri gue terhadap bokap. Rasanya gue udah durhaka banget karena gue menggagalkan diri untuk jadi dokter (seperti cita-cita bokap). Tapi gue akan merasa lebih durhaka lagi kalau gue meneruskan kuliah di kedokteran. Karena gue menjalankannya tidak dari hati. Pokoknya gue janji, bokap gak bakalan kecewa sama keputusan gue kali ini. Gue gak bakal menyia-nyiakan kepercayaan yang udah diberikan bokap selama ini. Gue bakal ngebuktiin sama bokap kalau gue bisa mencari rezeki dengan cara yang lain. Gue gak harus jadi dokter untuk menjadi kaya. Iya, gue bakal ngebuat bokap bangga dengan pilihan gue kali ini. Dan yang terpenting, inilah jalan hidup yang gue mau…

Well, intinya, jalanilah kehidupan itu sesuai dengan kata hati kalian. Jangan mau ‘disetir’ oleh orang lain karena yang akan menjalani kehidupan itu ya kalian sendiri. Kalian yang akan menjalani pahit manisnya keputusan itu. Dan, orang lain gak bakalan tau bagaimana penderitaan kalian saat menjalaninya. So, mulai sekarang dengarkan kata hati, karena menurut gue, kata hatilah yang paling jujur di dunia ini. Hati gak pernah bohong. Namun manusia lah yang membuat seolah-olah hati itu tengah berbohong. Jangan takut kehilangan rezeki. Karena rezeki itu udah ada yang mengatur. Dan yang pasti, rezeki itu gak bakalan pernah tertukar. Jangan merasa rendah diri karena pekerjaan yang kita miliki tak se-prestigious pekerjaan orang lain. Karena masing-masing pekerjaan itu mempunyai pintu rezeki tersendiri. Gue, sebagai mantan calon dokter, gak pernah merasa rendah diri dengan calon profesi gue saat ini, yaitu seorang designer. Iya, kalau dibandingkan dengan seorang dokter, profesi sebagai designer memang belum banyak yang menganggapnya WAH. Dokter masih menempati urutan atas. Tapi, gue bangga dengan pencapaian gue saat ini. Seorang designer pun juga berpeluang untuk menjadi kaya, seperti layaknya seorang dokter. Begitu pula dengan profesi lainnya. So, mulai sekarang rubah pola pikir kita. Kuliah itu bukan untuk mencari kerja, dan kerja itu bukan untuk mencari uang. Kuliah itu untuk mencari ilmu dan pengalaman sebanyak-banyaknya, yang akan kita pergunakan saat terjun di masyarakat. Soal rezeki, jangan khawatir. Karena janji Tuhan itu tidak akan meleset barang satu inchi pun! BREAK THE RULES, AND FOLLOW YOUR HEART (mengutip kata-katanya bang @poconggg)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s