Before and After, Dulu dan Sekarang

Gue adalah seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, angkatan tahun 2011. Tapi sekarang udah gak lagi. Beberapa bulan yang lalu gue memutuskan untuk ‘hengkang’ dari Universitas tersebut karena gue mau ikut ujian SNMPTN lagi. Emang sih, gue gak lulus SNMPTN. Tapi gue berhasil lulus di dua Perguruan Tinggi di Jawa Barat. Yaitu, Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM). Dengan beberapa macam pertimbangan, akhirnya gue memilih UNIKOM, Bandung, sebagai tempat kuliah gue saat ini. Meskipun banyak yang menganggap gue ‘gila’ gara-gara gue lebih memilih Universitas swasta ketimbang Universitas negeri dan bergengsi kayak IPB. Tapi menurut gue sih, gak masalah swasta atau negeri, yang penting kan kualitasnya, bro! Bukan statusnya. Toh, yang negeri juga belum tentu lebih baik kok😀 (yang gak seopini sama gue ya gak apa-apa sih, asal jangan ngomel-ngomel aja di blog gue, ini kan masalah pendapat pribadi masing-masing, jadi wajar aja kalo ada perbedaan)

Dan, sekarang, disinilah gue. Di bumi parahyangan, Bandung. Di Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM). Eh, ngomong-ngomong abang gue juga lulusan UNIKOM loh😀 Makanya waktu itu gue bingung mau milih IPB apa UNIKOM, soalnya abang-abang gue ada yang lulusan IPB juga ada yang lulusan UNIKOM. (ceritanya gue mau ngikutin jejak sukses abang-abang gue)

Well, selama gue kuliah di Banda Aceh, ada begitu banyak memori yang bisa gue kenang. Yang bahkan, masih kepikiran di benak gue sampai saat ini. Kadang-kadang gue juga suka berandai-andai, “seandainya gue ngelanjutin kuliah di Aceh, pasti sekarang gue udah semester tiga, bukannya semester satu kayak sekarang, pasti nantinya gue bakalan dipanggil ibu dokter, bukannya ibu designer”. Tapi, balik lagi. Inilah konsekuensi yang harus gue terima. Sewaktu memutuskan untuk ‘hengkang’, seharusnya gue juga menyadari hal ini. Gue harus siap dengan segala kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Ya, salah satu kemungkinan itu ya hal itu tadi😀 (gue juga bingung mau bilang apa)

Oiya, selama kuliah di Banda Aceh, dan selama gue menetap di Bandung, ada beberapa perbedaan yang gue rasakan. Entah itu dari kampusnya, lingkungannya, metode pembelajarannya, atau makanannya. Perbedaan-perbedaan itu membuat gue belajar, bahwa dimana pun itu, pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Gak ada tempat di muka bumi ini yang benar-benar sempurna, guys😀

Ini ada beberapa hal (perbedaan) yang gue rasakan antara Aceh dan Bandung :

1. Jujur nih ya, salah satu hal yang paling gue sukai dari Aceh itu adalah nuansa Islaminya yang begitu kental. Dimana-mana cewek-cewek pada pake jilbab semua (mungkin hal ini karena pengaruh Qanun atau Perda setempat). Kalo di Bandung, gak semua perempuan mengenakan jilbab. Mungkin karena gak semuanya Muslim kali ya, atau, mungkin karena gak ada Perda yang mengatur hal itu. Disana-sini gue ngeliat cewek-cewek dengan dandanan modis. Meskipun ada yang mengenakan jilbab, tapi dandanan mereka gak kalah modisnya. Kalo gue boleh bilang sih, mereka ekspresif banget dalam hal berdandan. Beda sama di Aceh. Rata-rata perempuan disana mengenakan rok. Kalaupun pakai celana, gak boleh yang ketat. Tapi ada juga sih, yang pakai skinny jeans.

Gara-gara dandanan (cara berpakaian) ini juga, gue jadi suka menebak-nebak ‘kepercayaan’ si cewek itu. Kalau mereka pada pake jilbab sih ya, gue yakin banget mereka itu Muslim. Tapi kalau gak pake jilbab? Gue suka bertanya-tanya “ini orang muslim apa bukan, sih?” Apalagi kalau gue baru pertama kalinya bertemu sama orang tersebut. Tapi yaudahlah, ya. Pake jilbab atau enggaknya itu urusan masing-masing. Asal jangan terpaksa aja. Kalau kita terpaksa pakai jilbab kan jadi gak ‘ikhlas’ gitu. Akhirnya pake jilbabnya jadi asal-asalan (asal pake jilbab weh, asal udah menunaikan ‘peraturan’).

 

2. Senioritas. Salah satu hal yang paling gue inget dari Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, itu adalah senioritasnya yang kental banget. Istilahnya sih (kalo gue boleh bilang) gak ada adik kelas (letting) yang gak kenal sama seniornya. Walaupun kita gak kenal nama kakak kelasnya, paling enggak kita hapal wajahnya. “Eh, itu bukannya kakak asuh si anu ya?” “Eh, abang yang itu namanya siapa sih?” “Kakak yang itu bukannya ngebentak si anu waktu Civitas ya?” (waktu gue di FKH, kegiatan OSPEK disana namanya Civitas Akademik). Intinya, bisa dibilang di FKH itu semuanya udah saling kenal. Apalagi antar letting yang terlibat langsung saat OSPEK. Kalau menurut peribahasa ngawur dari temen gue sih ya, ‘jarum yang jatuh pun bisa ketahuan di FKH’ saking eratnya hubungan ‘kekeluargaan’ disana. Jika ada seseorang yang bermasalah dengan individu lainnya, beuh. Pasti lah, itu gosip menyebar ke seantero fakultas. Dari letting paling baru sampai angkatan tahun jebot pada tau semua. Makanya, temen-temen gue pada gak suka berurusan sama letting atas. Soalnya masalahnya bakalan jadi membesar dan membesar! Mungkin, ini salah satu efek dari senioritas itu sendiri. Angkatan-angkatan atas menempati ‘kasta’ tersendiri. Kalau ketemu dijalan, kita musti negur si kakak kelas. Kalau enggak, ya bakal dibilang sombong lah, masih anak baru lah, masih bau kencur lah. Tapi ya, wajar sih. Ini namanya juga siklus kok. Siklus itu pasti akan berputar seiring dengan berjalannya waktu. Kalau saat ini kita masih berstatus sebagai junior, beberapa tahun lagi kita juga bakal ngerasain posisi senior kok😀

Nah, hal seperti ini yang belum gue temukan di UNIKOM ini. Saat ini, gue kuliah di jurusan Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain. Selama gue kuliah di DKV, belum ada satupun senior yang gue kenal. Kalau boleh dibilang sih, antara senior dan junior itu susah ngebedainnya. Soalnya dandanan mereka hampir sama. Ya pake kaos ini lah, pake sepatu converse itu lah. Pokoknya style anak-anak DKV itu hampir sama. Jadi gue agak susah ngebedain mana yang senior dan mana yang junior. Mungkin ini juga gara-gara OSPEK gue yang gak neko-neko kayak di FKH dulu, makanya antara junior dan senior itu gak begitu saling kenal. Lagian, di kampus gue yang sekarang ini mahasiswanya lumayan banyak. Kalau di FKH dulu, cuma ada satu jurusan dalam satu Fakultas, jadi gue bergaul cuma sama anak-anak FKH aja. Tapi kalau sekarang, dalam Fakultas gue ada dua jurusan, yaitu DKV sama Desain Interior (DI). Jumlah mahasiswanya juga mencapai 400 orang (yang angkatan 2012). Belum lagi angkata-angkatan sebelumnya. Kebayang, berapa jumlah totalnya? Jadi, maklum aja, kalau gue belum kenal sama seniornya, wong mahasiswanya aja bejibun😮

 

3. Selama gue kuliah di DKV, hati dan pikiran gue udah agak mulai tenang (meskipun terkadang gue masih dibayang-bayangi oleh calon profesi gue sebagai seorang dokter hewan). Gue gak perlu lagi mikirin nama latin tulang inilah, otot itu lah. Gue gak perlu lagi bawa-bawa kalkulator saat mata kuliah biostatistika yang bikin gue jadi menua sepuluh tahun lebih awal. Gue gak perlu lagi bawa-bawa preparat saat masa-masa praktikum. Gue gak perlu lagi menghapal isi modul yang tebalnya udah kayak diarinya Om Einstein. Pokoknya, selama di DKV, gue terbebas dari hal-hal menakutkan seperti itu.

Selama di DKV, yang gue butuhin cuma satu. Insting dan Feeling. Gue bisa bebas berkreasi sejauh yang gue mampu. Gue bisa meramu berbagai macam warna sesuai suasana hati gue saat itu. Gue bisa menggambar apa saja tergantung mood. Gue gak perlu mengikuti rules yang kaku. Gue gak perlu lagi terikat dengan aturan-aturan eksak yang begitu pasti. Yang gue lakukan saat ini adalah, break the rules! Gue cuma perlu mengikuti kata hati gue, yang memang menginginkan hal ini sejak dulu. Kalau ada yang bertanya kenapa gue meninggalkan FKH dan beralih ke dunia desain, gue bakalan menjawab, ‘karena ini adalah kata hati gue’. Gue akui, gue ini orangnya tergantung mood. Gue amat gampang bosan. Makanya, jangan heran kalau selama satu bulan penuh gue bisa betah nagkring di depan laptop buat online. Tapi beberapa minggu kemudian gue ngerasa bosan, dan beralih nonton DVD selama beberapa minggu. Beberapa minggu kemudian, gue ngerasa bosan lagi, dan beralih ke atifitas lain, misalnya membaca novel. Baru beberapa halaman yang gue baca, gue udah bosan lagi, terus beralih buat main games. Pas gue kalah terus waktu main games, gue ngerasa bosan banget, dan beralih lagi nangkring di depan laptop. Begitulah siklus mood gue. Gampang bosan. Gue gak suka kalau harus menjalani kegiatan rutin dalam waktu yang cukup lama. Gue butuh suasana yang berganti-ganti. Dan, hal ini yang bisa gue dapatkan di dunia gue yang saat ini. Kalau gue jadi dokter, otomatis sisa hidup gue akan gue jalani dengan merawat para pasien. Meskipun pasiennya ganti-ganti, tapi kan suasananya cenderung sama. Berbeda dengan desain. Kalau gue bosan dengan desain grafis, maka gue akan beralih ke desain manual. Kalau gue bosan secara manual, gue akan beralih ke cinema. Kalau gue bosan lagi, gue akan pindah ke fotografi😀 Intinya, gak ngebosenin!

 

4. Waktu awal- awal kuliah di FKH, gue sering banget mendengar ‘motivasi’ dari para dokter hewan yang udah senior. Kebanyakan sih, pada bilang kalau gaji seorang dokter hewan itu tergolong WOW. Apalagi kalau di luar negeri, posisi seorang Veterinarian (dokter hewan) itu setara dengan posisi seorang lawyer, dan pendapatan mereka bisa mencapai ribuan dollar per tahun. Jadinya, waktu itu cara pandang gue udah agak bergeser sedikit. Gue jadi ‘teriming-imingi’ sama gaji yang besar. Gue jadi berorientasi pada materi, bukan profesinya. Ngaku deh, siapa sih yang gak mau digaji gede? Monyet bunting juga mau kalle.

Tapi, selama kuliah di DKV, gue belum menemukan adanya dosen yang berkata seperti itu. Selama perkuliahan, dosen gue gak pernah menyinggung-nyinggung soal pendapatan seorang designer. Dosen gue gak pernah ‘mengiming-imingi’ gaji yang besar. “Nanti kalau udah jadi designer, pas ada job iklan dari klien, kalian bakal dibayar sekian loh”, “Designer itu bayarannya ribuan dollar loh”, gak, dosen gue gak pernah ngomong begitu. Paling dosen gue cuma nakut-nakutin soal tender job. Kalau telat dikit aja, proyek kita bisa diambil sama orang lain. Gue jadi bertanya-tanya, kalau udah jadi designer nanti, penghasilan gue berapa, ya? Jangan-jangan gue lebih miskin dibanding temen-temen gue yang jadi dokter. Tapi, balik lagi. Ini semua bersumber dari hati. Kalau hati senang, berapapun pendapatannya, pasti ikhlas kok😀

 

5. Disini gak ada sistem militer, bro🙂 Maksud gue, waktu di Aceh dulu ada beberapa mata kuliah yang ketatnya melebihi celana personil the changcuters. Bisa dibilang sih, mata kuliah itu menerapkan sistem ‘semi militer’. Kalau dapet nilai jelek, bakal dibentak dan dapat hukuman. Belum lagi ‘penyiksaan’ secara psikologis dari sang dosen dan si asisten. Kata-katanya pedes banget.  Jujur, gue gak suka sama sistem kaya gitu. Gue gak suka dibentak-bentak gara-gara kita mempunyai kelemahan dalam beberapa hal. Karena menurut gue manusia itu mempunyai kapasitas tersendiri. Adakalanya seseorang itu ‘lemah’ pada suatu bidang, namun ‘jenius’ pada bidang lainnya. Masing-masing kita mempunyai interval kemampuan tersendiri. Ini udah takdir Tuhan, bro. Dan, menurut gue, gak selamanya sistem ‘semi militer’ itu membuahkan hasil yang positif. Adakalanya si mahasiswa merasa shock dan trauma akan mata kuliah tersebut. Kalau ilmu itu bisa disampaikan secara lemah lembut, kenapa harus menggunakan cara ‘semi militer’? Toh, dengan cara yang lebih ‘lunak’ si ilmu itu akan lebih cepat diserap🙂

Untungnya, selama di DKV ini gue gak mendapatkan ‘penyiksaan’ secara psikologis. Bukan berarti mata kuliahnya gak ketat loh. Pelajaran gue juga tergolong berat, soalnya membutuhkan feel dan insting yang tinggi. Sementara, feel itu datangnya dari Tuhan, dan gak setiap saat bisa muncul. Kalau pas ada job (tugas dari dosen) itu feel gak nongol-nongol, ya terima aja, karya kita bakalan dihina sama dosen. Dan, bukan gak mungkin kita bakal dapetin nilai D😦 Tapi, nilai plus nya ya itu tadi. Batin gue gak tersiksa sama kata-kata pedas dan sistem ‘semi militer’😀

 

 

Ah, udahan dulu ya. Mata gue udah berkunang-kunang nih, soalnya ini udah jam 2 pagi TToTT Sebenernya masih banyak perbedaan yang gue rasakan. Kapan-kapan deh, gue ceritan lagi😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s