Saat Iman dan Keyakinan Tak Bisa Dipaksakan

Gue kepikiran buat nulis tentang hal ini gara-gara gue keinget sama salah seorang temen SMA gue dulu. Bukan bermaksud ghibah dan bergunjing, loh. Gue cuma teringat aja sama kata-kata dari temen gue itu.

Boleh dibilang temen gue itu dulunya anak yang pendiam. Gak banyak omong, dan menurut gue dia anak yang baik. Mungkin gara-gara waktu itu dia merupakan anak pindahan dari kota lain, makanya dia masih dalam tahap penyesuaian diri. Tapi, waktu udah naik kelas, dia mulai berubah. Temen gue itu mulai cenderung ‘radikal’ terhadap hal-hal yang bertentangan dengan ‘ideologi’-nya sendiri. Gue juga gak tau kenapa bisa begitu. Tapi yang jelas, dia udah mulai frontal (dalam hal agama).

Jujur sih, gue salut sama temen gue itu. Sejak kenaikan kelas, dia jadi rajin ibadah. Dia juga rajin belajar tentang ilmu-ilmu agama. Gue aja yang emang basic nya dari keluarga religius (bisa dibilang begitu, soalnya nyokap gue seorang guru agama) belum mumpuni dalam hal ilmu agama, sedangkan temen gue itu udah jauh banget pemahamannya. Kalo ga salah, dia juga mempelajari beberapa kitab dari ulama-ulama terdahulu. Salut deh, gue😀

Tapi, dibalik kekaguman gue sama dia, ada satu hal yang gue rasa agak mengganjal. Gue gak suka sama orang yang radikal. Karena menurut gue, soal agama dan kepercayaan itu adalah hal yang sangat sensitif. Gak bisa dipaksakan. Yang menurut kita benar, belum tentu bisa diterima oleh orang lain. Soalnya setiap orang memiliki pemahaman yang berbeda-beda. Beda kepala beda penafsiran, bro🙂 Bukankah satu ayat dalam Al-Quran aja bisa terdapat beberapa penafsiran? Meskipun pada akhirnya penafsiran-penafsiran tersebut mengarah pada satu hal yang cenderung sama.

Gue pernah denger suatu kalimat yang berbunyi “Agama itu adalah nasehat”. Iya, agama itu nasehat. Dan, selayaknya sebuah nasehat, hendaknya ajaran agama itu disampaikan dengan cara yang baik, lemah lembut, dengan tutur kata yang sopan, dan yang terpenting tidak bersifat memaksa. Segala sesuatu yang bersifat memaksa itu pasti ujung-ujungnya gak bakalan baik. Soalnya, orang tersebut pasti gak bakalan ikhlas, karena dia melakukannya dalam keadaan terpaksa. Begitu juga dalam hal kepercayaan, bro. Agama dan kepercayaan itu gak bisa dipaksakan. Soalnya, menurut gue, urusan kepercayaan itu merupakan urusan individu bersangkutan dengan Tuhannya masing-masing. Itu udah masuk ranah Hablumminallah, bro. Kita gak bisa ikut campur.

Adakalanya, sebagai seorang Hamba, kita ingin berjihad semampu kita. Misalnya gue. Gue juga pengen berjihad di jalan Allah, tapi gue gak punya kemampuan untuk ikut berperang di jalur Gaza sana. Yang bisa gue lakukan mungkin hanya nasehat menasehati antar sesama. Iya, hanya sebatas nasehat menasehati. Karena gue gak punya kapasitas untuk menggurui seseorang. Gue gak punya hak untuk memaksa seseorang untuk Sholat tepat waktu. Gue gak punya otoritas untuk melarang seseorang untuk berhenti mengakses situs Facebook karena situs tersebut bisa membuat kita lalai dari kewajiban kita sebagai seorang muslim. Gue juga gak punya wewenang untuk berkata “eh, elo kok begitu sih, dalam agama kita gak boleh ini bla..bla..bla..”

KENAPA??

Karena gue cuma orang lain bagi mereka. Gue bukan siapa-siapa. Posisi gue hanya sebatas saudara seiman, saudara sebangsa, saudara sesuku, gak lebih dari itu. Kapasitas gue hanya bisa untuk mengingatkan, bukan memaksa.

Kenapa gue bisa bilang begitu?

Karena ini pengalaman pribadi gue, bro🙂 Gue pernah diceramahi habis-habisan oleh salah seorang temen gue gara-gara gue terlalu excited sama hal-hal yang berbau Korea (terutama Super Junior). Dan, menurut gue itu bukan hanya sekadar ceramah, melainkan sebuah ‘tuduhan’ yang dijatuhkan pada diri gue. Itu bukan hanya sebuah nasehat, bro. Itu udah menjurus pada bentuk ‘menggurui’. Seakan-akan gue udah lalai akan kewajiban gue sebagai seorang muslim, gara-gara gue begitu terlena sama Korea. Bahkan, temen gue itu sampai membeberkan beberapa ayat dalam Al-Quran, Hadits, dan beberapa fatwa ulama ternama.

Jujur, waktu itu gue rada sakit hati sama bentuk ‘teguran’ dari temen gue itu. Kenapa? Karena gue gak bodoh-bodoh amat soal agama. Sedikit banyaknya gue juga paham tentang Islam. Gue juga masih bisa membedakan mana yang haq dan mana yang bathil. Sekagum-kagumnya gue sama Korea, gue masih sadar sesadar-sadarnya bahwa gue ini Muslim. Sampai saat ini, gue belum terlalai dari kewajiban gue sebagai seorang Muslim. Insyaallah, Korea gak membuat gue lupa akan identitas gue sebagai seorang Muslim. Jadi, apa yang salah? Apa pantas gue di-judges seperti itu?

Mungkin, hal ini juga dirasakan oleh orang-orang diluar sana. Saat kita di cap terlena akan suatu hal, disaat itulah kita mulai sakit hati. Kenapa? Karena agama dan kepercayaan itu gak bisa dipaksakan, bro🙂 Oke, kalau maksud kita itu baik, pengen menyiarkan agama, pengen orang-orang lebih mengerti tentang Islam. Tapi, harus diperhatikan juga, bro, cara penyampaiannya. Jangan terkesan menggurui apalagi menyalahkan individu yang bersangkutan. Siapa juga sih, yang mau digurui?? (apalagi kalau orang tersebut bukanlah guru kita). Alangkah baiknya kalau dalam menyampaikan ajaran agama itu dengan tutur kata yang baik. Jadinya orang yang kita ‘gurui’ tersebut bisa menerima apa yang kita sampaikan🙂

Oiya, gue juga kurang sepaham sama orang-orang yang terlalu radikal. Yang terlalu kaku. Misalnya, “eh, jangan pakai facebook dong. itu kan buatan yahudi” atau, “eh, jangan liat video-video penyanyi korea dong, kebanyakan ada simbolnya iluminati”. Jujur, gue setuju sama beberapa point dari kalimat itu. Gue mengakui, kalau Facebook itu emang buatannya keturunan Yahudi (si Marck Zurck– *gue gak bisa spelling namanya ^^v muehehe). Gue juga mengakui, kalau beberapa video klip milik boyband atau penyanyi Korea itu ada yang disisipi sama simbol iluminati. Tapi, kenapa kita tidak boleh menggunakan atau melihat hal-hal itu? Emang pas habis nonton MV KPOP yang ada simbol iluminatinya, kita langsung jadi penyembah setan, gitu? Enggak, kan? Hellooo~ kita ini gak bodoh-bodoh amat, loh. Kita juga masih punya logika dan iman. Kita masih tau mana rules yang semestinya. Dan, kalau gue pribadi sih, menganggap kedua hal tersebut (Facebook dan MV KPOP) hanya sebatas hiburan semata. Gak lebih dari itu. Tapi gue juga tetep waspada, bro🙂 Soalnya perlahan-lahan itu simbol iluminati makin bertebaran di sekitar kita. Gue sadar, kok. Kalau simbol-simbol itu menyesatkan kita para kau believers. Tapi bukan berarti kita harus ‘mencekalnya’. Cukup bentengi aja diri kita dengan iman yang kuat, sehingga kita bisa memfilter hal-hal tersebut dengan baik🙂

Well, balik lagi. Agama dan kepercayaan itu gak bisa dipaksakan. Kalo menurut gue sih, biarin aja mereka dengan kepercayaannya masing-masing. Toh itu merupakan urusan mereka pribadi dengan Tuhannya. Kalau niat kita emang mau syiar agama, sampaikan dengan baik, jangan terkesan memaksa🙂 Soalnya, gak semua orang itu awam akan ilmu agama. Gak semua orang itu bodoh🙂 Mereka mengikuti/mengagumi suatu hal tertentu bukan berarti mereka telah melalaikan kewajiban mereka terhadap Tuhannya, loh🙂 Lakum Dinukum Waliyadin, Bagimu Agamamu, Bagiku Agamaku🙂 Cukup inget itu aja, bro😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s