Who Am I

Rasanya amaze banget bisa nongol lagi di blog ini. Yah, meskipun disana-sini gue temukan tumpukan jerami dan sarang laba-laba. Terakhir kali gue nulis di blog ini pas kelas 5 SD, waktu harga BBM masih jauh lebih murah dibanding bulu matanya syahrini. Sekarang gue masih kelas 5 SD juga sih muehehe. Ampuni hamba Ya Allah….

Well, bagi yang ingin mengenal gue lebih jauh, postingan kali ini akan sedikit membantu. Iya, kali aja kalian butuh referensi buat bikin skripsi #eh

Berikut ini adalah ciri-ciri gue. Termasuk sifat-sifat gue yang absurd. Semoga kalian terhindar dari siksa api neraka setelah membaca postingan kali ini. Mari awali dengan membaca Basmallah….

1. I’m a Girl, not a Boy

im a girl

Buat yang masih meragukan jati diri gue, kayanya gambar diatas udah cukup jadi saksi kalau gue ini cewek tulen (bukan KW, apalagi replika). Gue ini anak perempuan satu-satunya, dan, bungsu. Saudara gue cowok semua, makanya, kelakuan gue gak jauh beda sama kuli panggul di pasar. Mungkin gara-gara dari kecil gue mainnya sama anak-anak cowok. Ya, mulai dari main rumah-rumahan, masak-masakan, bakar-bakaran (terakhir kali gue main, rumah tetangga udah jadi abu semua). Oiya, gara-gara kelakuan gue yang ‘semi absurd’ ini, temen gue ada yang bilang “elo itu cewek atau bukan sih?”. Dan, reaksi gue cuma…ngunyah paku.

2. Gadih Minang (Gadis Minang)

minang

Sekadar informasi aja nih, gue ini keturunan Minang kualitas super. Alias gue ini Minang tulen, bukan oplosan. Muehehe. Nyokap-Bokap gue asli Minang. Begitu juga dengan saudara-saudara gue yang lain. Tapi, sebagian besar dari keluarga gue (oom, tante, sama sepupu-sepupu gue) berdomisili diluar kota. Cuma nyokap gue aja yang menetap di kampung halaman. Mungkin gara-gara nyokap gue yang paling tua kali ya (entah apa korelasinya).

3. Phobia Tikus

Asal kalian tau, pas nulis bagian ini, gue musti sikat gigi terlebih dahulu, dan membaca Al-Fathihah sebanyak 7 kali.

tikus

Gue phobia banget sama tikus, atau yang lebih dikenal dengan istilah Musophobia/Muriphobia. Ga tau kenapa, setiap ngeliat tikus bawaannya geli sendiri. Dan gue yakin, itu tikus juga geli ngeliat gue.

Gak hanya geli ngeliat tikus. Gue juga phobia sama segala hal tentang tikus. Mulai dari rambutnya (yakali tikus punya rambut), suaranya, cara jalannya, sampai jejak kakinya pun bisa bikin gue phobia setengah mati. Pernah suatu hari, gue ngeliat ada tikus di depan kosan gue. Itu tikus gede banget, dan gue yakin, dia pasti rajanya tikus. Besoknya pas mau berangkat kuliah, gue gak berani melewati jalan yang udah dilewati sama tikus yang kemaren. Gue phobia buat menginjak bekas/jejak kakinya tikus itu. Dan kondisi ini berlangsung selama kurang lebih 1 minggu. Iya, selama satu minggu gue masih terbayang akan tatapan najis dari tikus tersebut. Gue curiga. Jangan-jangan itu tikus ada feeling sama gue -_____-

4. Korean Freak

korea-1366x768

Sebelumnya gue mau menegaskan bahwa, GUE PRIBUMI. Sampai kapanpun gue akan menyandang status ini. Jadi gak ada alasan bagi gue untuk berpaling dari tanah air ini. Karena gue cinta Indonesia. Kalau ibaratkan pasangan, bagi gue Korea itu hanyalah sebatas pacar, gak ada suatu ikatan yang melegalkan hubungan kami. Lain halnya dengan Indonesia. Bagi gue Indonesia udah kaya suami/pasangan hidup, yang butuh pengikraran dihadapan Tuhan, ada hukum yang melegalkan, dan ada hukum yang memisahkan. Ya, kira-kira analoginya seperti itu…

Gue akui, gue emang penyuka segala sesuatu yang berhubungan dengan Korea. Mulai dari bahasanya, drama, makanan (meskipun gue baru ngerasain yang namanya ramen), sampai sistem pendidikan dan budaya mereka. Eits, tunggu dulu. Bukan berarti gue apatis terhadap budaya gue sendiri (sebagai pribumi). Tapi yang membuat gue kagum dari Korea adalah, kecerdasan mereka dalam mengemas budaya. Udah beberapa dinasti berlalu, tapi peninggalan kerajaan mereka masih awet sampai sekarang. Bahkan, beberapa dari peninggalan tersebut dikemas sedemikian rupa dan dijadikan sebagai objek wisata. Salah satu trik cerdas dari mereka yang bikin gue salut adalah, mereka berhasil mempopulerkan budayanya melalui drama dan film. Gue rasa kita juga bisa melakukan hal serupa. Bayangin aja, kalau suatu saat nanti orang-orang diluar sana jadi makin familiar sama wayang kulit. Intinya sih, kalau menurut gue, orang-orang Indonesia kurang mempromosikan budayanya. Orang-orang pribumi itu gak kalah kreatif dibanding orang Korea sana. Warisan budaya kita jauh lebih banyak dan mengagumkan dibanding mereka. Tapi kenapa kita bisa kalah promosi? Mungkin, ini baru mungkin nih ya, mungkin aja salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya dukungan dari pemerintah. Karena setahu gue, pemerintah Korea sengaja mengalokasikan dana untuk promosi budaya mereka. Salah satu bentuk promosi itu ya dari drama sama film. Bahkan, pemerintah Korea juga mendukung adanya Hallyu/Korean wave. Makanya, jangan heran, banyak orang yang semakin familiar sama budaya Korea karena sering menonton video-video KPOP yang notabene ‘disubsidi’ sama pemerintah mereka. Coba bayangkan, kalau pemeritah kita juga melakukan hal yang sama…

Well, selain freak sama Korea, ada satu fase dimana gue gak cuma sekadar freak. Alias, gue pingin melanjutkan pendidikan di Korea. Entahlah, gue juga bingung sama susunan kalimat ini. Tapi yang jelas, jauh dari lubuk hati gue yang paling dalam, suatu saat nanti, gue harus bisa melanjutkan sekolah di Korea…

korea

Yang membuat gue takjub dari sistem pendidikan disana (salah satu faktor yang menyebabkan gue pingin sekolah di Korea) adalah, semangat belajar mereka yang sangat tinggi. Setahu gue, rata-rata pelajar di Korea menghabiskan waktu 13-15 jam/per hari untuk belajar di sekolah. Saat ujian tiba, mereka akan menghabiskan waktu lebih banyak untuk belajar (dan sedikit istirahat). Makanya, jangan heran kalau ada pelajar yang baru pulang sekolah saat jam 11 malam.

Dan, yang bikin gue amaze, pendidikan di Korea itu ‘disokong’ oleh perusahaan-perusahaan besar dinegeri itu. Pernah nonton serial drama Boys Before Flower? Drama tersebut menggambarkan keadaan sekolah dengan fasilitas super lengkap. Nah, kira-kira seperti itulah keadaan sekolah-sekolah di Korea. Gue pernah baca, untuk beberapa sekolah unggulan di Korea, semua fasilitasnya didanai oleh perusahaan-perusahaan besar seperti Samsung, LG, Hyundai, dll. Makanya, gedung-gedung sekolah di Korea udah diengkapi dengan teknologi super canggih. Semoga Indonesia juga bisa menerapkan hal yang sama. Semoga perusahaan-perusahaan besar di Indonesia juga mau mendanai dan memfasilitasi pendidikan di negeri ini…

5. Bukan vegetarian

sayur

Gue ini ayam lovers. Iya, gue suka banget makan ayam. Dari kecil gue udah dicekokin paha ayam sama nyokap. Makanya, mulut gue mulai ditumbuhi paruh seiring dengan berjalannya waktu.

Sebagai ayam lovers yang baik, gue menghindari memakan olahan makanan yang berbahan dasar sayur. Kecuali sayur kangkung sama bayam. Untuk sayur-sayur lainnya, terutama brokoli, sawi, tauge, beserta kawan-kawan, sebisa mungkin gue menghindari kontak dengan mereka. Gue gak suka makan sawi karena menurut gue sawi itu pahit banget. Dan gue gak suka makan brokoli karena brokoli itu alot. Gak kayak paha ayam yang kenyal-kenyal bohai #eh

Intinya, gue gak suka makan sayur…

6. Susah nahan ketawa

laugh

Gue kalau udah ketawa bakalan susah berhenti. Soalnya kejadian lucu yang membuat gue ketawa itu bakalan terus diputar dalam otak gue. Rewind-review, rewind-review, rewind-review. Begitu terus, kejadian itu terus diputar berulang-ulang di otak gue. Dan, hal itulah yang membuat gue jadi susah berhenti ketawa.

7. Moody

mood

Gue ini tipikal orang yang moody-an. Gue bakalan bertindak sesuai mood gue saat itu. Dan, percaya atau tidak, gue mempunyai suatu siklus absurd yaang terus berulang-ulang.

Begini contohnya :

Dalam setahun, gue akan melakukan beberapa hal yang gue suka. Dua bulan pertama, gue bakal menghabiskan waktu dengan menonton drama Korea. Selama nonton drama Korea, gue jadi jarang online, nonton tv, dan…mandi. Dua bulan berikutnya, gue bakal lebih sering online dan nongkrong di depan laptop. Selama online, gue jadi jarang nonton drama, nonton tv, dan…mandi. Begitu pula dengan bulan-bulan berikutnya. Gue bakal beraktifitas sesuai dengan mood gue pada saat itu. Makanya, beberapa bulan belakangan gue jadi jarang nulis di blog ini. Karena gue lagi gak mood buat nulis. Gue lagi mood nonton drama muehehe.

8. Nyaris jadi Dokter Hewan

dokter

Meskipun otak gue absurd, tapi gue ini mantan calon Dokter Hewan loh mihihihi. Gue nyaris jadi dokter hewan, karena dulunya gue pernah kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh. Tapi seiring dengan berjalannya waktu, gue mulai sadar, kalau jadi dokter itu bukanlah passion gue. Jadi dokter itu cuma semata-mata buat nyenengin hati nyokap-bokap gue. Makanya, gue akhirnya memutuskan untuk break, dan mundur dari dunia kedokteran hewan. Dan, sekarang, gue beralih ke dunia design, yang menurut gue, passion gue ada disini :))

9. Bukan pembersih yang baik

baju

Secara spesies udah jelas, gue bukan ikan sapu-sapu. Jadi wajar aja kalau gue gak bakat dalam hal bersih-bersih. Pernah waktu itu gue menumpuk pakaian yang habis dicuci. Pakaian-pakaian itu gue tumpuk gitu aja di atas kasur. Tanpa dilipat, apalagi disetrika. Terus, abang gue ngeliat, dan langsung ngebakar rumah. Eh, enggak ding. Abang gue cuma ngomong begini :

Abang : Dek, itu baju-baju kamu dilipet kenapa sih, disetrika biar rapi, jangan ditumpuk-tumpuk kayak gitu.

Gue : Buat apa dilipet sih bang, toh ujung-ujungnya bakal dipake juga. Tujuan menyetrika pakaian kan biar rapi, lah, pas bajunya kita pake, bakalan kusut lagi, kan? Jadi buat apa disetrika kalau ujung-ujungnya tetep kusut.

Abang gue gak bisa ngomong apa-apa lagi. Beliau cuma lari-lari gak jelas sambil mengibar-ngibarkan boxer bergambar spongebob yang beliau pakai. Hingga akhirnya, abang gue mencari adik angkat yang baru…

10. Penyayang kera

Chicka

Gue udah pernah cerita, kan, kalau dulu keluarga gue pernah miara seekor kera bohai bernama Chika. Bagi yang belum tahu siapa itu Chika, silakan klik disini.

Layaknya seekor saudara, gue sayang banget sama Chika. Dia udah gue anggap kayak adik sendiri. Tapi resikonya, abang gue gak mau lagi mengakui gue sebagai saudara. Tragis emang. Meskipun begitu, rasa sayang gue sama Chika gak bakal berkurang sedikit pun. Begitu pula sebaliknya. Chika juga sayang banget sama gue. Buktinya, setiap dia boker, Chika pasti nunjukin hasilnya ke gue. Meskipun pada akhirnya gue harus diopname selama setahun gara-gara radang selaput otak.

Chika itu kera yang pintar. Dia udah bisa membedakan yang mana gue, yang mana monyet. Makanya gue sayang banget sama Chika, soalnya dia gak pernah PHPin gue. Tapi sayangnya, gue sama Chika udah lama break. Kita udah gak serumah lagi, soalnya Chika udah nemuin majikan yang baru. Beberapa tahun yang lalu, saat bokap memutuskan untuk merenovasi rumah, disaat itu pula kisah gue dan Chika harus berakhir. Untuk kisah tragis selengkapnya, klik aja link yang di atas…

 

Well, segitu dulu postingan gue kali ini. Udah malam banget nih. Bentar lagi di Zimbabwe udah mau sholat subuh. Semoga postingan kali ini menghibur ya :)) Terus support gue. Semoga gue bisa menjadi penulis yang baik. Dan. semoga gue jadi rajin update di blog ini :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s