Aku Bangga, Aku Indonesia

“Padang? Dimana, sih? Masih daerah Jawa?”

“Palangkaraya? Di Sumatera, ya?”

Itu hanyalah sepenggal dialog antara gue sama temen-temen di kampus. Perasaan gue waktu itu campur aduk. Antara sedih, malu, bahkan ingin menertawakan kebodohan temen-temen gue itu. Tapi perasaan yang paling mendominasi adalah, MALU. Iya, gue malu. Gue merasa malu atas ketidaktahuan (atau malah kebodohan?) temen-temen gue itu.

Masih mau mengaku sebagai orang Indonesia? Masih merasa nasionalis? (yang bahkan letak geografis Padang dan Palangkaraya saja kalian gak tahu).

Gue, sebagai perwakilan anak pribumi dari luar Pulau Jawa merasa tersakiti (secara tidak langsung). Kenapa? Kami, yang berada diluar Pulau Jawa merasa seperti makhluk bayangan, yang keberadaannya tidak diketahui dengan pasti.

Well, di kelas gue ada beberapa orang mahasiswa yang berasal dari luar Pulau Jawa (salah satunya gue, yang berasal dari Padang). Buat yang belum tahu Padang itu dimana, silakan googling sendiri. Terus, ada lagi beberapa temen gue yang berasal dari Jambi, Medan, Palangkaraya, dan Ternate. Nasib mereka hampir sama kayak gue. Gak ada yang tahu persis dari Provinsi mana mereka berasal.

Sebenernya ini masalah sepele. Awalnya gue berbaik sangka kepada mereka (orang-orang yang awam peta geografis Indonesia). Mungkin mereka ketiduran saat pelajaran IPS sewaktu SD. Atau, bisa jadi otak mereka terlalu eksak (mungkin) sehigga mereka akan mengalami kebutaan saat melihat peta.

Tapi setelah gue pikir-pikir, mungkin ada yang salah dengan ‘wawasan’ mereka. Letak geografis Indonesia gak hanya berurusan dengan peta, tapi lebih ke wawasan nusantara. Atau, jangan-jangan peta yang mereka punya cuma mencantumkan DKI Jakarta (sebagai ibukota negara) dan kota-kota besar disekitar Jakarta? Lalu, bagaimana dengan nasib kami yang berada diluar lingkaran kejayaan Jakarta? Jadi makhluk bayangan lagi?

Oiya, gak cuma itu yang bikin gue dan temen-temen overseas (luar Pulau Jawa-red) merasa berkecil hati. Seringkali gue dan temen-temen diberondong beberapa pertanyaan yang menurut gue terlalu mendiskreditkan kami. Contohnya;

“Kenapa milih kuliah di Bandung? Emang di daerah kalian gak ada sekolahan, ya?”

“Emang di daerah kalian gak ada jurusan ini, ya?”

Oke, gue akui. Gue emang berasal dari kampung. Gue dilahirkan di tanah Sumatera. Gue merantau hingga Pulau Jawa karena nasihat dari nenek moyang gue, dan seorang imam yang gue kagumi, Imam Syafii.

Merantaulah, dan kau akan menemukan pengganti dari kerabat dan teman – nasihat Imam Syafii, yang membuat gue berani untuk merantau.

Mungkin gue, dan juga temen-temen lainnya yang berasal dari luar Pulau Jawa memiliki tujuan yang sama. Kami merantau bukan karena daerah kami tertinggal, atau di daerah kami gak punya sekolahan. Kami (khususnya gue pribadi) pergi merantau untuk memperbaiki kualitas kehidupan diri gue sendiri.

Ada beberapa diantara kami yang memberanikan diri untuk merantau, meninggalkan orang tua beserta keluarga, meninggalkan kampung halaman, meninggalkan tanah kelahiran, meninggalkan sanak famili demi sebuah pengalaman yang akan kami kenang hingga akhir hayat nanti. Ada beberapa diantara kami yang rela meninggalkan sejumlah Universitas lokal demi hijrah ke tanah perantauan. Bukan, kami merantau hingga sejauh ini bukan karena Universitas di daerah kami berkualitas rendah. Kami merantau bukan karena di daerah kami kurang fasilitas. Kami merantau karena kami ingin beberapa langkah lebih maju dibanding orang-orang yang memilih untuk diam. Dan, gue merantau untuk mencari pengganti dari kerabat dan teman.

Tapi miris juga, sih. Saat orang-orang gak mengenali dari daerah mana kita berasal. Mungkin dalam benak mereka selalu diputar lagu Dari SABANG Sampai MERAUKE. Jadinya wilayah Indonesia yang mereka tahu cuma ada tiga. Jakarta (ofcourse, ibukota negara gitu loh), Sabang, dan Merauke. Tapi, coba tanya dimana Sabang? Dimana Merake? Mungkin jawaban mereka (orang-orang awam peta geografis Indonesia) cuma satu, DI UJUNG INDONESIA. Dan, memang benar. Secara garis besar posisi Sabang dan Merauke memang di ujung Indonesia. Tapi gak banyak yang tahu, kalau Sabang itu ada di Pulau Weh, sementara Merauke ada di Papua.

Heum. Kadang-kadang gue juga merasa malu sama ‘kebanyakan’ masyarakat saat ini. Banyak ngeluhnya, ketimbang usaha dan bersyukur.

Contoh sederhananya saat kenaikan harga BBM. Ribuan orang (terutama di Pulau Jawa) pada ‘berteriak kesakitan’. Banyak yang mengeluh pendapatan mereka akan berkurang, sementara harga kebutuhan pokok melonjak hingga singgasana bulan (sumpah apaini). Ribuan orang berbondong-bondong untuk berdemo, dan menghujat pemerintah. Mencaci maki si pembuat kebijakan, tanpa berpikir terlebih dahulu “Apa iya, harga BBM di Indonesia terlalu mahal?”

Well, kalau kita mau berpikir sejenak, coba lihat saudara-saudara kita di tanah Papua sana. Tiap hari, mereka harus membeli BBM seharga Rp.20000/liter (bahkan bisa jauh lebih mahal). Itu saat harga BBM masih tergolong normal. Lah, kalau harga BBM udah naik? Bisa jadi mereka musti jual rumah buat beli BBM. Tapi mereka gak pernah ngeluh. Karena kehidupan mereka jarang diekspos (makhluk bayangan).

Saat orang-orang di pulau padat penghuni ini mengeluh karena transportasi yang jauh dari kata memuaskan, saudara-saudara kami di pedalaman Sumatera sana tengah berjalan kaki menembus hutan dengan jarak puluhan kilometer, demi sesuap nasi. Mereka gak pernah ngeluh, meskipun mereka harus menyusuri hutan dengan bertelanjang kaki. Mereka gak pernah ngeluh, meskipun mereka harus mengandalkan transportasi pribadi (kaki sendiri) untuk mencari nafkah. Kenapa? Karena kehidupan mereka jarang diekspos. Mereka hidup diluar lingkaran kejayaan ibukota.

Saat orang-orang di pulau padat penghuni ini menuntut banyak hal dan ini-itu kepada pemerintah, saudara-saudara kita di utara Kalimantan sana cuma minta satu hal, PERTAHANKAN KAMI, AGAR KAMI TIDAK MENGKHIANATI NEGERI INI. Kenapa? Karena godaan di wilayah perbatasan terlalu besar. Saat mereka kekurangan kasih sayang dari pemerintah sendiri, maka mereka akan mencari sumber kasih sayang yang lain. Makanya, jangan heran kalau mereka lebih familiar dengan Ringgit Malaysia ketimbang Rupiah. Jadi, ini salah siapa? Salah pemerintah yang tidak adil dalam membagi kasih sayang, atau salah saudara-saudara kita di perbatasan yang tidak setia? Jawaban gue, Ini Salah Kita Bersama.

Gak usah terlalu muluk-muluk deh. Kalau emang ngerasa sebagai orang Indonesia, tunjukkan kalau kalian emang Indonesia. Minimal, kalian tau deh, posisi geografis Indonesia. Mulai deh, upgrade nama-nama provinsi yang kalian hapal. Indonesia itu gak cuma Jawa dan sekitarnya, tapi dari ujung Sumatera hingga timur Papua. Indonesia itu gak cuma Jakarta, bla bla bla atau Bali. Kita masih punya Bunaken, Raja Ampat, Belitung, Mentawai (gue kasih tau nih ya, Mentawai itu termasuk dalam Provinsi Sumatera Barat). Kita juga punya Tarakan si penghasil minyak, Toraja, Palangkaraya, Jambi, Banjarmasin, Singkawang, dan belasan ribu pulau lainnya.

Kalau mau Indonesia maju, mulailah dari diri sendiri. Ayo, kita mulai dari hal terkecil. Misalnya, budayakan membuang sampah pada TONG-nya. Kalau belum menemukan tempat sampah terdekat, pegang dulu, sampai ada tong sampah berikutnya (ini malah kayak nunggu bus). Kalau memang gak ada tong sampah, yah, apa boleh buat, masukkan sampahnya kedalam tas, dan buanglah saat kita udah sampai di rumah. Emang kedengerannya agak jorok, tapi trust me, ini yang sering gue lakukan. Makanya jangan heran, saat kalian membongkar tas gue, isinya 65% dipenuhi dengan sampah kering. Soalnya gue punya kebiasaan meng-keep sampah (?) saat bepergian. Gue gak mau asal buang. Karena gue tahu diri. Gue belum bisa ngasih apa-apa sama negeri ini. Gue belum bisa memberikan sesuatu yang besar dan berguna bagi Indonesia. Makanya, gue mulai dengan usaha kecil-kecilan, GAK PERNAH BUANG SAMPAH, KECUALI PADA TONG-NYA. Yah, meskipun usaha yang gue lakukan gak bisa menahan laju inflasi atau melunasi hutang negara, seenggaknya gue udah berusaha untuk berbuat baik pada negeri ini. Paling gak, gue punya satu perilaku teladan yang bisa gue wariskan pada anak-cucu gue kelak (air mata gue pun bercucuran).

Well, untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi, ayo, sebisa mungkin kita jangan mengeluh. Perbanyak ikhtiar, dan jangan cengeng. Jangan terlalu bergantung dengan orang lain (termasuk pemerintah). Jangan apa-apa harus ngadu ke Presiden. Jangan dikit-dikit menjerit kesakitan. Beruntunglah kalian yang tinggal di pulau yang dekat dengan sentral kekuasaan. Sekecil apapun keluhan kalian, sekecil apapun jeritan kalian pasti terdengar oleh sang penguasa. Yah, paling gak, demo yang kalian lakukan masih ada yang lihat. Tapi, apakabar dengan kami yang jauh dari jangkauan kekuasaan? Meskipun kami meraung-raung kesakitan, mengaduh, jungkir balik, mengeluh sana-sini, curhat kalau saudara kami mati kelaparan, kekurangan air bersih, ayah kami harus terseret arus sungai demi mencari nafkah, gak bakalan ada yang denger! Kalaupun ada yang denger, itu cuma sebatas bisikan semu, bukan teriakan lagi!

Memang benar, kita ini adalah tanggung jawab negara. Tapi gak semua kebutuhan dan keperluan kita harus ditanggung sama negara, kan? Memang benar, orang miskin dan anak terlantar menjadi tanggung jawab negara. Tapi, bukan berarti kita harus menjadi pribadi yang miskin untuk ditanggung oleh negara, kan?

Ayo, kawan-kawan. Perbaiki kualitas pribadi kita masing-masing. Kita gak musti bergantung pada negara. Sebelum negara memberi kita nafkah, alangkah lebih baik kalau kita berusaha untuk menafkahi diri sendiri. Sebelum negara mengetahui SIAPA KITA, alangkah lebih baik kalau kita terlebih dahulu mengenali BAGAIMANA NEGARA KITA. Sebelum negara mendengar keluhan kita, alangkah lebih baik kalau kita berusaha untuk mengatasi keluhan itu sendiri. Ayo, kita berusaha untuk menjadi pribadi yang tidak mudah untuk mengeluh. Ayo, kita contoh pribadi-pribadi yang rendah hati, yang mau berusaha, yang mau mencari nafkah (tanpa bantuan negara) bahkan hingga dimasa tuanya. Ayo, kita sama-sama berusaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Agar Indonesia juga lebih baik. Indonesia akan semakin mapan kalau pribadi-pribadi yang mendiaminya adalah pribadi yang juga mapan. Indonesia akan semakin tangguh kalau masyarakatnya jarang mengeluh. Indonesia akan semakin solid kalau rakyatnya tidak saling menyalahkan. Jangan tanya apa yang telah negeri ini berikan, tapi tanyalah apa yang telah kita kontribusikan untuk negeri ini.

Well, untuk ‘merevolusi’ Indonesia emang gak gampang. Kita semua harus bekerja sama dan mau untuk memperbaiki pribadi masing-masing. Dimulai dari hal-hal kecil, seperti membuang sampah dan mengenali Provinsi-provinsi yang ada di negeri ini. Perluas wawasan kita, supaya kita bisa memperluas wawasan orang lain. Seenggaknya, kalau ada bule yang nanya “Where is Padang?” gue bisa dengan sombongnya menjawab “West Sumatera”. HHAHAHA

Gimana caranya memperluas wawasan?

Gampang! Banyak-banyak membaca, nonton berita sama online. Iya, tiga hal ini yang rutin gue lakukan tiap hari. Kalau cuma mengandalkan pengetahuan formal di kampus, beberapa tahun lagi gue pasti bakal ketinggalan informasi dan teknologi.

Bacalah. Satu kata yang pertama kali diucapkan oleh Jibril kepada Rasulullah. Ternyata emang bermanfaat sampai sekarang. Gue sangat hobi membaca hingga mata gue ketuker antara yang kanan sama yang kiri. Gue akan terus membaca hingga gue udah gak sanggup lagi untuk membaca. Dengan membaca gue bisa tahu cara menulis yang benar. Gue juga mengetahui beberapa kata-kata baru atau kata-kata khusus yang digunakan dalam kondisi tertentu. Gue suka membaca apa saja. Novel, koran (bungkus gorengan pun boleh lah), komik, majalah, bahkan sifat seseorang pun gue baca! Iya, gue punya suatu kebiasaan menganalisa kepribadian seseorang dari cara bicara (tutur kata) serta caranya dalam bersikap. Gue cenderung mengklasifikasikan seseorang kedalam kelompok tertentu berdasarkan pilihan katanya. Misalnya, orang tersebut cenderung asal dalam bicara, suka nyeletuk yang gak penting, atau suka melontarkan lelucon disembarang tempat. Menurut penerawangan (?) gue, orang itu dikelompokkan kedalam ‘low-manner’.

Selain membaca, menonton televisi juga penting untuk menambah wawasan. Karena gak semua pengetahuan (ilmu) yang dibukukan. Ada kalanya pengetahuan itu bisa kita dapatkan dengan menonton berita, film, film dokumenter, acara jalan-jalan, bla bla bla. Dengan menonton, seenggaknya gue jadi tahu kalau di Korea sana ada sebuah tempat yang bernama Nami Nara (Nami Island). Tempat ini memiliki suatu kekhususan seperti layaknya sebuah negara (meskipun cuma negara buatan alias rekayasa alias negara bohongan). Pengetahuan seperti ini belum pernah gue temukan dalam buku-buku yang gue baca. Trus, darimana gue bisa tahu? Ya, dari menonton film. Selain menonton berita, menonton acara jalan-jalan juga bermanfaat loh. Soalnya kita bisa mengetahui tempat-tampat yang baru, tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya. Seenggaknya kita bisa berkata “Oh, ternyata negara Madagaskar itu beneran ada, toh. Kirain cuma ada di film aja!”

Oiya, ada satu cara lagi nih untuk menambah wawasan. Perluas link (pergaulan). Kalau punya banyak teman (apalagi dari berbagai daerah) kita bisa sharing dan saling bertukar pengetahuan. Kita bisa saling bertukar informasi mengenai daerah masing-masing. Teorinya, semakin banyak teman, maka semakin banyak informasi yang kita dapatkan!

Well, untuk menuju Indonesia yang lebih baik memang butuh usaha dan proses yang sangat panjang. Tapi gak ada salahnya kalau kita bersama-sama saling membantu dan mengingatkan. Gak ada salahnya kalau kita memulai dari hal-hal kecil, untuk mendapatkan hal-hal yang besar. Gak ada salahnya kalau kita mulai dari diri sendiri, dan memulainya sekarang juga🙂

Oiya, sebagai perantau yang budiman, gue gak bakalan kapok untuk merantau lagi, dan lagi. Kalau saat ini ada orang yang bertanya “Kamu orang mana?” gue dengan bangga akan menjawab “Saya orang Minang”. Dan, Insya Allah, 3 atau 4 tahun lagi, jika ada orang yang bertanya dengan pertanyaan yang sama, gue dengan penuh rasa haru dan bangga akan menjawab “I’m Indonesian”.

Iya, gue orang Indonesia keturunan Minang. Jika diperantauan kali ini gue menyandang predikat sebagai perantau Minang, Insya Allah, diperantauan berikutnya gue akan mengusung indentitas sebagai orang Indonesia. Iya, orang Indonesia. Tepatnya Mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar negeri. Aamiin…

CATATAN PENTING : Yang membuat gue semakin malu adalah, orang-orang yang awam peta geografis Indonesia tersebut bukanlah orang-orang desa (yang konon katanya tertinggal). Mereka yang gak tahu lokasi Padang, Palangkaraya bla bla bla adalah orang-orang berpendidikan tinggi (lebih tepatnya lagi temen-temen kampus gue). Kemungkinannya cuma dua, pertama, Padang itu merupakan daerah bayangan (posisinya tak dikenali), atau, kedua, orang-orang berpendidikan tinggi tersebut yang kurang wawasan dan pengetahuan. Dan, gue rasa kemungkinan kedua adalah pilihan yang tepat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s