Rancang Masa Depan Mulai Sekarang

Postingan kali ini menyambung postingan gue sebelumnya mengenai keluarga masa depan. Jujur nih, postingan yang kemaren itu belum kelar tapi udah ke-publish duluan :p hhahaha Jadi gue bikin postingan baru aja ya, biar lebih fokus (entah apa hubungannya).

Bicara soal masa depan, gak harus dalam hitungan tahunan. Masa depan itu bisa terjadi dalam 2 detik lagi, besok, lusa, 3 hari lagi, seminggu kemudian, atau bahkan dikehidupan setelah kematian. Tapi yang jelas, masa depan gak bisa diprediksi. Yang ada cuma perencanaan, bukan kepastian.

Pernah dengar kalimat ini?

When i was just a little girl, i asked my mother what will i be? Will i be pretty, will i be rich? Here’s what she said to me.

Que sera, sera. Whatever will be, will be. The future’s not ours to see. Que sera sera. What will be, will be.

Yo! Kalimat tersebut merupakan lirik sebuah lagu yang berjudul Que sera sera (seinget gue ini lagu dinyanyiin sama paduan suara anak-anak). Paham sama maksud dari lagu ini, kan? Intinya, lagu ini mengingatkan kita bahwa masa depan itu bukan untuk diterawang, bukan untuk direka-reka, bukan untuk diprediksi, tapi untuk dijalani sebagaimana yang telah ditakdirkan Tuhan. Gak perlu bertanya-tanya, “Ntar gue bakalan nikah sama siapa, ya?”, “Gue bakalan punya BMW berapa biji, ya?” “Anak-anak gue pada mirip Justin gak, ya?”. Pesan utama dari lagu ini : Jalani aja, Tuhan udah merancang skenario kehidupan buat kamu. Jangan mikirin yang aneh-aneh!

Tapi, meskipun gue suka sama lagunya, ada satu hal yang gue gak setuju. What will be, will be. Kalimat ini mengindikasikan suatu kepasrahan. Apa yang akan terjadi, terjadilah. Meskipun rumah gue kebakar, yaudah, mau gimana lagi, gue cuma punya akua galon buat madamin api. Pasrah banget, kan?

Setahu gue, sebagai seorang hamba, mekipun kita diperbolehkan untuk pasrah atas kehendak Tuhan, tapi kita juga diwajibkan untuk berusaha dan mendapatkan yang lebih baik. Masa, rumah lo udah kebakar, lo cuma pasrah gitu aja? Seenggaknya lo musti usaha dulu buat madamin apinya. Minimal lo usaha teriak buat minta tolong. Soal rumah lo jadi abu atau kagak, itu urusan lain. Kalau Tuhan udah menakdirkan rumah lo jadi abu, itu namanya Qada dan Qadar. Yang jelas lo udah berusaha untuk menyelamatkan rumah lo. Siapa tau berkat usaha lo yang gigih, masih ada harta benda yang tersisa. Misal, foto gebetan.

Jadi, apa yang musti kita lakukan biar gak terlalu pasrah?

Ya, usaha.

Usaha itu gak hanya ikhtiar semata. Sebelum melakukan usaha, lo harus menentukan rumusnya. Ibarat perhitungan dalam ilmu fisika (gue sengaja nulis yang beginian biar keliatan pinter) sebelum menemukan besarnya usaha, kita pasti membutuhkan formula (rumus), kan? Setiap perhitungan pasti ada rumusnya. Begitu juga dengan melakukan usaha. Jangan asal action. Ntar yang ada malah over acting! (lah, ini lagi ngomongin apa, toh?)

Rumus yang gue maksud adalah sebuah perencanaan, alias planning. Gak usah dibikin ribet. Jadikan perencanaan itu sesederhana mungkin. Liat aja contohnya dalam kehidupan sehari-hari. Buat makan aja kita pasti merencanakannya terlebih dahulu. Misal nih, lo mau sarapan pagi. Pastinya lo bakal mengurutkan step-step yang musti lo lakukan sebelum makan. Mulai dari bangun tidur (yakali kalo lo bisa makan sambil tidur), memilih menu untuk sarapan, menyiapkan sarapan, memilih seseorang yang akan menemani lo sarapan, menghidangkannya, hingga menikmati sarapan bersama dengan orang yang telah lo pilih. Simple, kan?🙂

Contoh lainnya saat lo mau ngajak jalan gebetan lo, atau mungkin gebetan dari pacar lo (eh, ini kok makin ribet ya? apa ini yang dinamakan hubungan yang rumit alias complicated? soalnya gue sering ngeliat status hubungan yang ‘complicated’ di facebook). Oke, abaikan hubungan yang rumit ini, kita kembali ke pembahasan awal. Saat lo mau ngajak jalan gebetan lo, pasti lo udah nyiapin perencanaan terlebih dahulu. Lo musti merencanakan kebun binatang mana yang akan kalian tuju, warteg mana yang kira-kira makanannya enak tapi harganya murah, motor siapa yang bakal lo pinjem malam ini, celengan siapa yang bakal lo bongkar, jemuran siapa yang bakal lo embat, jam berapa lo bakal jemput si gebetan, lo musti pake baju apa bla bla bla. Tanpa lo sadari, saat lo ngajak jalan gebetan, lo udah melakukan suatu perencanaan sederhana dalam hidup lo! Lo pantas mendapat hadiah piring cantik, bro! Selamat!🙂

Memang, perencanaan-perencanaan tersebut kadang terjadi tanpa kita sadari. Saat lo dilempar spidol sama dosen, tanpa sadar otak lo udah merencanakan suatu ‘tangkisan’ yang reflek. Iya, perencanaan yang tanpa disadari. Tapi perencanaan dibawah kesadaran ini hanya terjadi pada kondisi tertentu. Untuk hal-hal besar dalam kehidupan, harusnya kita merencanakannya dalam keadaan yang sadar sesadar sadarnya sadar (ini tulisan merupakan perencanaan dibawah kesadaran). Salah satu perencanaan yang harus dilakukan dengan sadar adalah, Masa Depan.

Merencanakan masa depan bukanlah hal sepele. Makanya kita musti sadar saat merencanakannya. Jangan terlalu berbaik sangka sama masa depan. Apa yang lo rasakan sekarang belum tentu bisa lo rasakan keesokan hari. Jika saat ini lo hidup dengan bergelimangan harta, dan bokap lo konglomerat, gak menutup kemungkinan kalau di masa depan lo bakalan jatuh miskin. Jangan terlalu lama berada di zona nyaman hingga akhirnya lo punya pikiran “Kakek gue kaya, bokap gue kaya, saudara gue kaya, jadi nantinya gue juga pasti jadi orang kaya” Buah emang jatuh gak jauh dari pohonnya. Tapi terkadang bijinya ketiup angin, bro. Jadi gak selamanya buah itu jatuh disekitaran pohonnya🙂

Untuk merencanakan masa depan, lo musti punya target. Target yang seperti apa? Ya, mana gue tau. Yang tau target itu ya pribadi masing-masing. Lo yang menyusun dan merencanakan target itu dan melaksanakannya sendiri. Terserah lo mau punya target yang seperti apa. Asalkan lo yakin bakalan sukses saat melaksanakannya, kenapa tidak🙂

Contoh target sederhana yang gue punya secara bertahap udah gue raih. Iya, bertahap. Waktu SMP dulu gue pengen banget punya HP yang rada canggih. Sementara nyokap gak mau ngebeliin gue HP kecuali HP jadul yang cocok banget buat dipake lempar lembing. Akhirnya gue pasang target. Dalam waktu setahun gue musti nabung buat beli HP kece pujaan hati. Dan, emang bener. Selama setahun gue menyisihkan uang jajan 30ribu/minggu (waktu itu gue dikasih bokap uang jajan 50ribu/minggu, jadi gue cuma bisa pake 20ribu buat jajan). Alhamdulillah, saat Idul Fitri tahun 2007 (sekitar bulan Oktober atau November) gue berhasil membeli HP baru dengan tabungan sendiri. Rasanya lega banget. Akhirnya gue menyelesaikan satu target dalam hidup gue🙂

Target selanjutnya, saat gue mau masuk perguruan tinggi. Gue punya target untuk kuliah di Jawa. Bagaimanapun caranya. Makanya, saat gue berkuliah di Sumatera, gue masih ‘gak terima’ soalnya terget gue belum tercapai. Gue terus-terusan usaha sampai akhirnya, disinilah gue berada, di Kota Bandung🙂 Kelegaan untuk yang kedua kalinya🙂

Kalaupun Tuhan belum mengijinkan gue untuk kuliah di Jawa, gue bakalan terus usaha, usaha, usaha dan usaha. Sampai Tuhan benar-benar telah mengatakan TIDAK untuk usaha yang telah gue lakukan. Balik lagi ke Qada dan Qadar. Itu berarti Tuhan emang udah menakdirkan ‘target lain’ untuk gue selesaikan🙂

Perencanaan masa depan sendiri bisa terdiri dari beberapa hal. Dimulai dari hal kecil terlebih dahulu. Lo bisa menargetkan berapa tahun lagi lo bakal wisuda (perkiraan maksimal masa kuliah). Setelah kuliah, lo bakal kerja di perusahaan yang seperti apa, jabatan apa, dengan gaji berapa, jadwal kerja yang bagaimana, atau, lo lebih memilih untuk membuka usaha sendiri, atau, tidak bekerja sama sekali? Tergantung pribadi masing-masing. Lo mau dipekerjakan, atau, jadi orang yang mempekerjakan, atau, pengangguran. Semua memang harus direncanakan dari sekarang. Biar nantinya lo gak dibikin pusing sama pilihan-pilihan yang ada. Kalau lo gak punya perencanaan yang mendetail seperti yang gue sebutin tadi, nantinya lo bakal mengambil pilihan apapun yang ada didepan mata. Meskipun itu gak sesuai sama kata hati lo. Udah banyak kok contohnya, orang-orang yang bekerja tidak sesuai dengan keahliannya. Tapi kalo lo punya target dan perencanaan, seenggaknya lo udah punya rules dalam hidup lo🙂

Gue juga punya perencanaan untuk masa depan. Gue menargetkan ditahun 2016 gue musti menyandang gelar sarjana (target maksimal waktu kuliah gue adalah 4 tahun). Setelah menyelesaikan S1 nanti, Insya Allah gue mau lanjut S2. Kalo sebagian besar temen-temen gue mau langsung nikah atau kerja setelah tamat S1, gue malah pengen sekolah lagi. Soalnya, menurut pemikiran gue, rasanya agak sulit untuk melanjutkan pendidikan kalo gue udah berkeluarga. Kecuali kalo suami gue mau masak sama nyuci sendiri. muehehe

Soal pekerjaan, gue belum kepikiran buat bekerja di sektor formal (kerja kantoran). Kalo sebagian besar temen-temen gue maunya jadi PNS atau kerja di BUMN, gue malah sebaliknya. Gue mau menciptakan lapangan usaha sendiri. Kalo temen-temen gue berpendapat bahwa jadi PNS itu enak (karena punya penghasilan tetap dan jaminan hari tua), tapi gue malah sebaliknya. Gue berpikir bahwa jadi PNS itu terlalu mengekang (mengekang gue secara pribadi). Gue bukan tipikal orang yang betah menjalani kegiatan yang rutin. Tau sendiri, jadwal kerja PNS itu gimana. Dari Senin sampe Sabtu (kalo lo jadi guru) lo musti kerja. Masuk pagi dan baru bisa pulang saat sore hari. Rutin. Begitu terus sampe lo pensiun. Dan itu bukan gue banget. Sekolah selama 12 tahun aja udah bikin gue bosan setengah mati saking rutinnya. Lah, kalo gue musti jadi PNS? Berarti gue musti mengalami kebosanan seumur hidup? (ini dari sudut padang gue pribadi loh yaa)

Pekerjaan masa depan yang gue idam-idamkan adalah, jadi ibu rumah tangga nan cantik jelita (dihajar). Iya, gue pengen jadi ibu rumah tangga sekaligus seorang freelancer. Supaya gue bisa terus deket sama kedua orangtua gue, mengurus keluarga, mandiin anak-anak (kecuali kalo anak-anak gue udah bisa mandi sendiri), masakin makanan buat suami (gue mimisan) pokoknya gue mau berkegiatan dan mencari nafkah di rumah.

Mencari nafkah dari rumah? Emang bisa?

Ya bisa lah! Makanya gue merantau, biar wawasan gue makin luas. Sekarang kan jamannya internet. Gue bisa menghasilkan uang dengan mengandalkan media yang satu ini. Gue juga memilih sekolah Desain, biar gue bisa menghasilkan sebuah produk yang kreatif, tanpa harus bekerja disektor formal. Gue berencana untuk membuka sebuah usaha dibidang kuliner. Makanya, saat ini gue lagi ngincer beasiswa dibidang culinary🙂 Doain gue dapet beasiswanya yaa🙂

Alasan kenapa gue lebih memilih untuk jadi ibu rumah tangga ketimbang wanita karir adalah, karena gue seorang perempuan. Kodratnya perempuan itu ya mengurus keluarganya. Gue gak mau kalo calon anak-anak gue kelak musti nangis guling-guling karena rindu ibunya. Gue gak mau kalo calon suami gue kelak musti masak sendiri karena istrinya terlalu sibuk beraktifitas diluar rumah. Gue gak mau kedua orang tua gue kehilangan momen berharga dimasa tuanya. Gue pengen, kedua orang tua gue akan melewati momen-momen itu dengan putri mereka satu-satunya, yaitu gue :’)

Well, gue gak sepenuhnya menyalahkan wanita yang berkarir. Gak semua wanita karir menelantarkan keluarganya. Masih banyak diantara wanita karir tersebut yang bisa membagi waktunya, sehingga mereka bisa menjalani aktifitasnya dengan baik. Tapi tidak bagi gue. Jujur, gue gak bisa seperti itu. Membagi waktu seperti itu bagi gue adalah omong kosong. Soalnya gue udah ngalamin sendiri. Nyokap gue bisa dibilang adalah seorang wanita yang super sibuk. Dulu, waktu jaman gue masih SD-SMP, gue ketemu sama nyokap cuma diwaktu malam doang. Karena nyokap selalu berangkat dipagi hari dan pulang saat maghrib. Itupun dimalam harinya gue musti ngerjain tugas sekolah, dan nyokap tetap sibuk dengan setumpuk dokumennya. Memang, nyokap gak meninggalkan kewajibannya terhadap keluarga. Nyokap tetap mengurus kami (gue, bokap, sama abang-abang gue). Nyokap masih bisa masak, nyuci, nyapu, sama mengurus pekerjaan rumah tangga lainnya, meskipun waktunya gak full buat keluarga, karena harus dibagi dengan kegiatan lainnya. Secara garis besar, nyokap udah menjalankan tugasnya sebagai seorang ibu rumah tangga. Tapi masih ada satu yang kurang, family time yang kami punya sangatlah sedikit. Gue baru mendapatkan nyokap secara ‘utuh’ disaat gue udah SMA. Disaat nyokap udah mulai mengurangi aktifitasnya diluar rumah. Tapi tetep aja, family time yang kami punya masih sangat minim. Giliran nyokap udah mulai ‘santai’, gue malah sibuk ngurusin sekolahan dan main sama temen. Tau sendiri, kan. Kata orang-orang masa SMA itu adalah masa yang paling berkesan. Apalagi saat gue udah mau masuk perguruan tinggi. Gue mulai disibukkan dengan bimbel disana-sini. Balik lagi, gak ada ‘titik temu’ antara gue dan nyokap.

Dan, saat ini. Disaat gue udah mulai kuliah, gue terpisah jarak yang jauh sama nyokap. Kalo dulu gue masih bisa ketemu nyokap tiap hari (meskipun cuma dimalam hari) tapi sekarang gue musti bersabar, minimal selama 4 bulan, baru deh bisa ketemu nyokap🙂

Well, pelajaran yang bisa diambil dari cerita gue barusan adalah, gak ada yang salah dengan menjadi wanita karir. Karena sudah menjadi kewajiban bagi seorang hamba untuk berikhtiar dalam mencarai rezeki. Tapi inget, kodratnya wanita itu ya mengurus keluarga. Kalo lo bisa membagi waktu antara keluarga dan bekerja, ya silakan aja, gak masalah. Asal ada jaminannya. Keluarga (terutama anak-anak lo) gak merasa ada sesuatu yang kurang dalam hidupnya. Family time itu penting. Meskipun hanya 1 atau 2 jam dalam sehari. Tapi seenggaknya dengan adanya family time, lo bisa mendengarkan keluh kesah dari anak-anak lo, curahan hati dari suami lo, atau cerita lucu dari orang tua lo. Dengan family time, seenggaknya lo ngerasa kalo lo masih punya keluarga. Dengan bercerita saja. Iya, cerita. Cerita-cerita singkat yang diucapkan oleh setiap anggota keluarga merupakan suatu bukti bahwa lo punya orang-orang yang hebat, yang ada disekitar lo. Family time itu gak musti liburan. Cukup dengan duduk santai diruang tv, ditemani secangkir teh hangat dan bakwan jagung (iler gue netes woii!), mulailah saling bercerita satu sama lain. Minimal ceritakan pengalaman lo dalam seharian itu. Simple, kan? Ahh, ini nih, keluarga masa depan yang gue idam-idamkan🙂

Kenapa gue menyarankan adanya family time? Karena family time merupakan sarana untuk berkomunikasi antar anggota keluarga. Dalam sebuah hubungan (termasuk keluarga) komunikasi adalah hal yang penting. Kalo komunikasi udah lancar, maka masalah apapun yang ada dalam keluarga lo bisa diselesaikan tanpa menimbulkan masalah-masalah baru. Dan, satu lagi. Family time itu penting untuk mempertahankan memori. Disaat anak-anak lo udah mulai dewasa, maka mereka bakalan ninggalin lo. Entah anak lo kuliah diluar kota, kerja, atau bahkan nikah. Cepat atau lambat anak-anak lo bakal mempunyai kehidupan sendiri. Tinggal lo berdua sama pasangan lo. Sepasang suami-istri yang menjalani masa tua, cuma berdua. Makanya, family time sangat penting untuk membangkitkan memori. Kalo lo kangen sama anak-anak lo, lo tinggal telpon dan bilang “Kamu inget gak, waktu kamu kecil dulu mama sering bikinin kamu kue, terus kita makan sama-sama dibawah pohon mangga depan rumah, sama papa juga. Mama kangen deh masa-masa itu” Gue jamin! Kalo lo udah ngomong begitu, anak lo pasti sesenggukan dan wajahnya berubah jadi jelek. Dan, gak lama kemudian anak lo pasti pulang, bawain kue tart, dan ngajak lo sama pasangan lo untuk makan itu kue dibawah pohon mangga. Ahh, so sweet🙂 Hal ini bisa terjadi karena memori masa lalu yang udah tertanam dalam benak anak lo. Berkat family time juga🙂

Well, seperti apapun perencanaan masa depan yang kalian punya, yang penting yakin dan terus berusaha ya guys! Target itu dirancang dan dipecahkan oleh diri kalian sendiri. Kalau kalian yang merancang sendiri, pastinya kalian juga punya trik tersendiri untuk memecahkannya, kan? Tetap berusaha dan berdoa. Karena pemilik rancangan yang abadi hanyalah Tuhan Yang Maha Esa🙂

 

 

 

 

 

 

4 pemikiran pada “Rancang Masa Depan Mulai Sekarang

  1. beasiswa kuliner itu seriusan?😮

  2. ya adalah jum -_-
    beasiswa kuliner ya belajarnya di sekolah khusus kuliner~ semacam sekolah yang mendidik para chef gitu, kayak chef juna dll
    tapi beasiswa kuliner yang saya tau ga ada yang full😥

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s