MAR(UPIL) TEGUH, SILVER WAYS

Salam Syuper!

Well, tadi pagi pas bangun tidur (pagi yang gue maksud adalah pukul 11.59 Waktu Indonesia Bagian Barat Daya) gue menemukan sebuah buku usang yang udah dimakan usia. Gue juga gak tau si usia itu siapa sampai-sampai dia memakan buku, bukannya memakan ruput kayak gue. Buku itu bersampul pink kecoklatan, bertotol biru, dan ada bercak hitamnya. Gue amat penasaran dengan buku itu. Dan gue ingin membacanya…

Gue segera mengoleskan krim Olay anti aging ke permukaan buku tersebut biar bercak hitamnya menghilang. Soalnya itu bercak hitam udah menutupi seluruh permukaan buku, hingga yang keliatan cuma nama pengarangnya aja, yaitu, Marupil Teguh.

Setelah mengalami uji laboratotium dan 7 kali penyaringan, akhirnya buku itu bisa gue baca dengan terbata-bata (soalnya itu buku ditulis dalam huruf sanskerta). Gue coba pakai gugel translate, yang ada si oom gugel malah nyerah duluan sebelum gue ngetik tulisannya. Dan akhirnya, gue memasrahkan diri pada kekuatan rembulan.

Gue merenung, mencoba memahami kata per kata dalam buku tersebut. Dan gue mulai paham, ternyata buku itu adalah kumpulan motivasi yang ditulis oleh Marupil Teguh, sang motiator terkenal sejak zaman purbakala. Gue beruntung bisa mendapatkan buku ini. Karena gue yakin, buku ini hanya dicetak sebanyak 1 eksemplar saja. Dan gue adalah pemilik tunggalnya muahaha (errr gue rasa gak ada yang patut dibanggakan dari hal semacam ini)

Well, meskipun buku ini baunya minta ditabok, tapi gue mendapat banyak pelajaran berharga didalamnya. Salah satunya adalah, cara mengontrol diri agar tidak terlalu eksis. Berikut gue ceritakan poin pentingnya…

Oiya, FYI aja nih, pada zaman dahulu, si Marupil Teguh ini gak pernah mendapat juara pertama. Beliau selalu menempati posisi kedua alias Runner-up. Makanya, buku karangannya ini diberi judul Silver Ways, bukannya Golden Ways seperti yang ada di TV 🙂

Oke, balik lagi ke isi bukunya.

Pada Bab pertama Marupil Teguh membahas tentang eksistensi diri. Di zaman serba teknologi seperti sekarang ini ada banyak orang yang begitu ‘hyper’ dalam memanfaatkan media sosial yang mereka punya. Seakan ada sebuah hukum tak tertulis yang mengatakan “status sosial seseorang ditentukan oleh seberapa eksis orang tersebut di media sosial”. Jujur aja nih, awalnya gue agak kesindir sama tulisannya Marupil Teguh. Tapi setelah dipikir-pikir, ada betulnya juga sih 🙂

Kalo dulu (waktu Marupil Teguh masih bersekolah di Taman Purbakala) saat akan makan, orang-orang akan cuci tangan terlebih dahulu, duduk manis, berdoa, dan makan dengan menggunakan tangan kanan. Tapi sekarang? Saat akan makan, orang-orang bukannya cuci tangan, tapi malah nyari kamera, atur angle, jepret, upload ke media sosial, dan tulis status “dinner @upilcaffee w/cemancemans”

Ternyata, jaman emang gak pernah bohong 🙂

Gue juga gak munafik. Gue adalah orang yang addict banget sama sosial media. Bagi gue sosial media adalah sebuah dunia lain dimana lo bisa berekspresi sesuka hati lo. Tapi itu dulu. Sebelum gue membaca buku karangannya Marupil Teguh 🙂 Sekarang sih, gue mencoba untuk mengurangi sedikit demi sedikit eksistensi gue di sosial media. Karena gue akhirnya sadar bahwa, TIDAK SEMUA YANG KITA RASAKAN, LAKUKAN, RENCANAKAN, HARAPKAN DAN IMPIKAN HARUS DIKETAHUI DAN DIBACA OLEH ORANG LAIN.

Kalo boleh flashback nih, dulu, gue sering banget nulis status di facebook. Setiap yang gue rasakan akan gue posting di facebook. Setiap hal yang gue alami akan gue posting di facebook. Setiap momen yang gue abadikan akan gue posting di facebook. Setiap info yang gue dapat akan gue posting di facebook. Hingga akhirnya gue capek sendiri. Gue capek mengumbar-umbar apa yang gue rasakan kepada orang-orang yang bahkan gak gue kenal sama sekali.

Dulu, saat gue memposting sesuatu di facebook, gue merasa lega karena telah ‘berbagi’ dengan yang lain (dan sedikit ngarep ada yang nge-like dan kasih komentar). Tapi mungkin aja orang-orang yang ada dalam friend-list gue merasa gerah dengan postingan-postingan gue itu. Karena pada dasarnya setiap orang yang menggunakan facebook hanya memikirkan postingannya sendiri, tanpa peduli bagaimana perasaan orang yang membacanya (setuju gak setuju sih terserah kalian yaaa, ini cuma opini gue semata).

Kalo yang diposting adalah kata-kata yang berisi kebaikan, motivasi, serta memberikan efek positif sih gak masalah. Lah, kalo isinya cuma umpatan, makian dan sajak kegalauan? Inget loh, kegalauan bisa menular. Orang yang tadinya biasa-biasa aja bisa mendadak jadi galau gara-gara baca status temen yang baru diputusin sama pamannya. So, hati-hati dengan setiap postingan di sosial media. Karena apa yang kalian tulis akan berdampak pada orang-orang yang ada disekitar kalian.

Well, menurut buku Silver Ways, status sosial seseorang bisa ditentukan dari seberapa eksis orang tersebut di media sosial. Kok bisa? Berikut penjelasannya…

Kebanyakan pengguna media sosial adalah orang-orang dari kalangan menengah ke atas. Dan kebanyakan diantaranya (inget, ini kebanyakan diantaranya loh, berarti masih ada sebagian lainnya yang tidak termasuk) seakan berlomba-lomba menunjukkan status sosialnya. Gak percaya? Buktikan aja sendiri.

Pernah menemukan seseorang yang selalu menuliskan schedule-nya di sosial media? Iya, gue tafsirkan itu sebagai schedule, karena setiap kegiatan dari bangun tidur sampai tidur lagi tertulis dengan rapi di sosial media miliknya. Gak, gue gak menyalahkan oknum tersebut. Itu terserah mereka menuliskan apa yang ingin mereka tulis. Tapi, haruskah satu dunia maya tahu apa yang kalian makan hari ini? Haruskan satu pengguna Facebook mengetahui tempat apa yang kalian kunjungi hari ini? Haruskah Marupil Teguh mengetahui ekspresi wajah kalian hari ini? Silakan renungkan, dan jawab dalam hati. Gak perlu emosi menanggapi tulisan gue ini. Karena dulunya gue juga pernah ada di posisi kalian 🙂

Gue cuma bisa menganalisa. Gejala seperti ini timbul karena seseorang ingin menunjukkan eksistensinya. Orang-orang tersebut ingin menunjukkan pada khalayak bahwa, “Gue ada, dan gue eksis”. Lantas, bagaimana caranya? Ya, posting foto pas bangun tidur, posting foto makanan yang akan dimakan (yang ada itu makanan keburu dijilatin sama lalat), posting tempat yang dikunjungi pada hari itu, dan sebagainya, dan sebagainya, bla bla bla.

Tapi anehnya, foto makanan yang diupload selalu makanan yang tergolong ‘mewah’, seperti KFC, Pizza, McD, Jco, bla bla bla. Sangat jarang sekali (jarangnya pake sekali) ada orang yang posting foto saat dia mau makan masakan nyokapnya sendiri (kecuali kalo nyokapnya lagi bikin Pizza). Nah, inilah maksud dari tulisan Marupil Teguh yang tadi, yaitu “status sosial seseorang ditentukan oleh seberapa eksis seseorang tersebut di media sosial”.

Terbukti, kan? Lo akan terlihat ‘kaya’ saat lo makan di KFC (dengan memposting foto paha ayam yang bohai). Lo akan terlihat high-class saat lo memposting posisi lo yang sedang berenang di Upil’s Hotel (yang merupakan hotel berbintang bintang, yang terkenal sejak zaman purbakala).

Tapi, adakah pengaruhnya buat diri lo sendiri? Mungkin ada. Iya, mungkin lo akan merasa senang karena semua orang akhirnya mengetahui status sosial lo. Lalu efek lainnya? Silakan renungkan, dan jawab dalam hati, gak pake emosi yaa 🙂

Well, gue gak bermaksud menggurui ataupun menyalahkan tindakan kalian (kalian yang gue maksud adalah para pengguna sosial media yang hyper). Gue paham. Bahkan teramat paham akan kondisi seperti ini. Karena dulunya gue juga pernah ada di posisi kalian. Dulu tindakan gue lebih ekstrim dari itu. Tapi itu dulu. Dan kini saatnya gue mulai berubah 🙂

Kalo dulu, setiap yang gue rasakan akan gue posting di facebook, agar semua orang mengetahui apa yang gue rasakan. Tapi sekarang gue berpikir berkali-kali sebelum menekan keyboard, “Haruskah orang lain mengetahui hal ini? Apa gak cukup gue sendiri aja yang ngerasainnya?”

Siang tadi, saat gue menyelesaikan satu tugas untuk UAS, gue berniat mempostingnya di facebook, biar temen-temen gue pada tahu apa yang gue kerjakan, biar orang-orang pada tahu gimana perjuangan gue saat mengerjakan tugas tersebut. Tapi lagi-lagi gue kepikiran nasehatnya Marupil Teguh, “Apa harus gue posting? Apa gak cukup gue sendiri aja yang mengetahui seberapa berat perjuangannya?”

Akhirnya gue menggagalkan postingan-postingan tersebut (dikarenakan kuota modem gue telah habis).

Oiya, dalam buku Silver Ways juga tertulis tentang keprihatinan Marupil Teguh akan gejala sosial media saat ini. Ada segelintir orang yang menggunakan sosial media untuk memamerkan ibadahnya. Mungkin doi takut kali yee, kalau-kalau ada malaikat yang lupa nyatet amalannya, makanya doi posting di facebook, biar kalau ada selisih jumlah sama malaikat, doi bisa komplain 🙂

Well, sekali lagi, gue bukan menggurui apalagi menyalahkan tindakan kalian. Silakan renungkan saja dan jawab dalam hati. Kalau memang semua orang harus mengetahuinya, ya silakan diposting saja. Tapi kalau enggak, ya silakan dipendam dalam kalbu masing-masing🙂 Karena tidak semua yang kita rasakan harus diketahui oleh orang lain🙂

Ah, gue mulai mumet baca buku karangannya Marupil Teguh. Dari 3854 halaman, cuma 10 halaman yang ada tulisannya. Mungkin sisanya gue disuruh tulis sendiri kali yaa.

Karena cuma 10 halaman yang ada manfaatnya, maka dari itu Marupil Teguh, Silver Ways cukup sampai disini🙂 Semoga postingan kali ini bermanfaat bagi yang mau mengambil manfaatnya. Salam Syuper bagi kita semua🙂

NB : Kata Syuper-nya harus pake Y yaa..soalnya ini Marupil Teguh, Silver Ways..jadi harus ada huruf Y-nya biar bisa kebaca Syuper🙂 (entah apa korelasinya)

Sekali lagi, salam Syuper!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s