Muthi’s 21th

Ehem! Ternyata udah lama juga gue gak nulis di blog ini. Terakhir kali gue nulis, Presiden Indonesia itu adalah Bapak SBY. Sekarang presidennya masih sama sih, soalnya belum selesai pemilu. Jadi inti dari tulisan gue ini apa, ya?

Well, gue mau ngumumin sesuatu dulu nih. Sabtu kemaren, tanggal 12 April, gue ulang tahun looh (ceritanya gue lagi pamer, dan berharap segenggam kado dari para pembaca) *dan gue pun digaplok* Gue ulang tahun yang ke…errr…ke…euhm…ke…keberapa ya? Tanya ke nyokap gue aja deh! Syukur-syukur nyokap masih inget kapan terakhir kali beliau ngelahirin gue (yakali kalo gue bisa dilahirkan berulang-ulang, semacam barang re-cycle gitu)

Entah kenapa gue ngerasa kalo gue dilahirkan di tanggal cantik. Mungkin nyokap gue selain mengoleksi piring dan payung cantik hasil undian, beliau juga punya hobi mengoleksi tanggal-tanggal cantik. Makanya, pas tanggal 12 April, nyokap gue bela-belain pergi ke rumah tetangga, dan numpang melahirkan disana.

Tanggal cantik? Kok bisa? Ya bisa lah! Gue ngerasa kalo kombinasi angka 12-04-1993 itu mau diutak-atik bagaimanapun hasilnya tetap gak jauh-jauh dari angka 0, 1, 2, 3, 4 dan 9 (gue gak begitu jago matematika sih, jadi terima aja teori ini yaa!). Gak percaya? Nih, gue kasih bukti. Angka 1+2 = 3, 0+4 = 4, 1+9 = 10 (1+0=1), 9+3= 12 (1+2=3), 1+3 = 4, 9+9 = 18 (1+8=9). See? Angka-angka yang dihasilkan gak jauh-jauh dari angka pembangunnya. Makanya, dengan penuh rasa bangga, gue kemukakan sebuah teori bahwa, gue dilahirkan di tanggal cantik :3 *dan gue pun dijejelin kalender bekas*

Oke, kita lupakan soal tanggal cantik.

Ini adalah tahun ketiga gue melalui pergantian usia tanpa keluarga (bukan berarti gue hidup secara nomaden loh yaa). Untuk ketiga kalinya gue ‘ngerayain’ ulang tahun tanpa nyokap, bokap, abang, sohib gue, dan juga kado😥 Iya, kado. Ulang tahun tanpa kado itu bagaikan backpacking keliling Afrika tanpa membawa backpack. Hampa banget, kan?

Awalnya gue cuma mau ngerayain ulang tahun sendirian di kosan. Gue udah menyusun sebuah pesta kecil-kecilan. Rencana awalnya sih, gue mau makan brownies sama beberapa potong chicken wings level 5. Tapi tiba-tiba..temen-temen gue di kampus pada minta traktiran…

Setelah dihujani rentetan pertanyaan bersifat pemaksaan seperti ini, “Mut, traktirannya mana?”, “Mut, makan nasi Padang lah!”, “Mut, makan-makan dong”, “Mut, mut, mut, mut, mut….”, akhirnya gue pun luluh, dan mentraktir anak-anak sekelas makan brownies. Karena gue teringat akan sebuah kalimat yang berbunyi, “Being rich is not about how much you have, but about how much you can give”

Gue yang awalnya berniat untuk makan brownies sendirian di kosan, akhirnya memutuskan untuk makan brownies rame-rame di kampus. Karena gue sadar, kebahagiaan itu gak melulu soal materi, tapi kebahagiaan itu ada pada hati. Coba bayangin, kalo seandainya gue makan brownies sendirian. Bisa-bisa keesokan harinya gue udah ditemukan tewas karena overdosis gula. Seenggaknya, dengan makan brownies bareng anak-anak sekelas, gue bisa overdosis gula rame-rame, kan? Muehehe. Intinya sih, berbagi itu lebih baik ketimbang makan sendiri🙂

Well, ada satu momen mengharukan saat gue ‘pesta’ brownies sama temen-temen. Ada seorang temen gue yang bela-belain bikin gambar muka gue (dalam bentuk chibi), terus doi juga bela-belain ke tempat fotokopian cuma buat me-laminating itu gambar. Dengan napas yang ngos-ngosan dia bilang ke gue, “Mut, selamat ulang tahun yaa, nih kado dari aku”. Hiikk. Gue terharu. Gue speechless. Dan gue gak nyangka, kalo dia bela-belain lari ke fotokopian cuma buat ngasih kado ke gue. Hiikk. Makasih, yaa. Gue gak ngeliat bagaimana bentuk kadonya. Tapi gue ngeliat dari hati yang ngasih kado itu. Gue yakin, itu kado dibuat dan diberikan dengan hati yang tulus. Pake perasaan juga🙂 Sekali lagi, makasih yaa, Nacchan atas kadonya🙂

Gue juga belajar banyak hal di hari itu. Gue yang awalnya merasa ‘sendiri’ dan ‘asing’ mulai menyadari bahwa, “Oh, iya, ternyata gue punya temen yang banyak”, “Oh iya, ternyata temen-temen gue meskipun bertampang mesum, tapi hatinya bagaikan ibu peri”. Iya, gue jadi belajar banyak hal dari temen-temen gue, di hari itu.

Ada temen gue yang keliatan nakal, tapi aslinya sangat sayang sama orang tua. Ada juga temen gue yang keliatan berandal tapi sangat taat beribadah. Ada temen gue yang keliatannya ber-IQ tiduran (lebih rendah dari IQ jongkok) tapi ternyata, saat diajak diskusi, doi bisa mengeluarkan gagasan-gagasan yang menurut gue luar biasa. Ada juga temen gue yang keliatan tegar di luar tapi rapuh di dalam. Ada juga temen gue yang selalu terlihat happy, tapi di dalam hatinya ada setumpuk masalah. Ada juga temen gue yang tampak berkecukupan, tapi ternyata, doi harus kerja mati-matian untuk bayar uang kuliah. Iya, gue belajar banyak hal di hari itu. Dan gue mulai sadar, bahwa belajar itu gak harus sama orang pintar. Orang-orang di sekitar adalah teman belajar yang paling baik, karena dari mereka kita bisa mengetahui banyak hal yang gak bisa kita dapatkan di tempat lain🙂

Well, di usia yang sekarang ini, gue bersyukur tiada henti pada pemilik kehidupan ini. Selama 21 tahun kehidupan ini, gue selalu diberikan kebaikan-kebaikan yang tak terhitung jumlahnya. Satu per satu doa-doa gue terdahulu telah diijabah. Gue berdoa, minta HP baru, dikasih. Gue berdoa, minta laptop baru, dikasih. Gue berdoa, semoga bisa kuliah di Bandung, dikabulkan. Benar-benar kehidupan yang baik, kan? Makanya gue bersyukur tiada henti atas karunia yang begitu besar ini. Rasanya seperti mimpi, saat satu per satu doa-doa gue mulai terkabul dan menjadi nyata. Dan sekarang gue semakin yakin bahwa, tidak ada doa (yang baik) yang tidak dikabulkan. Karena gue yakin, Allah dalam firman-Nya telah berjanji satu hal, “Berdoalah kepadaku, niscaya akan kuperkenankan”. Iya, gue percaya akan janji itu, janji Allah yang takkan pernah diingkari.

Euhm, untuk resolusi di 21 tahun ini, gue punya sederet target yang harus dicapai. Diantaranya, 1 Day 1 Juz, 1 Day 1K, 1 Day 1 Ayat (yang ini sudah dalam proses pelaksanaan). Gue juga punya target untuk memiliki sebuah album foto yang berisi kumpulan foto hasil jepretan gue sendiri. Soalnya pada semester ini gue mengambil mata kuliah fotografi. Makanya, gue punya niatan untuk membuat sebuah album foto, biar ilmu yang gue dapatkan saat belajar fotografi gak terbuat sia-sia (mumpung gue punya kamera pinjaman dari abang). Gue juga punya planning untuk membuat sebuah film ‘mini’ dokumenter yang berisi tentang perjalanan gue selama merantau di Bandung. Yah, project kecil-kecilan lah, biar ilmu yang gue dapet bisa diaplikasikan dengan baik. Semoga kesampaian, yaa. Semoga gue gak males-malesan ngejar targetnya🙂

Tapi, gak kerasa ya, sekarang gue udah 21 tahun. Udah bukan teenager lagi. Sekarang gue udah jadi gadis berusia 18+ (halah!). Gak kerasa, udah 21 tahun gue menjalani kehidupan. Udah jutaan sel dalam tubuh gue yang mati. Udah ribuan hari gue lalui. Udah puluhan drama Korea yang gue tonton. Udah puluhan kali juga gue nangis gara-gara adegannya yang mengharukan. Gak kerasa. Gak kerasa. Iya, semuanya emang gak kerasa sampai ada seorang temen gue yang ngomong, “Mut, kamu udah ngelakuin hal apa aja di usia yang sekarang ini?”

JLEB. Sebuah kalimat yang disampaikan dengan nada santai tapi nusuk abis. Gue jadi berpikir bahwa perkataan temen gue itu ada benernya juga. Selama ini gue hanya terfokus pada selebrasi dalam bentuk perayaan ulang tahun. Gue hanya terfokus pada ucapan selamat dari orang-orang sekitar. Gue hanya terfokus (sebenernya sih ngarep) pada kado yang akan diberikan. Tapi gue lupa akan satu hal, selama ini, gue udah melakukan hal (baik) apa saja? Selama ini gue udah melakukan gebrakan apa saja? Selama ini gue udah menginjakkan kaki dimana saja? Iya, untuk sejenak, gue lupa akan hal itu.

Untuk tahun-tahun berikutnya (kalau gue punya umur yang panjang) gue berharap bisa melakukan hal baik yang lebih banyak lagi. Semoga gue bisa memperbaiki diri sendiri, dan syukur-syukur gue bisa memperbaiki lingkungan sekitar. Semoga gue bisa menginjakkan kaki di Korea, dan mencari segenggam ilmu yang bermanfaat disana. Semoga gue bisa lulus kuliah dengan predikat yang baik. Semoga nyokap sama bokap gue bisa menghadiri wisuda gue (dan semoga nama bokap gue dipanggil saat gue wisuda nanti, sebagai orang tua dari mahasiswa yang lulus cumlaude). Semoga nyokap-bokap gue diberikan umur yang panjang dan kesehatan, sampai beliau dianugerahi cucu-cucu selanjutnya. Oiya, FYI aja nih, 9 Januari kemaren, gue dianugerahi seorang ponakan yang lucu, bernama Adzra. Nama panggilannya Adzra. Nama beken-nya juga Adzra. Begitu juga nickname-nya, Adzra. Dan dia gak punya nama lain selain Adzra.

Adzra itu ponakan pertama gue. Makanya, gue agak sedikit norak pas dapet ponakan. Soalnya baru pertama kali sih. Gue belum berani gendong Adzra. Soalnya gue takut kalau-kalau ada onderdil Adzra yang tiba-tiba lepas pas gue gendong. Tapi gue bersyukur, Adzra lebih mirip emak-bapaknya ketimbang mirip gue. Dunia bisa dalam bahaya kalau Adzra mewarisi sifat-sifat gue. Muehehe

Ahh, udahan dulu yaa. Gue mau lanjut nugas nih. Ternyata kehidupan di semester 4 itu lebih kejam dari pipisnya kucing. Buktinya, gue terus-terusan dihujani tugas yang gak mengenal kata berhenti. Ini gue lagi belajar untuk jadi anak rajin, biar gak dikejar-kejar deadline :3 Mihhihi

Oiya, buat yang mau ngasih kado (masih ngarep) silakan masukin aja ke kotak Pos terdekat, ntar juga nyampe sendiri ke kosan gue🙂 Muehehe

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s