What is Branding

Di semester kali ini gue mengambil satu mata kuliah yang bernama COPYWRITING. Sebenernya mata kuliah yang satu ini ada di semester 8, tapi berhubung gue orangnya ngebet banget pengen cepet-cepet lulus kuliah, akhirnya gue memutuskan untuk mengambil mata kuliah ini.

Well, ternyata mengambil mata kuliah di semester atas itu rasanya gak enak banget. Selain tingkatannya (semester) lebih tinggi, lo juga harus sekelas dengan orang-orang yang gak lo kenal. Iya, buktinya, pas pertama kali masuk kelas, gue berasa kembali ke jaman pra sejarah, dimana manusia masih menggunakan batu untuk menulis. Pas gue liat, seisi kelas isinya para mahasiswa veteran semua. Malah ada yang bawa-bawa anak segala. Mungkin beliau adalah mahasiswa veteran yang udah terdaftar sejak jaman orde baru (dan gue pun disilet-silet senior).

Tapi, ada enaknya juga sih, sekelas sama senior. Gue jadi tau, bahwa semester akhir itu emang kejam. Lebih kejam dari mantan yang akhirnya jadian sama paman lo sendiri. Sadis memang. Tapi seenggaknya gue jadi bisa mempersiapkan banyak hal sebelum menghadapi semester akhir. Salah satunya, rajin-rajin perawatan wajah. Biar nantinya gue gak keliatan terlalu tua pas sekelas sama anak-anak semester bawah🙂 muehehe

Ngomongin soal mata kuliah copywriting, salah satu materi perkuliahan gue membahas tentang Branding. Sebelum bicara soal branding, coba jawab pertanyaan gue…

Apa yang terlintas dalam benak kalian saat memikirkan tentang,

1. Gadget

2. Sepatu

3. Musik

4. Mie instant

5. Kopi

Bingung? Nih, gue kasih penjelasan singkat.

Benda-benda / hal-hal yang kalian pikirkan berdasarkan ‘keyword’ yang gue kasih barusan adalah benda-benda yang menurut kalian menempati posisi teratas. Atau dengan kata lain, benda-benda tersebut sangat melekat dalam benak kalian. Misalnya, saat ditanya mengenai gadget, gue dengan spontan akan menjawab APPLE. Kenapa? Karena dalam pikiran gue, Apple merupakan brand yang paling melekat atau paling mudah diingat. Lalu, saat ditanya mengenai sepatu, gue akan langsung menjawab Adidas. Kenapa? Karena dalam benak gue, Adidas merupakan Brand dengan ‘kasta’ yang tinggi. Terbukti, harga dari produk-produk Adidas gak bisa dibilang murah. Gue musti ngejual beberapa tas koleksi nyokap terlebih dahulu, baru deh, gue bisa membeli sepasang sepatu Adidas.

Oiya, disini gue bukannya mau mempromosikan suatu brand loh yaa. Gue cuma mau memberikan sebuah contoh aja🙂

Balik lagi ke pembahasan sebelumnya. Kenapa gue memberikan pertanyaan-pertanyaan gak penting seperti itu? Jawabannya simple aja. Karena pada dasarnya, benda-benda yang kalian sebutkan merupakan sebuah bukti, bahwa brand tersebut telah berhasil ‘menguasai’ pasar.

Gak percaya? Tanya aja pada diri kalian masing-masing. Apa merek HP kalian? Kenapa kalian lebih memilih merek tersebut ketimbang merek lain? Apakah karena brand-nya yang telah mendunia, atau karena kualitas produknya? Atau jangan-jangan, kalian hanya ikut-ikutan?

Nih, gue kasih contoh lagi yaa..

Di dunia ini, ada puluhan ribu brand yang berserakan dimana-mana. Mulai dari brand paling terkenal sekaliber APPLE, sampai brand yang gak dikenal sama sekali. Ada brand yang harus melakukan promosi besar-besaran agar produknya dikenal. Tapi ada juga brand yang gak memerlukan iklan sama sekali (kalaupun ada, itu sangat jarang). Contoh simple-nya APPLE (gue berasa jadi salah satu pemegang sahamnya Apple). Apple merupakan salah satu brand yang gak memerlukan iklan (promosi) besar-besaran. Kenapa? Karena mereka telah berhasil menancapkan kukunya di benak para konsumen. Apapun produk yang mereka punya, konsumen pasti akan yakin 100% bahwa produk-produk keluaran Apple itu worth it, alias gak diragukan lagi kualitasnya. So, masihkah Apple memerlukan iklan yang jor-joran (?) Kapan terakhir kali kalian melihat iklan Apple di TV? Seinget gue sih, terakhir kalinya gue ngeliat iklan Apple itu waktu perilisan iPhone 5 (kalau gue gak salah yaa). Nah, ini merupakan suatu bukti, bahwa APPLE sudah berhasil memenangkan pasar, dengan berbekal sebuah BRAND yang menurut gue memiliki kekuatan ‘magis’. Kenapa? Karena hanya dengan melihat logonya saja (semacam buah apel yang habis digigitin curut itu) orang-orang akan berkata, “Wah, Apple, ya? pasti mahal”

Selain Brand-nya yang memiliki kekuatan ‘magis’, Apple juga memiliki keeksklusifan tersendiri. Contohnya, Apple punya sistem operasi tersendiri, yang berbeda dengan gadget-gadget lainnya (yang menurut gue sistem operasinya Apple lebih rumit, namun lebih aman). Dengan keeksklusifan seperti ini, maka jangan heran, jika hanya kalangan tertentu saja yang menggunakan Apple. Konsumen Apple biasanya terdiri dari orang-orang yang melek teknologi, atau orang-orang yang memang memiliki kelebihan rezeki, atau bahkan orang-orang dengan keberuntungan yang tinggi, seperti gue. Iya, gue punya sebuah iPod shuffle. Tapi bukan gue yang beli. Itu iPod pemberian abang gue (gue gak akan sanggup beli produknya Apple). Suatu hari ada temen gue yang nanya, “Mut, ini Apple asli? Apa KW?” JLEBB. Temen gue meragukan keaslian iPod yang gue punya. Mungkin tampang gue gak meyakinkan kali yaa. Barangkali temen gue juga mikir, “Kecebong bantet kayak gini punya Apple? Ah, mustahil! Pasti ini hasil curian!!”

Well, gue bukannya mau sombong atau apa. Gue hanya ingin membuktikan bahwa sebuah brand bisa merubah tatanan sosial di masyarakat. Saat lo ngeliat seseorang menggenggam iPhone 5, lo pasti akan berpikir, “Wanjiirr ini orang tajir banget” (gak peduli itu iPhone ORI, KW Super, King Copy, Replika, atau apalah namanya, yang penting ada logo buah apel yang habis digigitin curut). Dengan kata lain, mau gak mau, suka gak suka, kita harus menerima kenyataan bahwa, APPLE berbanding lurus dengan kemapanan ekonomi seseorang.

Masih bingung? Gue kasih sedikit penjelasan mengenai apa itu branding..

Berdasarkan contoh yang udah gue kasih, dapat disimpulkan bahwa brand merupakan sebuah penanda. Brand juga bisa berarti sebagai suatu kepemilikan. Brand merupakan trade mark. Brand juga merupakan sebuah ciri khas. Apapun itu, intinya, brand is yours.

Pada jaman dahulu, para peternak udah mulai mengelompokkan ternak-ternak mereka dengan memberikan sebuah tanda (biar gak ketuker sama ternak punya tetangga). Pemberian tanda ini bisa dengan menggantungkan semacam name-tag di lehernya si sapi, atau mengukir nama majikan di kulitnya, atau bisa jadi memberikan barcode pada masing-masing ternak. Tapi, percaya atau tidak, tindakan seperti ini merupakan bagian dari branding itu sendiri. Secara tidak sadar, peternak jaman dahulu sudah menciptakan sebuah brand bagi produk mereka (ternak). Dengan memberikan penanda pada masing-masing ternak, secara tidak langsung mereka telah mengumumkan pada dunia bahwa, “INI SAPI PUNYA GUE WOIII”. Nah, inilah salah satu fungsi dari brand, yaitu sebagai klaim atas kepemilikan suatu barang.

Kira-kira begitulah yang terjadi pada masa sekarang. Para produsen berlomba-lomba untuk menciptakan sebuah brand yang eye-catching sekaligus ear-catching. Alias, brand atau merek yang akan selalu diingat oleh konsumen (supaya produk mereka laku keras di pasaran, karena percaya atau tidak, brand merupakan penentu keberhasilan suatu produk).

Berdasarkan pengamatan gue pribadi, ada beberapa brand yang menurut gue telah berhasil merebut perhatian konsumen (terlepas dari hasil penjualan produknya loh yaa). Contoh kecilnya, di kampung gue, pada umumnya orang-orang menyebut sepeda motor dengan sebutan HONDA. Padahal kalau dikaji lebih jauh lagi, Honda merupakan sebuah brand, bukannya jenis kendaraan. Lah, terus, kenapa orang-orang di kampung gue lebih familiar dengan kata Honda ketimbang sepeda motor? (padahal merek sepeda motor yang mereka gunakan bukanlah honda). Contoh lainnya, masih dari kampung gue, masyarakatnya (sebut saja bokap gue) seringkali menyebut mesin pompa air dengan sebutan SANYO. Padahal, Sanyo merupakan sebuah brand, tapi kenapa bokap gue lebih familiar dengan kata SANYO ketimbang pompa air? (yang padahal merek pompa air yang digunakan bokap bukanlah Sanyo). Contoh lain, saat gue galau, ada banyak orang yang menyarankan gue untuk minum BAYGON. Padahal, Baygon sendiri merupakan sebuah brand obat nyamuk. Lah, terus, kenapa orang-orang menyarankan gue untuk minum Baygon, bukannya minum obat nyamuk? Bukannya di Indonesia ini ada banyak merek obat nyamuk selain Baygon? Dan kenapa musti Baygon? Contoh terakhir, tetangga gue seringkali menyebut celana Jeans dengan sebutan LEVI’S. Padahal, LEVI’S itu merupakan sebuah brand terkenal yang memproduksi celana jeans. Lantas, kenapa tetangga gue lebih sering menyebut Levi’s…Levi’s…ketimbang celana jeans? Jawaban gue cuma satu. Semua ini merupakan pengaruh dari brand itu sendiri.

Ibarat kata pepatah, tak ada brand yang tak retak (halah!). Enggak ding, becanda. Maksud gue, brand semacam Honda, Sanyo, Baygon, atau bahkan Levi’s telah menempati ruang tersendiri dalam pikiran masyarakat. Gak peduli produk dari brand mana yang mereka pakai, mereka lebih cenderung untuk mengeneralisasikannya, menjadi kelompok-kelompok besar, berdasarkan brand yang sangat mereka kenal. Saat memikirkan pompa air, maka bokap gue akan teringat pada SANYO. Atau saat gue membeli celana jeans, maka gue akan bertanya pada pramuniaga, “Mbak, levi’s-nya dimana?”

Jadi, udah pada ngerti, apa itu brand?

Sekali lagi, BRAND IS YOURS. Brand merupakan sebuah penanda bahwa barang itu merupakan milik kalian. Dan karena BRAND IS YOURS, maka gak hanya benda yang dikategorikan sebagai brand. Pribadi kita sendiri juga bisa digolongkan sebagai sebuah brand.

Apapun yang kita lakukan, itu semua merupakan suatu cara untuk mem-branding diri kita sendiri. Misalnya gue. Saat ini gue ingin menampilkan imej anak baik-baik yang kutu buku. Makanya, akhir-akhir ini gue lebih sering makanin kertas ketimbang makan nasi. Contoh lainnya, gue kasih contoh Agnez Mo aja yaa. Coba perhatikan, seberapa sering kalian ngeliat Agnez Mo wara wiri di TV? Jarang, kan? Agnez Mo munculnya secara berkala, alias, doi akan muncul di TV pada saat-saat tertentu saja, misalnya saat promo album, atau perilisan project-nya yang baru. Kenapa bisa begitu? Ya, karena strategi Branding Agnez Mo yang memang begitu adanya. Agnez Mo mem-branding dirinya sendiri dengan kesan eksklusif, sehingga tidak semua program di TV akan ia datangi. Agnez Mo hanya tampil pada acara-acara tertentu, yang sesuai dengan imej-nya (gak akan pernah ditemukan, Agnez Mo ikutan acara lawak di TV, karena hal semacam itu bertolak belakang dengan imej-nya). Coba bandingkan dengan artis yang setiap hari muncul di TV. Semacam jadi sprinter dari stasiun TV ke stasiun TV lainnya. Pas nonton acara pagi, ada muka si artis nongol di TV. Pas acara siang, juga ada. Sore, masih tetep nongol di TV. Sampai tengah malam pun si artis masih betah ketawa ngakak di stasiun TV lainnya.

Apa yang membedakan Agnez Mo dengan si artis sprinter (?). Yang membedakan keduanya adalah strategi branding masing-masing. Agnez Mo dengan kesan eksklusifnya hanya tampil sesekali saja di TV (dengan asumsi bahwa bayaran Agnez Mo sangatlah mahal, sehingga gak banyak stasiun TV yang sanggup mengundang Agnez Mo, atau, karena padatnya jadwal maka Agnez Mo tidak bisa menghadiri acara TV satu per satu, atau, memang tidak ada cara TV yang sesuai dengan imej yang ingin dibangun Agnez Mo). Lantas, bagaimana dengan artis yang stripping tiap hari? Ya, mungkin saja mereka mempunyai strategi branding yang berbeda dengan Agnez Mo. Mereka lebih terfokus pada mempromosikan produk (yaitu diri mereka sendiri) dengan cara sering-sering tampil di TV. Balik lagi seperti contoh yang telah gue berikan tadi. Bahwa brand semacam Apple gak membutuhkan promosi besar-besaran, karena masyarakat sudah mengetahui track record mereka. Masyarakat sudah percaya 100% bahwa kualitas Apple tak diragukan lagi. Tanpa harus melakukan promosi besar-besaran, toh, orang-orang juga tahu kalau Apple itu “mahal”, kan?

Nah, hal yang sama juga berlaku pada strategi branding bagi diri sendiri. Ada kalanya, kita gak harus mengumbar-umbar kelebihan diri kita sendiri. Adakalanya kita harus staycool, tanpa harus berkata “GUE COOL”. Ada kalanya kita harus menarik diri dari ‘peredaran’, karena barang yang langka akan semakin dicari. Ada kalanya kita harus melakukan promosi, lalu kemudian menghilang, supaya orang-orang akan bertanya “Kemana kita?”.

Untuk menjadi terkenal gak harus selalu muncul. Semuanya bergantung pada kualitas diri masing-masing. Semakin berkualitas diri kita, maka orang-orang akan langsung percaya pada kemampuan diri kita secara pribadi, tanpa harus melihat embel-embel ‘iklan’ apa yang kita gunakan. Hal-hal yang terlalu sering muncul akan mengakibatkan kebosanan, kan? Coba aja, kalau tiap hari kalian harus mandangin foto gue. Bukannya inget sama sosok gue, yang ada kalian harus di opname karena mengalami radang selaput otak. Tapi, coba deh, kalau gue munculnya sesekali, saat gue gak pernah muncul, pasti orang-orang akan bertanya, “Eh, si kecebong bantet kemana? Udah migrasi ke Afrika? Atau ikutan jihad di Afganistan?” (dan pada akhirnya, gue pun menjadi perbincangan hangat di masyarakat, dan menjadi trending topic di friendster)

Well, intinya, BRANDING IS YOURS. Apapun itu, branding akan selalu melekat pada setiap individu. Sekarang semuanya bergantung pada individu masing-masing. Konsep branding yang seperti apa yang ingin kalian gunakan? Seperti Apple, kah? (yang tidak memerlukan promosi besar-besaran, tapi hanya dengan kualitas produknya saja, konsumen langsung yakin). Atau, strategi branding yang lain. Semuanya terserah pada diri kita masing-masing. Saran gue sih, pilihlah brand yang baik, karena secara gak langsung brand itu menentukan penjualan juga loh🙂 (If you know what i mean)

Udahan dulu yaa. Sekian postingan dari gue. Semoga bermanfaat bagi yang mau mengambil manfaatnya🙂 Disini gue bukannya mau mempromosikan sebuah brand atau individu tertentu Gue hanya memberikan contoh saja🙂 Sekali lagi, disini gue masih dalam tahap belajar, jadi ilmu dan pengetahuan yang gue punya juga masih cetek. So, bagi yang memiliki pengetahuan lebih, monggo, kasih masukan🙂 Siapa tau gue salah tulis atau salah dalam mengeja brand (maklum, tangan gue yang bau ikan ini masih rada grogi kalau megang-megang tuts keyboard)

Oke, sekian, dan terima kasih🙂

Bonus dari gue, sebuah video mengenai What Is Branding. Semoga melalui video ini, kita semua bisa lebih mengerti, apa itu branding, apa itu cacing, dan apa itu guling :3 mihhihi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s