Its All About Imagination

Errr– kayanya gue overdosis kafein. Gue emang jarang minum kopi. Sekalinya minum, kelopak mata gue malah gak mau nyatu. HAH. Gue musti pake cara apalagi biar mereka bisa menyatu. Huhu

Tadinya gue minum kopi biar bisa begadang buat ngerjain tugas. Tapi sayangnya malam ini sailormoon gak muncul. Jadinya gue gak punya kekuatan rembulan buat nugas. Dan akhirnya, gue memutuskan buat nonton. Kali aja gue bisa nemu inspirasi.

Well, bicara soal inspirasi, gue teringat akan perkataan salah satu dosen. Kira-kira begini bunyinya (?), “Berekspresilah seperti anak kecil”

Pas mendengar kalimat tersebut gue cuma bisa diem. Soalnya itu dosen berada persis di depan gue. Kalo banyak gerak, bisa-bisa gue balik ke kosan udah dalam bentuk puzzle.

Gue mencoba untuk menganalisa kalimat tersebut. Gue bolak-balik buku, tapi gue gak menemukan jawaban. Ternyata itu buku emang gak ada tulisannya. Gue mencoba untuk berpikir lagi, dan akhirnya gue tahu maksud dari kalimat tersebut, yaitu, Berekspresilah seperti anak kecil, gak pernah malu-malu untuk mengungkapkan sesuatu, gak pernah ragu untuk berkata “mimik maa mimik” saat merasa lapar, dan gak pernah sungkan buat nabok orang lain saat kakinya keinjek.

Maksud dari kalimat dosen gue sih sederhana. Intinya, berpikirlah sesederhana pikiran anak kecil. Saat lo lapar, ya, bilang kalo lo lapar. Saat lo gak menyukai sesuatu, ya, bilang kalo lo gak suka. Saat lo menginginkan sesuatu, ya, usaha. Muhehe

Kebanyakan orang dewasa saat ini masih malu-malu dalam mengungkapkan apa yang dirasakannya. Saat lo lapar, bukannya ngambil nasi, lo malah mikir, sekarang jam berapa? Kalo makan jam segini, bakalan gendut gak ya? Makanan yang ini enak gak ya?

Hellyeah. Terlalu banyak perhitungan. Sesungguhnya, semakin banyak kalian berhitung, maka semakin banyak pula pilihan-pilihan yang akan kalian hadapi, dan kalian akan semakin dekat dengan keraguan dan kegalauan. Sadisnya, akan berakhir dengan kegagalan.

Maksud gue begini. Anak kecil, gak pernah takut untuk mencoba sesuatu. Anak kecil juga gak pernah ragu untuk mengekspresikan apa yang mereka rasakan. Contoh sederhananya dalam hal menggambar. Menurut survey yang gak pernah gue lakukan, ada ribuan anak kecil di Indonesia yang menggambar sebuah segitiga sama kaki dan mengatakan bahwa itu adalah gunung.

Coba lo bayangkan, sebuah segitiga sama kaki bertransformasi menjadi sebuah gunung. Gak masuk akal, kan? Sejak kapan sebuah segitiga sama kaki bisa ditumbuhi pepohonan dan perkebunan teh? Sejak kapan segitiga sama kaki bisa dijadikan tempat mangkal bagi mamang penjaga vila? Sejak kapan lo bisa bakar-bakar jagung di segitiga sama kaki? Tapi bagi anak kecil, sah-sah aja kalo mereka menggambarnya begitu. Karena dalam imajinasi mereka, gunung itu adalah sebuah benda yang besar di bawah dan mengerucut di atas. So, segitiga sama kaki juga, kan?

Contoh gambar lainnya, sebuah ‘persawahan’ yang cuma ditumbuhi tanda ceklis (centang). Bener, kan? Ngaku aja deh. Dulu waktu kecil kalian suka bikin gambar yang begitu, kan? Niatnya sih mau bikin sawah. Tapi emang dasar pensilnya aja yang gak sinkron sama otak. Hasilnya malah bikin tanda ceklis sebanyak mungkin, dan mengklaim bahwa itu adalah sawah yang bakal panen raya. Funny but its reality. Imajinasi yang meletup-letup dari seorang anak kecil yang keliatan begitu konyol bagi orang dewasa (yang padahal dulunya si orang dewasa tersebut juga pernah melakukan hal yang serupa)

Well, initnya gue cuma mau menyampaikan satu hal. Dalam berkreasi gak ada batasan soal imajinasi. Mau lo ngebayangin sendok itu bentuknya persegi, kek, atau, lo mau ngebayangin televisi itu bentuknya prisma, kek. Sah-sah aja. Its all about imagination. Gak ada yang salah dalam imajinasi, karena bentuknya yang memang imajiner.

Tapi, percaya atau tidak, bentuk-bentuk imajiner tersebut bisa menghasilkan sebuah karya yang  WOW! Dan, percaya atau tidak, karya-karya tersebut juga berasal dari imajinasi anak kecil yang katanya sangat-sangat konyol.

Gue pribadi sih sangat kagum sama kreatifitas orang-orang dibalik layar produksi sebuah film animasi. Untuk sebuah adegan dalam film animasi dibutuhkan tim yang luar biasa banyaknya. Makanya, jangan heran kalau produksi sebuah film animasi membutuhkan waktu yang cukup lama. Soalnya sang kreator musti melakukan riset terlebih dahulu, trial and error, bla bla bla.

Pernah nonton Frozen? Atau, Monkey King? Alvin and The Chipmunks? Monster University?

Kalo belum pernah nonton, gue saranin nonton dulu deh. Soalnya gue bakal menjabarkan (?) imajinasi-imajinasi yang ada dalam film tersebut. Muehehe (gue digaplok pake sendal curian)

Bagi yang pernah nonton Frozen pasti udah pada kenal sama karakter Olaf, si boneka salju. Menurut logika manusia normal (normal dalam artian tanpa menggunakan imajinasi) hal tersebut pastilah mustahil. Kenapa? Iya, mana mungkin ada seonggok boneka salju yang bisa jalan kesana-kemari. Mana mungkin ada makhluk sejenis boneka salju yang berhidung wortel. Mana mungkin ada bola-bola salju yang bisa menyatu kembali setelah tubuhnya terpental sana-sini. Sangat gak masuk diakal, kan? (apalagi kalo dimasuk-masukin ke akal gue yang minimalis ini)

Tapi inilah keajaiban dari sebuah imajinasi. Orang-orang kreatif ‘dibalik’ Frozen pasti udah pol-polan ngeluarin imajinasi terliar yang mereka punya sehingga terlahirlah karya hebat sekelas Frozen (konon katanya ini film dengan laba kotor terbesar tahun ini). Dengan berimajinasi, mereka bisa menciptakan karakter ‘khayalan’ seperti Olaf, Sven, dan Troll (si manusia (??) batu).

Meskipun karakter tersebut hanyalah khayalan, orang-orang kreatif di Disney (yang memproduksi Frozen) pastinya telah melakukan riset terlebih dahulu.

Riset? Buat apa?

Iya, sebelum memproduksi sebuah film animasi, mereka harus melakukan riset terlebih dahulu agar karakter yang diciptakan gak sepenuhnya imajiner (ibarat kata 65% real, 35% imajinasi). Kenapa? Iya, karena kita hidup di dunia nyata, bukan dunia fantasi (ancol kalii). Lalu, riset yang seperti apa? Riset yang dilakukan meliputi karakter asli si tokoh, ciri khas, kebiasaan, bla bla bla. Misalnya, gue contohin si Olaf. Olaf ini diceritakan sebagai sebuah boneka salju yang dibuat oleh Anna dan Elsa sewaktu mereka masih kecil. Nah, sebelum karakter Olaf ini terbentuk, sang kreator melakukan riset terlebih dahulu mengenai bentuk asli boneka salju itu seperti apa. Apakah bulat pipih atau berbentuk bulatan padat. Lalu, si boneka salju bisa bertahan di suhu yang bagaimana, dan akan meleleh pada suhu berapa derajat. Nah, dari sifat-sifat asli seperti inilah terbentuk sebuah karakter imajiner yang bernama Olaf. Bagaimana caranya Olaf berjalan, membuka mulut, tertawa terpingkal-pingkal, ataupun terpental kesana-kemari merupakan sebuah imajinasi. Iya, hal-hal tersebut merupakan imajinasi dari si pembuatnya. Tapi yang terpenting, karakter dasar boneka salju yang ada pada diri Olaf adalah real, dan sisanya dalah imajinasi.

Satu lagi gue kasih contoh. Pernah nonton Madagascar? Dalam film tersebut terdapat banyak karakter binatang, kan? Nah, untuk film sejenis Madagscar ini membutuhkan riset yang cukup lama. Soalnya ada banyak karakter real yang akan dikembangkan menjadi tokoh imajiner. Misalnya, untuk karakter singa, harus dilakukan riset tentang bagaimana caranya singa itu berjalan, cara makan, caranya mengaum, posisi tidur, makanan favorit (gue berasa lagi nulis zodiak), bentuk bulu, corak dan warna kulit, dan sebagainya dan sebagainya. Semua ini dilakukan agar karakter yang tercipta gak sepenuhnya imajiner. Ada sisi nyata yang terselip (?) didalamnya. Ibarat kata, kita bisa menonton kehidupan para binatang tapi dari sisi yang lebih fun.

Oiya, FYI aja nih, konon katanya ada sebuah film animasi (gue lupa judulnya apa) yang mendatangkan langsung seekor singa dari Afrika khusus untuk diteliti. So, produksi sebuah film animasi itu selain membutuhkan waktu yang lama juga membutuhkan budget yang sangat besar!

Balik lagi, semuanya gak lepas dari imajinasi. Saat lo menonton Monkey King atau filmnya Sun Go Kong, pasti lo bakal ketawa terbahak-bahak, karena lo menganggap karakternya terlalu konyol bahkan untuk dibayangkan sekalipun. Iya, lo bayangin aja. Ada seekor kera yang konon katanya sangat sakti, berpakaian seperti ksatria, dan punya 2 orang adik seperguruan yang salah satunya adalah babi. Its so funny.

Tapi, coba pikir proses kreatif dibalik penciptaan tokoh tersebut.

Ada seekor kera sakti yang bertingkah laku layaknya manusia biasa. Kadang-kadang bisa naik awan, bisa juga jalan kaki (gue boro-boro naik awan, orang naik ojek aja gue suka diturunin lagi). Coba bayangkan. Imajinasi seperti apa yang harus lo gunakan agar tercipta sebuah karakter seperti itu? Seberapa gilakah orang-orang yang menciptakan karakter tersebut? Dan, kenapa adiknya Sun Go Kong harus babi? (meskipun bukan adik kandung). Dan, kenapa gurunya Sun Go Kong harus lebih tampan dari adiknya? Ada apa dengan dewi Kwan In? Apa yang terjadi di kerajaan langit?

Sekali lagi, its so funny. Tapi, dibalik kelucuan tersebut ada sebuah riset yang tersembunyi (halah). Cerita-cerita semacam Monkey King memang diangkat dari kisah masa lalu mengenai pencarian kitab suci Tripitaka (Journey to The West). Sama halnya dengan serial TV Mahabarata yang mengisahkan tentang kebaikan-kebaikan yang diajarkan Krishna. Untuk menghidupkan cerita dan membangkitkan kesan nyata, tentunya properti-properti yang digunakan haruslah ‘real’. Misalnya, hiasan kepala yang digunakan oleh Sun Go Kong. Kenapa bentuknya harus seperti itu? Apakah dalam kitab suci memang tertulis demikian atau memang ada prasasti yang memuat hal itu. Begitu juga dengan atribut yang digunakan Bishma dalam serial Mahabarata. Kenapa Bishma berpakaian seperti itu? Apakah raja-raja pada jaman dahulu mengenakan pakaian kebesaran yang demikian? Apakah raja terdahulu memang mengendarai kuda? Satu lagi, dalam film Gladiator. Para tokohnya mengenakan pakaian Romawi kuno, kan? Nah, pertanyaannya, apakah pakaian Romawi kuno memang begitu adanya? Apakah senjata yang digunakan bentuknya memang seperti itu?

Well, semuanya memang membutuhkan riset. Meskipun karakter yang diciptakan adalah buah karya dari imajinasi.

Intinya, jangan takut unuk berimajinasi. Selama lo gak mengimajinasikan hal-hal yang bukan hak lo. Misalnya, lo ngebayangin kalo gue yang jadi istrinya Prince William. Jangan. Jangan menginajinasikan hal-hal terkutuk semacam itu. Imajinasikanlah hal-hal yang baik, agar terlahir hal-hal yang baik pula. Bebaskan pikiran lo sebagaimana anak-anak kecil membebaskan pikirannya. Orang dewasa memang punya banyak beban. Tapi gak ada larangan bagi orang dewasa untuk berkata jujur, kan? Seperti halnya anak kecil yang gak malu-malu bilang “Maaa mimik maa” saat ia merasa lapar (meskipun nyokapnya sedang mengikuti arisan panci bekas). Jangan takut untuk berimajinasi, karena berimajinasi itu gratis, dan impactnya, lo akan mendapatkan hal-hal yang menakjubkan dari imajinasi lo sendiri.

Oiya, bicara soal gambar anak kecil, coba deh, nonton film Mama. Dalam film tersebut terdapat beberapa buah gambar yang merupakan coretan-coretan dari anak kecil (yang keliatan konyol dan funny). Meskipun gambarnya acak-acakan atau bahkan tak berbentuk, tapi gambar-gambar tersebut memiliki nilai jual, kan? Buktinya, coretan-coretan absurd dari anak-anak tersebut bisa muncul di film Mama (yang ditonton oleh ratusan ribu orang diseluruh dunia).

So, masih malu-malu untuk berimajinasi?

Nih, gue kasih bonus salah satu karya gue yang membutuhkan proses imajinasi terlebih dahulu. Gue gak mau bilang kalo karya ini bagus. Intinya sih, gue cuma pengen sharing aja. Inget yaa, jangan melanggar hak cipta~

02 - Copy

Ini adalah poster yang merupakan tugas UTS gue di mata kuliah Copywriting. Gue ngerjain ini poster dalam waktu 7 hari. Iya, 7 hari. Soalnya gue musti melakukan riset kecil-kecilan terlebih dahulu. 3 hari pertama gue gunakan untuk nonton film sambil tiduran. 2 hari berikutnya gue pakai untuk nonton film sambil ngupilan, terus upilnya gue masukin toples biar mengembang dan jadi banyak. 1 hari gue gunakan buat beribadah yang khusyu, dengan harapan gue akan mendapatkan inspirasi dari Tuhan. Dan sisanya, di hari terakhir, gue pegunakan untuk finishing. Maka, terciptalah poster ini. Muahaha

Kenapa gue menggunakan dasi? Kenapa gue menggunakan tuts keyboard? Kenapa gue memberikan tekstur pada backgroundnya? Kenapa gue memberikan warna yang berbeda paa kata COPYWRITER?

Balik lagi, ada riset yang tersembunyi dibalik sebuah proses imajinasi😀 ngehehe~

Sampai jumpa pada postingan berikutnyaa~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s