Buat Apa Kuliah?

Alohaa~ *ceritanya gue baru balik dari hawaii*

Udah sekian lama gue gak nulis apa-apa di blog ini. Tadinya gue mau nulis dari jauh-jauh hari, tapi sering kelupaan. Iya, gue sering lupa kalo gue ini punya blog. Saking pelupanya, gue malah sering login ke blog tetangga muehehe

Gak kerasa udah seminggu gue mulai kuliah (lagi). Setiap kali nyampe kampus hati gue serasa diiris-iris pake pensil tumpul. Iya, rasanya sakiiiiit banget. Lebih sakit dari nelen panadol lewat idung. Ngeliat maba unyu pake item-putih ke kampus, ngeliat anak-anak lulusan SMA pada wara-wiri, gue baru nyadar, ternyata SATU SETENGAH TAHUN LAGI gue musti lulus. Huhu. Ini yang namanya tragedi mahasiswa semester lima. Disebut senior, belum waktunya. Disebut junior, udah expired. Huh!

Well, Rabu yang lalu gue masuk kelas Studio DKV 3 (matakuliah yang satu ini emang sadis banget, ini matakuliah menghabiskan 6SKS cuma buat dirinya sendiri! egois banget, kan!). Ini pertemuan pertama di semester 5. Ceritanya dosen gue mau basa-basi dulu sama mahasiswa. Cerita-cerita tentang masa lalu (tentang bagaimana Sun Go Kong bisa kenalan sama Pat Kai). Ceritanya pun mulai ngebosenin sampai akhirnya dosen gue mengeluarkan sebuah kalimat ajaib yang berbunyi, “Gak perlu dapet nilai bagus selama kuliah, soalnya gak akan ada mamang gorengan yang nanyain transkrip nilai kalian!”

Pas mendengar kalimat tersebut gue cuma bisa makan gorengan (soalnya si mamang gak pernah kepo soal nilai gue). Gue sempet nyeletuk, “Gila juga nih dosen!” (tentunya gue ngomongnya dalam hati, iya, dalam hati temen maksudnya muehehe). Tapi setelah dipikir-pikir ada benernya juga sih. Gue kuliah buat apa, dan untuk siapa?

Gue sempet berpikir beberapa saat. Tapi yang terlintas di otak gue cuma catatan utang dan cucian kotor (otak gue emang jarang dibersihin). Gue mencoba untuk berpikir lagi sampai akhirnya gue menemukan pertanyaan-pertanyaan baru, “Buat apa kuliah?”, “Cuma buat dapetin transkrip nilai? Bawa pulang ijazah? Terus ijazahnya dipake buat ngelamar kerja sekalian ngelamar anak orang? Terus, buat apa kerja? Buat nyari uang? Terus uangnya dipake buat jajan batagor sama roti bakar, sisanya buat bikin rumah sama naikin orang tua pergi haji? Jadi, klimaksnya, KULIAH BUAT NYARI UANG?”

Pertanyaan-pertanyaan itu terus-terusan diputer di otak gue. Sampai akhirnya gue mabok dan tak sadarkan diri.

Well, gue mahasiswa. Dan barangkali juga ada mahasiswa-mahasiswa lainnya yang baca tulisan gue. Coba, inget-inget lagi, tujuan kita kuliah itu buat apa? Lulus, wisuda, cari kerja, gajian, nikah, punya anak, terus mati? Cuma sebatas itu? Atau, ada yang lain?

Dulu, gue pribadi juga kepikiran tentang  “kuliah buat nyari kerja, kerja biar bisa nyari uang, uang bisa dipake buat beli makan, makan bisa buat hidup, hidup juga ujung-ujungnya bakalan mati”

Tapi sekarang, setelah 3 tahun lebih menjadi mahasiswa, gue ngerasa ada sesuatu yang beda. Gue ngerasa bahwa kuliah itu bukan hanya sekedar tuntutan dan kewajiban, tapi juga sebagai kebutuhan. Setelah 3 tahun lebih kuliah, gue mendapatkan hal-hal baru yang gak akan pernah gue temukan diluar sana. Gue belajar banyak hal, salah satunya, jangan memaksakan sesuatu jika memang bukan kapasitasnya.

Iya, dulu (dulu banget, waktu Naruto masih suka pake singlet kalo kemana-mana) gue pernah kuliah di Fakultas Kedokteran Hewan di salah satu Universitas Negeri di Sumatera. Setelah 2 semester belajar disana, gue baru sadar bahwa jadi dokter bukanlah passion gue (yang mana diluar sana ada banyak orang yang ‘mengelu-elukan’ profesi dokter). Kalau gue ikut-ikutan gengsi, pastilah gue bakal mati-matian belajar biar bisa jadi dokter. Tapi balik lagi, dokter bukan passion gue. Dan gak ada untungnya juga kalau gue memaksakan diri untuk jadi dokter. Makanya, setelah 2 semester, gue memutuskan untuk pindah kuliah ke Bandung (ke salah satu Universitas Swasta). Gue lebih memilih untuk menjadi mahasiswa di jurusan DKV, karena menurut gue, disinilah gue bisa berekspresi dengan ‘bebas’ tanpa harus terikat rules yang kaku. Dan yang terpenting, disinilah passion gue muehehe

Ada gap yang sangat jauh, memang. Dulu, gue kuliah di Universitas Negeri dan nyaris jadi Dokter. Dan sekarang, gue kuliah di Universitas Swasta dan belum tau mau jadi apa pas udah lulus nanti. Tapi setelah gue jalani, gue semakin mengerti, bahwa kuliah bukanlah untuk mencari sebuah profesi. Bukan soal mau jadi apa setelah kuliah. Bukan soal mau kerja dimana setelah lulus nanti. Bukan soal bakal digaji berapa dan di perusahaan mana. Tapi kuliah itu soal mengolah budi pekerti, imajinasi, kemampuan bersosialisasi, dan masih banyak lagi (gue berasa lagi nulis sajak)

Kalau ada yang bilang, “Wah, mending kuliah di Universitas XX aja. Lulusannya banyak yang diincer perusahan besar loh”. “Wah, mending ngambil jurusan XX aja. Lulusannya digaji miliaran loh”. “Wah, mending kuliah di Universitas XX aja. Parkirannya luas loh” (yakali aja ada orang yang ngomong gitu)

Well, kalau kita (termasuk gue) memilih untuk kuliah cuma buat nyari uang, kerja di perusahaan XX dengan gaji yang gak kehitung berapa banyak NOL-nya, berarti selama ini kita udah salah niat. Kalau mau nyari uang, gak pake kuliah dulu juga bisa keleus (gue mendadak alay). Cukup buka warung tenda pinggir jalan, atau jualan ayam bakar juga udah menghasilkan uang, kan? Bener, kan? Kalau tujuan akhir dari kuliah hanya untuk mencari uang, lantas, kenapa gak nyari uang dari sekarang aja? Toh, kuliah gak kuliah tujuan akhir kita tetap sama, orientasi kita tetap satu, yaitu uang. Yap, it’s all about money.

Gue pribadi sih, bercita-cita untuk jadi ibu rumah tangga nan cantik jelita (iya, cita-cita gue emang sederhana banget). Meskipun keliatannya sepele dan gak berkelas, tapi buat jadi ibu rumah tangga itu ternyata susah loh! Butuh soft skill dan hard skill yang mumpuni. Ibarat kata, jika lo mau berangkat perang (at least main perang-perangan sama bocah samping rumah) minimal lo harus punya senjata biar bisa menang. Entah itu pisau dapur, pistol air (pistolnya diisi air raksa biar bisa melumpuhkan lawan dalam sekejap), merica (buat ditaburin di mata musuh), peniti (buat ditusuk-tusukin ke boneka voodoo), karet gelang, dan lain-lain. Intinya, kalau mau berperang, lo musti punya senjata dan pengetahuan tentang perang. Kalau lo mau terjun ke masyarakat, lo harus punya skill yang bisa dipertanggungjawabkan dan pengetahuan tentang masyarakat itu sendiri. Nah, itulah esensi kuliah yang sebenarnya.

Untuk jadi ibu rumah tangga yang baik, tentunya gue harus punya pengetahuan yang baik pula. Biar gue bisa mendidik anak-anak gue kelak (Yaa Tuhan, gue lagi ngomongin apaa). Seenggaknya, pas anak-anak gue nanya, “Bu, bahasa inggrisnya Gajah, apa?” gue dengan bangga akan menjawab “Elephant, nak” (gue pun mimisan).

Seenggaknya, dengan pengetahuan yang gue dapatkan selama kuliah, gue bisa mendidik anak-anak dengan cara yang lebih baik. Dengan style yang berbeda. Karena percaya atau tidak, cara seseorang mendidik anaknya dipengaruhi oleh tingkat pendidikannya loh!

Nah, itulah salah satu tujuan gue kuliah. Selama kuliah, gue mendapatkan hal-hal baru, hal-hal kreatif yang selama ini belum gue ketahui. Karena memang, gue kuliah di jurusan yang berhubungan dengan kreatifitas. Kini, gue jadi sadar, bahwa makan itu gak harus pakai piring. Lo bisa makan pakai mangkok, gelas, daun, atau bahkan sol sepatu sekalipun. Kenapa? Karena esensi dari makan itu sendiri adalah memasukkan benda ke dalam tenggorokan, kan? Jadi, selama benda itu bisa masuk ke mulut dan melalui tenggorokan, itu berarti lo udah makan, kan? Gak peduli lo mau masukin bendanya pake sendok, kek, atau, pakai lidi kek, atau sekop kek, terserah. Intinya, itu benda udah masuk ke tenggorokan. Selesai.

Selama kuliah gue juga belajar hal-hal diluar logika. Seperti, tidak selamanya sapu digunakan untuk menyapu. Nah, bingung kan lo? Iya, menurut kamus besar bahasa uba-uba, sapu adalah benda yang digunakan untuk menyapu. Tapi kenyataannya, nyokap gue juga menggunakan sapu untuk ngambil mangga depan rumah. Di kosan gue juga menggunakan sapu buat ngusir kucing yang suka rebutan makanan sama gue.  See? Kehidupan itu gak selamanya kontekstual. Dan gue belajar banyak tentang hal ini di bangku kuliah😀

Well, mungkin tujuan kita kuliah berbeda-beda. Ada yang kuliah untuk mendapatkan gelar sarjana, ada juga yang karena gengsi atau biar dianggap pinter. Ada. Ada banyak orang yang berpikiran kaya gitu. Coba, pikir-pikir lagi, BUAT APA KULIAH? Biar kita gak salah jalan. Biar kuliahnya gak sia-sia. Biar gak ngabisin uang orang tua. Biar cepet nikah juga ngaha.

Soal transkrip nilai, jangan terlalu diambil pusing. Karena itung-itungan nilai di bangku kuliah itu percampuran antara usaha, doa, dan keberuntungan. Kalo lo lagi apes, mau belajar sampe mimisan pun tetep aja dapet nilai D. Tapi, percaya atau tidak, kalau kita udah belajar dengan baik, itu transkrip nilai juga bakal ketularan baik. Balik lagi ke teori fisika, suatu benda akan berpindah jika diberi gaya. Nilai lo bakal merangkak naik jika lo gak gaya-gayaan di kampus. Ngerti, kan maksud gue? (kayanya gue layak mendapat award sebagai pembantu dosen terpuji).

Udah, ah. Gue gak mau nulis panjang lebar. Ntar dikiranya gue sok-sok-an ceramah lagi. Intinya sih, gue cuma kepikiran tentang topik ini, dan gue harap mahasiswa lain juga memikirkan hal yang sama. Jadi, selamat berpikir, yaa~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s