Fashionable = Capable?

Hooii. Hari ini hari Senin~ Gue cuma mau kasi tau kalo besok itu Selasa~ (iya, tabokin aja gue sesuka hati kalian)

Well, Sabtu kemaren terasa berbeda. Setelah sekian lama, akhirnya gue bisa ngerasain nikmatnya weekend. Huhu. Iya, selama 2 semester belakangan, gue selalu kuliah disaat weekend. Dan semester ini, muahaha. Akhirnya gue bisa bikin status di medsos dengan menyertakan kata “weekend” (sumpah ini gak penting banget buat dibahas)

Eh, sebenernya gue mau cerita. Weekend kali ini gue pergi main sama temen kosan. Gue mainnya ke daerah Cihampelas. Agak canggung, sih. Soalnya gue terbiasa main di lumpur. Jadi pas diajak main ke mall, gue bingung milih-milih baju (gue pikir masuk mall harus pake dresscode gitu ngaha). Malah, pas masuk mall, gue sempet mau buka sepatu. Untung gue keburu inget, kalo gue itu mau masuk mall, bukannya mushalla.

Seperti mall-mall lainnya, di mall yang gue masuki tadi (ini kalimat, sumpah, ambigu banget) gue ngeliat berbagai corak pakaian. Ceritanya hari ini gue mau jadi pengamat fashion, gitu. Ternyata, zaman sekarang emang banyak kemajuan, dan makin edan. Coba aja perhatikan lingkungan sekitar. Pakaian yang dulunya dianggap tabu, sekarang jadi layak dikonsumsi (yakali kalo itu pakaian mau diemut kayak permen). Maksud gue, zaman sekarang itu tak ubahnya seperti zaman purbakala, dimana manusianya masih belum bisa membedakan yang mana daun, yang mana baju. Atau, daunnya yang dijadiin baju?

Di semester yang lalu gue pernah belajar tentang sejarah desain. Salah satu materi kajiannya adalah perkembangan desain di masa revolusi industri (zaman dahulu). Orang-orang Eropa zaman dahulu mengenakan pakaian yang tertutup, rapi, serta elegan. Coba, liat aja di film-film kolonial zaman dulu. Pasti wanita-wanita Eropa mengenakan pakaian semacam dress panjang semata kaki, tidak terlalu ketat, dan berlengan panjang. Tapi, coba liat wanita Eropa zaman sekarang. Huhu.

Well, ini merupakan salah satu bukti adanya pergeseran norma seiring dengan pergeseran zaman. Hal-hal semacam ini bisa terjadi salah satunya karena ada pengaruh dari media. Iya, media sangat berperan dalam pergeseran tatanan hidup di masyarakat. Mau bukti? Nih, gue kasi gambar..

5yhh
Apa yang lo rasakan pas ngeliat gambar di atas? Terangsang pengen makan? Atau ngiler? (terus ilernya ditampung di botol, dimasukin kulkas, dan besoknya langsung diminum?) Atau, langsung nyari toko bangunan terdekat buat beli kue?

Well, sebenernya kasus ini sangat sederhana. Kita (termasuk gue, keluarga gue, dan keturunan gue kelak) akan merasa terangsang saat melihat gambar yang demikian. Kalo gue, pasti gak bisa tidur gara-gara kepikiran itu stroberi yang keliatan menggoda sambil bilang, “Mas, makan aku mas! Makan aku!!”

Nah, pertanyaannya, kenapa kita bisa terangsang dan ngiler? Padahal kalau dipikir-pikir, si stroberi dan keluarganya itu hanyalah sebuah gambar 2dimensi. Alias gak nyata. Alias fake. Alias cuma khayalan. Tapi, kenapa manisnya stroberi bisa kerasa di lidah? Inilah yang disebut dengan image atau imagi (berhubungan dengan imagology). Atau, istilah sederhananya, suatu gambar (citra) atau bayangan, dapat mempengaruhi pola pikir seseorang.

Nah, inilah yang gue maksud dengan media yang tadi. Suatu media akan mempengaruhi kinerja otak lo. Saat lo melihat GAMBAR makanan, lo akan terangsang dan merasa lapar (at least lo akan ngiler setetes demi setetes). Saat lo melihat GAMBAR cewek cantik, lo akan buru-buru pulang, ambil wudhu dan langsung shalat minta hujan (yakali kalo lo itu jomblo yang punya dendam kesumat). Saat lo melihat GAMBAR (katalog) pakaian musim panas, lo akan teriak “Wanjeeehh, ini baju keren bangeeet!!” Kenapa bisa begitu? Padahal yang lo liat hanyalah GAMBAR 2 dimensi, bukan barang aslinya. Yang lo liat hanyalah katalog pakaian, lembaran kertas, bukannya pakaian aslinya, dan lo gak tau itu pakaian terbuat dari bahan apa, dengan ukuran yang bagaimana, dan model asli yang seperti apa. Tapi, kenapa lo bisa yakin kalo itu pakaian bagus? Lagi-lagi, inilah yang disebut dengan pencitraan (image). Karena di dalam otak kita masing-masing terdapat sebuah brankas yang menyimpan informasi, mana pakaian yang bagus, mana yang bukan. Mana makanan yang enak, mana yang udah basi.

Well, tulisan gue udah mulai ngelantur sana-sini. Sebenernya gue mau menyampaikan pesan dari Prof. Upil yang gue temui tadi siang (waktu gue lagi jalan-jalan di mall). Di mall itu, Prof. Upil lagi melakukan penelitian kecil-kecilan (yah, sesuai sama ukuran badannya). Beliau meneliti tentang fashion. Yah, sebenernya gue agak ragu, sih, sama hasil penelitiannya. Tapi karena gue kasihan sama beliau, akhirnya gue memutuskan untuk menyebarluaskan hasil penelitiannya di blog ini.
Salah satu dari sekian banyak hasil penelitian Prof. Upil adalah, beliau berhasil mengklasifikasikan manusia ke dalam 4 golongan (berdasarkan tingkat intelegensi serta selera fashion). Entahlah, gue juga gak ngerti sama hasil penelitiannya. Tapi, daripada gue dikutuk jadi kutu loncat, gak ada salahnya juga kalian baca penuturan berikut (?)

Menurut Prof. Upil (yang katanya lulusan terbaik di kampungnya ini) manusia modern dapat dikelompokkan ke dalam 4 golongan, yaitu, manusia Tipe A, Tipe B, Tipe C, dan Tipe D (gue rasa Prof. Upil lagi mengklasifikasikan model rumah, bukannya golongan manusia).

IMG(ini gambarnya Prof. Upil. beliau ngegambar pake jempol kaki)

Manusia Tipe A, adalah manusia yang seimbang lahir dan batin. Kata Prof. Upil, manusia kategori ini adalah manusia yang berhasil menyeimbangkan antara brain and fashion. Maksudnya, orang-orang Tipe A, adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi, berpengetahuan luas, serta memiliki selera fashion yang baik. Makanya, mereka akan memakai pakaian yang enak dipandang. Kenapa? Karena pengetahuannya-lah, yang membuat mereka tahu, mana pakaian yang baik, dan mana pakaian yang tidak baik (bingung, kan, lo?)

Gini, gue kasih contoh. Lo bayangin aja kalo gue ini adalah manusia Tipe A. Gue kuliah di salah satu Universitas terkenal di kampung gue. Sebagai salah satu mahasiswa terbaik, tentunya gue memiliki wawasan yang juga baik. Karena setiap hari gue membaca majalah dan koran berbahasa sanskerta (kebayang, kan, betapa pinternya gue). Dengan pengetahuan yang seperti ini, gue akan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Tentunya gue akan memilih pakaian yang ‘berkelas’ sesuai ‘kelas’ gue (sebagai seorang mahasiswa dari Universitas terkenal yang berpengetahuan tinggi). Kemana-mana gue memakai kacamata (biar keliatan pinternya). Gue juga akan mengenakan barang-barang branded, karena gue tahu kalau barang-barang branded pastilah mahal. Dan gue akan menghindari memakai barang-barang KW (karena gue tahu bahwa pembajakan itu dilarang).

Intinya sih, sebagai seseorang yang pintar secara akademis (dan memiliki banyak referensi) tentunya gue juga akan pintar dalam memadu-padankan pakaian. Istilahnya, keindahan pakaian yang gue pakai adalah cerminan dari keindahan struktur otak gue muehehe. Contoh orang-orang bertipe A (versi Prof. Upil) adalah Dian Sastro dan Annisa Pohan. Dian Sastro, mau dilihat dari sudut mana pun tetep aja keliatan cantik dan modis. Iya, cantik fisik dan cantik budi. Begitu juga dengan Annisa Pohan. Saat diajak diskusi, atau ditanya mengenai suatu hal, kedua wanita cantik ini akan menjawab dengan cara yang sangat berkelas (sesuai dengan tingkat pendidikannya). Inilah yang disebut dengan paket lengkap. Pintar di dalam, dan cantik diluar😀

Manusia Tipe B, adalah golongan manusia yang modis di luar, dan sederhana di dalam. Sederhana yang dimaksud Prof. Upil adalah, minimnya kapasitas otak, alias gak pinter-pinter banget. Kenapa mereka keliatan modis? Bukannya tadi Prof. Upil pernah bilang, bahwa ke-modis-an seseorang juga dipengaruhi oleh wawasannya? (bentar..bentar..gue nanya dulu sama Prof. Upil)

Eheum, berdasarkan hasil penelitian Prof. Upil sehari yang lalu, manusia Tipe B tampil modis untuk menutupi kekurangannya. Iya, ‘kekurangan’ kapasitas otaknya. Karena gak terlalu pinter-pinter amat, makanya mereka melakukan semacam kamuflase agar keliatan pinter. Ngerti, kan, maksud Prof. Upil?

Gini deh, gue kasih contoh. Salah satu manusia Tipe B yang ada di muka bumi ini adalah Prof. Upil sendiri. Iya, Prof. Upil yang meneliti hal ini. Agar disegani oleh penduduk kampung, Prof. Upil selalu tampil modis kalo pergi kemana-mana. Malah waktu itu gue pernah ngeliat Prof. Upil pake tuxedo. Gue ikutin kemana Prof. Upil pergi. Gue pikir beliau mau ke acara nikahan anaknya pejabat. Eh, gak taunya. Prof. Upil cuma mau ke minimarket beli odol bekas. Huh. Gue sebel.

Pas gue tanya, Prof. Upil cuma bilang, “Dunia ini penuh dengan sandiwara, anak muda!” Terus Prof. Upil menghilang gitu aja, ditengah asap knalpot.

Well, setelah dipikir-pikir, teori Prof. Upil mengenai manusia Tipe B ini emang bener adanya. Coba aja liat disekitar kita. Pasti adaaa aja orang-orang yang OMDO alias bisanya cuma omong doang tapi tampilannya…wiiihh kayak anak SMA yang baru pulang olimpiade!

Yah, contohnya Prof. Upil tadi. Kalo melihat dari tampilan luarnya, pasti semua orang bakalan yakin bahwa Prof. Upil itu emang beneran pinter. Tapi, coba, kasi pertanyaan tentang perkalian anak SD. Atau, ajakin Prof. Upil buat diskusi tentang hal-hal disekitar. Gue jamin, kalian gak akan sanggup menatap matahari esok pagi! Soalnya jawaban Prof. Upil pasti ngaco semua!

Manusia Tipe C, adalah manusia yang minimalis di luar, maksimal di dalam. Orang-orang bertipe C, menurut Prof. Upil tidak terlalu mementingkan penampilan. Bagi mereka, kualitas mereka akan terpancar dengan sendirinya, tanpa harus mengekspos bentuk luarnya (hah! gue juga gak ngerti maksud dari kalimat ini).

Langsung aja deh, gue kasih contoh. Salah satu manusia Tipe C yang gue ketahui adalah Om Bob Sadino. Ada yang kenal? Konon katanya, beliau ini adalah idolanya Prof. Upil, semenjak Prof. Upil masih menetap di U.S (entah apa yang dilakukan Prof. Upil selama di U.S)

Om Bob Sadino ini adalah salah satu pengusaha terkaya di Indonesia. Beliau ini adalah pemilik dari jaringan usaha Kemfood dan Kemchick (bagi yang suka nonton acara-acara yang berbau wirausaha pasti udah familiar sama Om Bob). Sebagai seorang pengusaha sukses, pasti kebayang dong, berapa tebal pundi-pundi uangnya? Dan FYI aja nih, Om Bob ini berasal dari keluarga yang juga kaya raya. Beliau pernah menetap di beberapa negara Eropa. Lagi-lagi, kebayang, kan, betapa ‘pinternya’ beliau?

Seseorang yang berasal dari keluarga yang berkecukupan, wara-wiri dan menetap di beberapa negara di Eropa, dan pemilik dari jaringan usaha terkemuka, udah kebayang, gimana penampilan beliau? Bukan..bukan. Om Bob gak pernah pake tuxedo ke minimarket. Beliau juga gak pernah pake setelan jas yang branded. Yang beliau kenakan sehari-hari hanyalan celana jeans pendek, dan kemeja yang juga berlengan pendek.

Iya, pakaiannya emang minimalis banget. Tapi otaknya gak seminimalis penampilannya. Bagi orang-orang seperti Om Bob ini, penampilan bukanlah segalanya. Atau, istilah sederhananya, “Buat apa mengekspos penampilan luar, toh orang-orang juga bakalan tau dengan sendirinya (kualitas diri), hanya dengan melihat track record kita”

Atau, istilah lainnya, gak perlu pake barang-barang branded untuk menunjukkan kualitas diri kita. Bukannya gak mampu beli barang mewah, tapi buat apa barang mewah, kalau kapasitas otak kita gak semewah tas yang kita tenteng? Mau pake sendal jepit pun, kalau otak kita emang mumpuni, orang-orang disekitar juga bakalan ngangguk-ngangguk sendiri pas mendengar gagasan kita. Bener, gak?

Nah, kira-kira begitulah gambaran dari manusia Tipe C. Tentunya berdasarkan penelitian kecil-kecilan dari Prof. Upil.

Kategori terakhir, manusia Tipe D. Yang ini adalah tipe yang terakhir (iyaaa udah dijelasin sebelumnya kok). Manusia jenis ini sama-sama balance (seperti manusia Tipe A, tapi ini kebalikannya). Jika Tipe A, indah di luar dan mumpuni di dalam, nah, Tipe D, minimalis di luar, pas-pasan di dalam. Contohnya? Gue. Huhu

Orang-orang bertipe D biasanya berpenampilan biasa-biasa aja. Ada beberapa kemungkinan akan hal ini. Pertama, mereka (eh salah!) Gue, berpenampilan biasa-biasa aja karena otak gue juga biasa-biasa aja. Kedua, gue berpenampilan biasa-biasa aja karena pengetahuan gue yang juga biasa-biasa aja. Atau, yang ketiga, gue berpenampilan biasa-biasa aja karena gue emang pengennya yang biasa-biasa aja. Nah, kalian tinggal pilih sendiri alasannya muehe

Intinya, gue dan segenap manusia Tipe D lainnya adalah orang-orang yang biasa-biasa aja.

Well, menurut Prof. Upil, orang-orang Tipe D berpenampilan biasa-biasa saja. Hal ini bisa disebabkan oleh pengetahuan mereka yang memang terbatas. Karena keterbatasan inilah, mereka tidak mengetahui (dengan pasti) mana pakaian yang bagus, mana yang tidak. Mana barang branded, mana yang KW. Mana pakaian yang cocok untuk pergi kondangan, mana pakaian buat pemakaman. Dan, karena keterbatasan pengetahuan pula, mereka juga cenderung memakai apa saja, yang penting ada. Maksudnya, mereka (eh, salah lagi!) gue, gak terlalu ambil pusing saat memilih pakaian. Bagi gue, yang penting ada baju yang bakal dipakai. Soalnya gue gak terlalu memikirkan lingkungan sekitar. Gue gak terlalu mikirin bagaimana pendapat orang lain jika gue memakai baju A, bagaimana reaksi nyokap waktu gue memakai celana B, bahkan gue juga gak peduli apa kata dosen waktu gue pake piyama ke kampus. Iya, karena pengetahuan yang terbatas, makanya gue bisa bertindak demikian. Dan satu lagi, karena ‘koneksi’ yang kurang banyak (maksudnya gak banyak orang-orang penting di sekeliling gue) jadinya gue cenderung cuek mau berpakaian seperti apa.

Lain halnya dengan 3 Tipe di atas tadi. Orang-orang tipe A, B, dan C memiliki koneksi yang ‘cukup’ baik. Terutama Tipe A dan C. Orang-orang pintar, cenderung bergaul dengan sesama orang pintar. Orang-orang pintar pastilah kritis dalam hal apapun. So, jika bergaul dengan orang pintar, tentunya kita akan menyesuaikan diri, kan? Karena ada banyak mata yang akan memperhatikan kita. Dan, satu lagi. Orang pintar biasanya peka akan estetika muehe

Well, berakhir sudah petualangan penelitian Prof. Upil. Jangan dianggap serius hasil penelitian ini. Karena akurasinya hanya 0,01%. Mohon maaf bagi nama-nama yang disebutkan dalam tulisan ini. Gue mewakili Prof. Upil hanya ingin menyampaikan apa yang sempat terpikirkan, tanpa ada maksud untuk menyinggung individu tertentu😀

Selamat berpikir~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s