Kreatif Sampai Mati

Apa yang kalian pikirkan saat mendengar kata kreatif? Seorang seniman? Musisi? Pekerja seni?

Well, mungkin judul tulisan gue kali ini rada mirip sama judul sebuah buku (karangan siapa…gue lupa). Intinya sih, gue sama si pengarang buku itu ingin menyampaikan hal-hal yang berbau kreativitas, tapi dengan cara dan jalan yang berbeda. Muehehe

Setelah menjalani perkuliahan hari ini, gue mendapat sebuah pencerahan, bahwa, kreativitas itu gak ada matinya, dan kreativitas itu mahal harganya!

Gak percaya? Nih, gue kasih Behind The Scene-nya Sony Bravia yang bakal bikin kalian mangap-mangap saking takjubnya…

Eits, setelah melihat behind the scene, sekarang, lihat hasil akhirnya…

Eh, apa gue kebalik, ya? Harusnya gue kasi liat hasil akhirnya dulu, baru behind the scene, biar kalian mangapnya lebih lebar. Tapi, intinya sih sama aja. Gue pengen kasi liat bahwa proses dalam pembuatan sebuah karya itu gak gampang. Untuk menghasilkan sebuah karya yang amazing, dibutuhkan biaya yang sangat besar, tenaga dari orang-orang yang luar biasa banyak, properti yang luar biasa bagus, dan orang-orang kreatif yang super duper gila.

Kenapa gue menyebut si kreatif itu dengan sebutan gila? Iya, orang waras mana yang mau ‘meledakkan’ ribuan liter cat ramah lingkungan? Orang waras mana yang kepikiran ide gila semacam itu? Iya, hanya orang gila yang punya ide gila. Karena orang waras gak akan mau melakukan hal gila. Muehehe

Well, sebenernya gue mau menyampaikan satu hal. Gue pengen setiap designer, ataupun orang-orang di balik layar (orang-orang kreatif) mendapatkan suatu apresiasi yang setimpal. Hargai mereka, bukan hanya dengan materi semata. Hargai mereka, karena karyanya. Karena usahanya. Karena jerih payahnya. Dan yang terpenting, hargai mereka karena idenya. Soal teknis ataupun eksekusi di lapangan, siapapun bisa melakukannya. Tapi soal ide, gak semua orang berpikiran sama. Dan gak semua orang mau memikirkan hal gila.

Kenapa gue menulis ini, karena gue pribadi juga mengalami hal yang sama. Ada beberapa orang (sebut saja mereka itu adalah temen gue, atau orang-orang yang mengaku temen gue) nyamperin gue, dan dengan entengnya ngomong, “Eh, bikinin sketsa muka gue dong”, atau, “Eh, bikinin gue desain ini dong”.

Hellyeah, ngomong sih gampang. Tapi gue-nya yang puyeng. Dikira bikin sketsa anak orang sama kayak nempelin upil di meja belajar kali yaa. Huhu. Sekali lagi, soal teknis, siapapun bisa melakukannya. Siapapun bisa menggambar. Tapi tidak semua orang tau mau ngegambar apa. Bener, kan?

Nah, kenapa gue kasi liat video Sony Bravia yang tadi? Karena gue pengen menyebarluaskan (?) proses panjang dalam pembuatan sebuah karya. Agar orang-orang juga tau, bahwa iklan yang durasinya cuma 1 menit membutuhkan waktu produksi yang sangat lama, dan persiapan yang sangat matang.

Contoh kasusnya, yaa iklan Sony Bravia tadi (inget yaa, disini gue bukannya lagi promo produknya sony). Untuk menghasilkan iklan yang colorful seperti Sony Bravia ini membutuhkan ribuan liter cat ramah lingkungan. Iya, cat ramah lingkungan yang akan diledakkan diseluruh penjuru gedung. Untuk meledakkan ribuan liter cat tersebut, tentunya lo harus punya itung-itungan fisika doong. Seberapa besar tekanan yang dibutuhkan agar wadah-wadah cat tersebut bisa meledak. Seberapa banyak bahan peledak yang digunakan agar takarannya pas dan tidak membahayakan. Dimana si botol-botol (?) cat itu diletakkan agar saat diledakkan itu cairannya langsung menyembur keluar gedung. Seberapa lama jeda (peledakkan) antar botol (?) agar didapatkan irama yang pas. Seberapa cepat gerakan kamera agar pergerakannya sesuai dengan irama ledakan si cat. Dan inget loh, iklan Sony Bravia ini menggunakan teknik pengambilan gambar one take, alias hanya satu kali pengambilan gambar. Kalau gagal? Lo harus mengulang semuanya dari awal. Dan itu artinya? Lo harus menyediakan ribuan liter cat ramah lingkungan (lagi), membersihkan ulang si gedung (karena kalo gagal, pasti si gedung udah cemong sana-sini), lo juga harus menyiapkan bahan peledak (lagi dan lagi). Kebayang capeknya?

Nah, disinilah. Sampai di tingkat ini, gue pengen banget setiap orang yang berada di belakang layar itu mendapat penghargaan yang setimpal. Gak melulu soal materi. Tapi seenggaknya, lo gak cuma asal nyuruh atau asal minta bikinin sebuah karya. Karena mikir itu pusing, cuy. Apalagi eksekusinya.

Contoh lainnya, saat di bioskop. Ada yang pernah nonton di bioskop? Nah, di bioskop, saat filmnya udah tamat, habis, dan the end, itu lampu langsung nyala. Seluruh ruangan bioskop langsung terang benderang, dan pintu keluar pun langsung keliatan. Padahal, setelah kata TAMAT itu ada sederet nama yang telah berjasa dalam pembuatan sebuah film. Tanpa orang-orang tersebut, kita (termasuk gue) gak akan bisa menikmati karya-karya yang berkualitas. Tanpa orang-orang kreatif tersebut, gue gak akan terkaget-kaget nonton Annabelle (yang mana itu film sukses bikin gue parno setengah mati pas dijalan mau pulang). Tapi nyatanya? Saat itu film udah habis, dan lampunya dinyalakan, orang-orang pada langsung pulang, kan? Gak ada orang yang bertahan dalam ruangan saat lampunya udah dinyalakan. Itu artinya, gak banyak yang tau, siapa orang-orang hebat di balik produksi film tersebut. Huhu. Miris memang.

Well, setelah perkuliahan hari ini, gue semakin yakin bahwa inilah jalan gue. Jika dulu (beberapa bulan yang lalu) gue masih ragu dan bertanya-tanya “Apa iya gue bakal jadi seorang designer?”, “Apa iya, passion gue ada disini?”. Jika beberapa bulan yang lalu gue masih suka berandai-andai, “Ah, seandainya gue tetep bertahan di Universitas Negeri itu, pasti 2 atau 3 tahun lagi gue positif jadi Dokter”. Tapi sekarang, dengan bangga gue bisa berkata, “Well, mungkin ini kado tak terduga dari Tuhan. Jika dulu gue memaksakan diri untuk jadi Dokter, tapi disinilah jalan yang paling menyenangkan untuk gue tempuh. Jalan yang sedikit lebih panjang. Jalan yang lebih melelahkan. Jalan yang membuat gue harus menunggu dan mengikhlaskan tahun pertama sebagai seorang mahasiswa kedokteran. Jalan yang penuh dengan kejutan. Jalan yang membuat otak gue terus-terusan berpikir. Jalan yang membuat ribuan ide meletup-letup tak terbendung. Jalan yang membuat gue bisa sampai disini, di kota ini, Bandung” (tulisan gue puitis banget yaa, semacam tulisannya Rangga dalam film AACD, eh salah! AADC)

Intinya, setiap orang berpotensi untuk menjadi individu yang kreatif. Tapi sayangnya, tidak semua orang menyadari potensi yang ada dalam dirinya. Setiap orang berpotensi untuk bisa menggambar dengan baik. Tapi sayangnya tidak semua orang mau mencoba untuk menggambar yang bagus. Jangan biarkan diri kita terlalu lama berada dalam ketidaksadaran. Karena dengan kesadaran, kita bisa berbuat lebih banyak dan lebih baik.

Well, berhubung hari ini kita telah resmi dipimpin oleh Presiden yang baru, gue jadi teringat (?) akan mimpi-mimpi gue yang dulu. Iya, gue emang seorang yang suka bermimpi. Karena menurut gue, hidup dengan segudang impian membuat hari-hari lo akan lebih bermakna. Seenggaknya dengan mempunyai sebuah mimpi, gue jadi tau, malam ini harus tidur jam berapa, besok gue harus berbuat apa, minggu depan gue harus pergi kemana, dan beberapa tahun lagi gue harus jadi istrinya siapa. Muehehe

Bicara soal mimpi, gue punya harapan, beberapa tahun lagi Indonesia bisa menjadi negara yang ‘bebas sampah’. Yah, seenggaknya masyarakat Indonesia jadi familiar dengan tempat sampah, tau bagaimana bentuknya tempat sampah, dan mengerti apa fungsinya tempat sampah. Jadi, gak ada lagi yang namanya buang sampah sembarangan, atau buanglah sampah pada temannya. Iya, beberapa tahun lagi, mimpi gue, itu sampah-sampah yang ada di jalanan udah berpindah ke tempat-tempat pembuangan yang semestinya.

Tapi mimpi gue gak akan jadi kenyataan kalau masyarakatnya masih gak peduli dengan lingkungan sekitar. Mimpi gue akan tetap jadi mimpi kalau masyarakat Indonesia masih senang dengan kalimat, “Ah, ini kan tugasnya pemerintah”. Iya, kalau kita bisa melakukannya, kenapa harus menunggu pemerintah? Jadi pribadi yang mandiri itu merupakan suatu kewajiban. Lo yang bertanggung jawab atas diri lo sendiri, bukan orang lain. Soal kemakmuran, kesejahteraan, dan kemaslahatan bangsa gak melulu urusannya pemerintah. Kita semua juga bertanggung jawab untuk kemajuan Indonesia (gue berasa lagi orasi di medan pertempuran). Gak cuma soal sampah. Tapi berbuatlah sesuai dengan kapasitas dan kemampuan pribadi masing-masing. Kalau lo adalah calon dokter, yaa, jadilah calon dokter yang baik. Calon dokter yang mengabdi dengan sepenuh hati. Calon dokter yang rela kalau jas putihnya berlumuran upil para pasien (ini pasien dengan gejala penyakit yang khusus). Kalau lo adalah calon designer, yaa, jadilah calon designer yang baik. Calon designer yang menghasilkan karya-karya yang membanggakan. Calon designer yang mempromosikan keindahan Indonesia dengan karya-karyanya. Calon designer yang mempropagandakan The Power of Nusantara. Calon designer yang kemana-mana selalu bangga, bahwa dirinya adalah orang Indonesia. Calon designer yang…..HAA…gue gak sanggup lagi berkata-kata. Intinya, dalam impian gue, saat anak-anak gue kelak bertanya, “Bu, apa kelebihan Indonesia dibanding negara lainnya?”  gue dengan bangganya menjawab, “Terlalu banyak, nak. Sangat, sangat banyak, sampai ibu tak tau harus memulainya darimana”

Well, untuk Indonesia yang baru saja memiliki pemimpin baru, semoga, 2 atau 3 tahun lagi, kita bisa memulai kehidupan yang lebih bersih, kehidupan yang lebih sadar, dan kehidupan yang lebih bermanfaat. Setidaknya bermanfaat untuk lingkungan sekitar. Semoga orang-orang kreatif di Indonesia tak mengenal kata lelah. Tak mengenal kata menyerah. Indonesia memang membutuhkan orang-orang kreatif seperti kita (seluruh masyarakat Indonesia), agar bangsa ini bisa berdiri dengan kakinya sendiri. Agar kita bisa melenggang kemana-mana, dan dengan bangganya berkata, “Yeah, we’re Indonesian”

Ah, udahan dulu. Tulisan gue mulai ngaco sana-sini. Intinya, jadi kreatif itu gak ada matinya~~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s