Muthi’s Random World (?)

Eum, entahlah. Mungkin ada banyak hal yang ingin gue tulis. Mulai dari kejadian beberapa minggu yang lalu, beberapa hari yang lalu, sampai beberapa detik yang akan datang. Eh, intinya ada banyak hal yang meletup-letup pengen keluar dari otak gue. Tapi berhubung beberapa hari ini gue jarang mandi, jadi kelenturan jari-jemari gue jadi sedikit bekurang. Mungkin hal ini disebabkan oleh tumpukan bakteri yang udah membeku disela-sela jari gue. Jangankan buat ngetik, dipake ngupil aja susah. Alhasil, akhir-akhir ini gue sering ngupil pake ujung pensil. Dan pensilnya gue pake buat ngegambar. Pantes, hasil gambar gue gak pernah bagus. Huhu

Intinya sih, postingan kali ini adalah tentang hal-hal random. Bahasa ilmiahnya adalah kompilasi. Gue juga gak tau kompilasi itu apa. Tapi kayanya itu bukan kata-kata jorok, kan?

Well, ke-random-an pertama dimulai saat gue nonton TV. Waktu itu gue gak sengaja nginjek remote, dan kepencet-lah (?) salah satu stasiun tv yang sedang menayangkan acara talk show (sebut saja nama acaranya Sarah Sechan). Awalnya gue gak tertarik sama itu acara, tapi berhubung waktu itu bintang tamunya adalah Bams Samsons sama Tohpati, akhirnya gue bela-belain buat nonton. Meskipun dengan berlinang air mata.

Sebenernya gue bukanlah penggemar dari Bams maupun Tohpati. Gue tertarik menonton acara tersebut karena ‘katanya’ Bams sama Tohpati lagi mengerjakan suatu project yang bukan Bams banget. Yah, gue juga gak ngerti sama projectnya. Satu hal yang bisa gue tangkep selama acara tersebut adalah, tubuh Bams tampak lebih subur dari sebelumnya. Muehehe

Dan memori gue akan Bams dan Tohpati berlanjut hingga seminggu kemudian. Iya, salah satu dosen gue memerintahkan (?) seluruh mahasiswa seangkatan gue untuk menghadiri kuliah umum yang bertemakan ‘bedah film unlimited love’. Dan diakhir titahnya, dosen gue sempat menyematkan sebuah kata sakral, DIWAJIBKAN. Itu artinya, gak ada alasan bagi gue untuk tidak menghadiri kuliah umum tersebut.

Singkat cerita, akhirnya gue menghadiri kuliah umum tersebut (dengan diimingi-imingi bisa ketemu artis). Iya, itu acara emang menghadirkan sutradara, pemain (Restu Sinaga dan Prisia Nasution), serta beberapa kru dari Unlimited Love. Dan di awal acara, diputarkanlah (?) trailer dari Unlimited Love dan sebuah video yang memperlihatkan Bams lagi nyanyi Soundtrack filmnya (gue juga gak tau persis apakah itu bagian dari film atau hanya sekedar video klip). Nah, disinilah, gue baru nyadar tentang ‘project-nya’ Bams yang dibahas di Sarah Sechan. Huhu. Emang gak penting sih.

Well, inti dari acara ini bukan terletak pada video Bams lagi nyanyi. Tapi gue kecewa dengan judul acara, serta acara itu sendiri. Iya, acara ini mengatasnamakan kuliah umum dan bedah film. Tapi yang gue temui di lapangan adalah, ini acara gak lebih dari promosi sebuah film. Iya, promosi. Jualan.

Gue dan mahasiswa lainnya memiliki ekspektasi yang tinggi akan acara ini. Dalam bayangan gue, akan dipaparkan bagaimana proses pembuatan film tersebut (sesuai dengan judulnya, ‘bedah film’). Yah, seenggaknya ada beberapa kru atau minimal kameramen yang memberikan penjelasan tentang bagaimana angle yang baik, untuk adegan nangis yang musti di shoot itu mata atau idungnya si pemain. Atau, dalam kondisi cuaca yang gak bersahabat, cara ngakalinnya bagaimana. Bagaimana teknik pengambilan gambar di dalam maupun di luar ruangan. Bagaimana caranya menata lighting, mengatur posisi properti yang baik, dan blocking yang bener. Aah, pokoknya acara ‘berkedok’ bedah film itu masih jauh dari bayangan dan harapan gue sebagai seorang mahasiswa (yang mengambil mata kuliah AVI tentunya).

Dari sudut pandang gue, acara bertemakan bedah film Unlimited Love tersebut gak lebih dari mempromosikan sebuah film, dengan memboyong sang sutradara serta pemainnya (sebagai daya tarik). Kenapa gue bisa bilang kalo itu adalah promosi? Karena selama acara berlangsung, opini gue secara pribadi (dan beberapa peserta yang lain) telah digiring pada satu kesimpulan, bahwa film Unlimited Love adalah film percintaan yang berbeda dari yang lainnya karena mengangkat sebuah ide cerita yang luar biasa bagus (dengan menghabiskan waktu kurang lebih 7 tahun untuk pembuatan naskah, dan biaya kurang lebih 8-10M untuk produksi), dan dengan setting yang luar biasa indah, yaitu di negeri Belanda. Maka dari itu, gue harus nonton film ini. Kenapa? Karena ide ceritanya gak biasa, dan settingnya di Belanda. Iya, kira-kira begitulah kesimpulan yang gue dapet selama acara itu berlangsung. Sangat, sangat jauh dari ekspektasi gue semula.

Tapi seenggaknya gue bisa membawa pulang beberapa hal penting. Selain beberapa informasi ‘penting’ mengenai film ini (soal ide cerita dan setting di Belanda), gue juga mulai mengerti bahwa untuk memproduksi sebuah film (yang baik) itu gak gampang. Dibutuhkan biaya yang luar biasa besar, kru yang luar biasa banyak, dan waktu yang luar biasa lama. Dan satu lagi, apapun itu namanya, baik film percintaan, film komedi, film horor, atau film yang bertemakan nasionalis sekalipun, jika dikaitkan atau berhubungan dengan seorang produser atau pihak production house, ujung-ujungnya akan berakhir dengan komersialisasi. Alias, jualan lagi, jualan lagi. Iya, industri seperti ini emang apa-apa uang, apa-apa dikaitkan dengan keuntungan. Kalo lo mau memproduksi sebuah film (dengan ide cerita dari langit sekalipun) dan dirasa tidak menguntungkan, yaa itu ide cerita hanya akan menjadi ide, selamanya.

Ah, udahan dulu ngebahas soal film. Mending gue ngebahas yang lain. Akhir-akhir ini gue sering liat beberapa postingan di facebook yang memuat berita duka. Entah beneran ‘duka’ atau euforia semata. Beberapa diantara mereka (yang memposting maupun yang menyebarluaskan postingan tersebut) mungkin gak paham dengan apa yang mereka posting dan sebarkan.

Pernah liat postingan yang begini, KATAKAN AAMIIN ATAU LIKE. Atau, LIKE ATAU TULISKAN KATA AAMIIN JIKA ANDA INGIN PUNYA RUMAH SENDIRI TAHUN 2015 (terus postingannya diisi dengan kata-kata bijak dan ‘sedikit’ doa). Atau yang lebih ekstrim lagi, ada sebuah postingan yang memuat foto orang yang lagi kecelakaan atau sedang tertimpa musibah, dan dibagian akhir postingan terdapat kalimat LIKE DAN TULISKAN KATA AAMIIN UNTUK MERINGANKAN BEBAN SAUDARA KITA INI.

Nah, pertanyaan gue, ada rahasia apa dibalik jempol para pengguna facebook? Emangnya dengan HANYA memberikan LIKE atau menuliskan kata AAMIIN akan menyelesaikan masalah? Atau, minimal dapat mengurangi beban si SAUDARA yang dimaksud?

Well, gue gak mau nyalahin siapa-siapa. Baik itu yang mem-posting maupun yang menyebarkan berita seperti itu. Tapi, coba deh dipikir-pikir lagi. Apakah gambar kecelakaan atau penderitaan seseorang itu layak untuk dipublikasikan secara massal di dunia maya? Apakah dengan memberikan LIKE atau menuliskan kata AAMIIN, semua doa dan harapan akan terkabulkan? Tanpa adanya usaha yang nyata?

Gue pribadi nih, gak setuju dengan adanya postingan-postingan semacam itu. Iya, postingan yang menyebarluaskan foto korban kecelakaan (yang kondisinya tubuhnya sudah hancur berserakan), atau foto orang-orang tua, atau foto orang-orang ‘terpinggirkan’ yang (katanya) butuh dikasihani. Kenapa? Karena kita (yang memposting dan menyebarkan) akan ‘menyakiti’ perasaan mereka, dan orang-orang yang melihatnya. Karena dunia maya itu ibaratkan etalase dimana lo bisa meletakkan dan melihat sesuatu tanpa filter. Iya, tanpa filter.

Lo bisa memposting dan menyebarkan foto korban kecelakaan, dan menuliskan kata-kata bijak, dan diakhiri dengan doa (gak lupa minta LIKE dan minta DISEBARKAN). Sekilas, postingan ini kelihatan bermanfaat. Karena disisipi dengan kata-kata bijak dan doa. Yah, seenggaknya orang yang memposting ingin kita semua lebih waspada, karena kecelakaan bisa menimpa siapa saja. Tapi, bagaimana dengan nasib si korban? Nasib keluarganya? Nasib orang-orang yang melihat dan menyebarkan postingan tersebut?

Dari perspektif keluarga korban, tentunya hal ini sangat menyakitkan. Iya, bayangin aja, ada anggota keluarga lo yang terkena musibah, dan foto-foto ‘menyakitkan’ tersebut diunggah dan disebarluaskan di dunia maya. Semua orang bisa lihat, dan semua orang bisa menyebarkan. Semua orang bisa nge-LIKE, dan semua orang bisa nulis kata AAMIIN. Tapi gak semua orang bisa membantu. Iya, menurut gue, LIKE maupun AAMIIN itu bukanlah bantuan. Jempol lo yang nge-klik LIKE itu gak bisa berbuat apa-apa, kecuali menambah jumlah LIKERS. Kata-kata AAMIIN lo itu belum tentu diijabah oleh Tuhan, kecuali nambahin komentar.

Eum, maksud gue begini. Berbuat sesuatu di alam nyata itu lebih bermakna, dan memberikan dampak yang lebih positif, ketimbang hanya klik LIKE dan SHARE. Cause liking isn’t helping. LIKE itu tidak akan membantu. LIKE tidak bisa memberikan segenggam roti bagi anak-anak (kurang beruntung) diluar sana. LIKE  tidak bisa memberikan pakaian hangat bagi bayi-bayi terlantar yang kedinginan. LIKE tidak bisa memberikan obat-obatan bagi korban perang. Iya, LIKE hanya sebatas LIKE. Liking isn’t helping.

Iklan-ajakan-menjadi-relawan-bukan-cuma-like-facebook-1Iklan-ajakan-menjadi-relawan-bukan-cuma-like-facebook-2poster iklan (kampanye) dari Publicis, Singapore

Well, inilah bentuk nyata dari fenomena saat ini. Dimana LIKE dan kata AAMIIN dianggap sudah ‘sangat’ membantu. Yah, seenggaknya udah menunjukkan empati bagi orang-orang yang terkena musibah. Tapi balik lagi, LIKE gak bisa membantu apa-apa. Seperti yang ada dalam dua poster di atas. Poster tersebut merupakan sebuah iklan (kampanye) ajakan untuk menjadi relawan, bukan cuma LIKE di facebook. Karena bergerak lebih baik daripada mengasihani. Memberikan uluran tangan lebih baik daripada sekedar klik sana klik sini. Dan kata-kata AAMIIN itu tidak akan diijabah oleh Tuhan, jika lo gak usaha. Percuma juga lo nulis seribu kata AAMIIN di postingan (dengan harapan segera dapet jodoh, punya rumah baru di tahun 2015, naik kelas, bla bla bla), tapi lo gak usaha apa-apa. Dan menurut gue, postingan semacam itu cuma cari sensasi. Bagaimana bisa lo dapet rumah baru di tahun 2015 hanya dengan menuliskan kata AAMIIN? Think again. Coba, pikir lagi.

Well, sekian dulu postingan kali ini. Semoga bermanfaat bagi yang mau mengambil manfaatnya. Saran gue, STOP postingan foto-foto MENYAKITKAN seperti korban kecelakaan. Karena foto-foto tersebut bukan untuk dikonsumsi secara massal. Dan kalau mau berdoa, sebaiknya antara lo dan Tuhan aja deh. Berdua lebih baik. Karena tidak ada hubungan yang lebih dekat kecuali hubungan antara seorang Hamba dan Rabb-nya. Tidak ada doa (yang baik) yang tidak dikabulkan. Tuhan itu gak pernah sia-sia. Dan doa pribadi itu lebih mustajab ketimbang doa publikasi di postingan orang (page atau apalah itu).

Sekali lagi, liking isn’t helping, be a volunteer and change a life…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s