Andai Aku Jadi Rangga

Akhir-akhir ini film Ada Apa Dengan Cicak, eh, salah! film Ada Apa Dengan Cinta mulai booming lagi. Saking booming-nya malah ada salah satu aplikasi chatting (sebut saja nama aplikasinya adalah garis) yang menyediakan sticker berwajah Cinta dan Rangga. Dan gue sebel sama itu sticker. Iya, gue pernah dikirimin sticker Cinta-Rangga sama temen gue. Itu sticker dikirim tanpa ada pesan yang lain. Pas gue tanya, temen gue cuma bilang, “Ga ada apa-apa kok. Gue cuma nyobain sticker,  baru download nih”. Udah, habis itu doi gue delete dari friendlist. Muehehe

Eh, bicara soal AADC, dulu gue nge-fans banget sama Rangga. Apalagi sama rambut ikalnya. Dulu gue juga bercita-cita buat jadi seseorang yang puitis kayak Rangga. Tapi sayang rambut gue kurang gimbal. Mungkin letak ke-puitis-an Rangga ada pada rambutnya.

Dan beberapa minggu yang lalu gue sempet nonton lagi film AADC yang kebetulan tayang di Kompas. Pas ngeliat rambutnya Rangga, gue jadi teringat akan cita-cita masa lalu. Iya, cita-cita gue untuk jadi seorang sastrawan. Dulu (waktu gue masih sekolah di sekolahan samping rumah) gue sering nulis sesuatu. Waktu SD gue mulai nulis diary kecil-kecilan (yang isinya cuma bismillah dan doa sebelum makan). Terus pas udah SMP kesaktian gue mulai meningkat, gue pun mulai menulis sesuatu yang agak rumit, yaitu cerpen (yang terdiri dari satu paragraf dan lima kalimat). Dan pas di SMA, gue ngerasa bahwa gue udah layak untuk disebut sebagai seorang master. Karena gue udah bisa nulis puisi, dan terbukti, puisi gue pernah menang lomba dan dimuat di koran (kalo yang ini beneran).

Tapi semenjak kuliah, gue jadi males nulis. Mungkin karena Rangga udah gak main film lagi, jadinya gue kehilangan semangat untuk menulis. Beberapa waktu yang lalu gue sempet mau ikut lomba menulis cerpen atau novel. Tapi berhubung Rangga belum balik dari Newyork, jadi rencana itu gue tunda dulu. Sampai akhirnya, setelah 12 tahun menghilang, Rangga pun kembali, dalam purnama yang kesekian kalinya…

Oiya, pas nonton AADC, gue kembali menemukan mimpi gue yang dulu. Suatu saat nanti gue harus jadi sastrawan besar seperti Chairil Anwar, biar buku karangan gue bisa ditenteng kemana-mana sama Rangga. Dan gue berpikir, kalo gue jadi Rangga gue bakal rajin ke salon biar rambut gue bisa keriting maksimal (jangan setengah-setengah gitu). Kalo gue jadi Rangga, gue bakalan balik ke Indonesia di setiap bulan purnama tiba, asalkan Cinta mau menyediakan nasi kuning lengkap dengan lauk pauknya. Kalo gue jadi Rangga, pas lagi di bandara (mau berangkat ke NY) gue gak bakalan meluk Cinta, soalnya Cinta pasti keringetan abis lari-lari ngejar Rangga. Paling gue cuma bilang ke Cinta, “Kamu yang sabar ya, masih banyak cowok lain di dunia ini. Kamu terlalu baik buat aku”. Terus gue selipin secarik kertas ke tangannya Cinta, dan gak lupa, gue ngucapin kata-kata terakhir, “Tolong dilunasin yah, utang-utang aku. Terutama utang sama ibu kantin”. Terus gue pergi gitu aja, menuju pesawat. Eh, gak taunya itu pesawat delay 7 jam. Akhirnya gue balik lagi, ngobrol sama Cinta. Gue minta kertas yang tadi, gue tambahin tulisannya. Ternyata ada utang yang belum gue catet. Muehe

Ah, ngomongin AADC emang gak ada habisnya. Setelah 12 tahun sejak tayang perdana, ternyata AADC masih menjadi magnet tersendiri. Menurut gue sih, AADC adalah salah satu karya terbaik sineas Indonesia di tahun 2000-an. Karena gak hanya film-nya aja yang sukses, para pemain, soundtrack, sampai adegan dalam film-nya pun masih diingat sampai sekarang. Dan menurut gue (lagi) AADC adalah film dengan soundtrack terbaik. Soundtrack yang menyatu dengan film, dan soundtrack yang masih didengar sampai sekarang.

Oiya, dulu gue pertama kali nonton AADC waktu kelas 4 atau 5 SD. Gue nonton bareng abang-abang gue (yang mana pas ada adegan Cinta sama Rangga lagi pelukan, muka gue ditutupin pake kardus bekas, katanya gue masih kecil, belum waktunya). Dan karena terinspirasi oleh sosok Cinta, pas lebaran tiba, gue minta dibeliin sepatu baru sama nyokap. Sepatu yang persis kayak yang dipakai sama Cinta, tapi beda size. Dan setiap kali berangkat sekolah, gue selalu memastikan sepatu Cinta (itu nama panggilan buat sepatu gue) terlihat bersih dan kinclong. Pas udah nyampe di sekolah, gue lari-larian di koridor (biar sama kayak Cinta yang lari-larian dengan sepatunya di bandara). Gue sengaja menghentak-hentakkan kaki di lantai, biar suara sepatu Cinta kedengeran sampai ke sekolahan tetangga. Tapi gak ada yang nge-notice keberadaan gue dan sepatu Cinta. Pas gue masuk kelas, gak ada siapa-siapa. Ternyata gue dateng kepagian. Pantes, gak ada yang denger hentakan sepatu Cinta. Huhu

Well, setelah 12 tahun berlalu, semangat sastra-nya Rangga masih ada dalam diri gue (ceritanya gue lagi dirasuki aura Rangga-isme, halah!). Gue masih tetep nulis, meskipun bukan karya sastra yang ‘berat’. Mungkin saat ini menulis cerpen ataupun puisi agak terasa memberatkan bagi gue pribadi. Karena karya sastra ‘semacam itu’ membutuhkan imajinasi yang tinggi, sementara akhir-akhir ini kecepatan berpikir gue gak sebanding dengan kelenturan tangan. Huhu. Mungkin gue bakal tetep nulis di blog (yang lebih ringan), dan mungkin blog ini sebagai alter ego-nya gue. Iya, sisi lain dari gue yang asli. Gue tipikal orang yang gak banyak omong, karena gue takut orang lain bakal tersinggung dengan omongan gue. Gue tipikal orang yang gak bisa mengungkapkan perasaan secara lisan, makanya gue memilih media tulisan untuk berkeluh kesah. Dan gue hanya akan berbicara banyak dengan orang-orang yang gue anggap emang pantas buat gue ‘maki-maki’. Iya, maki-maki dalam artian orang tersebut dirasa siap untuk mendengar rentetan kisah panjang dari otak gue yang meletup-letup tiada henti. Dan karena gue gak banyak omong, mungkin orang-orang yang baru kenal atau baru pertama kali ngeliat gue pasti berpikir kalo gue orang yang sombong. Tapi setelah mereka tau aslinya gue kayak apa, akhirnya mereka berubah pikiran, dan mungkin mereka capek mendengar ocehan gue, sambil nyumpahin gue dalam hati, “Shhh nyesel gue ngajakin dia ngobrol” haha.

Dan, alasan terakhir kenapa gue lebih memilih untuk menulis ketimbang bicara langsung adalah, karena tulisan bisa di edit, sementara ucapan langsung gak akan bisa di apa-apain. Tulisan bisa gue pikirkan terlebih dahulu, sebelum akhirnya di publish, sementara ucapan langsung gak bisa difilter layaknya tulisan. Dan tulisan bisa menggunakan pengandaian, sementara ucapan langsung bersifat spontanitas. Karena mulut bertindaklebih cepat dibandingkan akal. Dan penyesalan selalu datang belakangan.

Ah, udahan dulu pengandaian hari ini. Semoga Rangga tetap eksis, meskipun bulan purnama tak lagi muncul (karena ketutupan awan mendung). Semoga Rangga tetap seperti AKU, dan aku akan mencoba menjadi KAMU (gue lagi nulis apaa coba)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s