Semiotika dan Membaca Tanda

Hari ini gue bimbingan lagi. Kebetulan di jurusan gue ada dua pilihan Tugas Akhir, yaitu Skripsi atau Tugas Akhir (membuat sebuah karya). Kebetulan lagi, karena berbagai macam pertimbangan (soal dana dan waktu) akhirnya gue memutuskan untuk memilih skripsi. Dan kebetulan lagi, di jurusan gue (seangkatan) persentase mahasiswa yang mengerjakan skripsi itu sangat sedikit, jika dibandingkan dengan yang mengerjakan tugas akhir (bikin karya). Alhasil gue memikul ‘beban’ yang jauh berbeda dengan mayoritas temen-temen seangkatan. Bismillah. Semoga berkah.

Gue mengangkat tema skripsi tentang simbol visual dalam sebuah sampul buku karangan Cak Nun, seorang budayawan Jawa yang sangat terkenal. Saat ini gue masih dalam tahap pengumpulan data dan teori, dan kebetulan tadi pembimbing gue ‘mengharamkan’ gue menggunakan teori semiotika, sebuah teori pembacaan tanda-tanda visual. Katanya udah mainstream dan ngebosenin!

Setelah barusan nelpon nyokap, akhirnya gue mulai sadar, kalo semiotika tidak hanya diterapkan terhadap aspek visual saja. Tapi juga bisa berlaku terhadap ‘pembacaan’ makna kehidupan. Tadi, di telpon nyokap gue bilang kalo setiap cobaan yang kita alami, setiap masalah yang kita hadapi, pasti ada campur tangan Tuhan di dalamnya. Karena dimana ada kesulitan, disitu pasti ada jalan. Agak ambigu, memang, jika dikaitkan dengan semiotika. Tapi dari sinilah otak gue mulai berpikir keras.

Lagi-lagi nyokap gue bilang, “Kita ini siapa? Toh, cuma manusia biasa. Wong Nabi Nuh aja yang notabene seorang Nabi, wali Allah aja diuji dengan seorang anak yang durhaka. Itu Nabi, loh, apalagi kita yang cuma manusia biasa”. Nyokap gue emang punya bakat ceramah. Dan gue cuma bisa manggut-manggut aja. “Nabi Adam, sebagai manusia pertama yang diciptakan Tuhan, manusia yang diciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk, masih diuji dengan perilaku anak-anaknya. Anaknya saling bunuh-bunuhan. Lah, Nabi aja diuji, kok. Apalagi kita yang cuma manusia biasa”. Kali ini gue mulai paham dengan maksud nyokap.

Nyokap gue memang bukan Nabi. Tapi gue dengan bangga menyebut kalo kemampuan tahan uji dari nyokap bisa danggap satu level dibawah Nabi. Iya, ibarat kata, nyokap gue adalah orang yang meskipun udah dibakar berkali-kali akan tetap hidup. Bukan soal raganya, tapi semangat dan ketabahannya.

Nyokap gue adalah orang paling sabar yang pernah gue kenal. Beliau adalah orang yang paling optimis, yang gak pernah mengenal yang namanya jalan buntu. Kalaupun nemu jalan buntu, nyokap pasti bakal nyewa buldoser buat ngejebol itu jalan, yang penting bisa lewat. Nyokap gue selalu bilang, kalo apa-apa yang tertulis dalam Al-Qur’an itu pasti akan kita temui dalam kehidupan sehari-hari. Baik itu kisah Nabi Nuh yang punya anak durhaka, atau gimana perih dan sedihnya perasaan Nabi Adam yang harus menerima kenyataan kalau anaknya saling bertengkar bahkan saling membunuh. Dan nyokap gue selalu berpesan, “Selama mama masih hidup, doa mama-lah yang akan makbul. Tapi kalau mama udah gak ada, doa kalianlah yang akan didengar Tuhan”. Dan pas denger itu gue cuma bisa mikir, Ouwch, God. I think i am not the perfect one. I am not a perfect daughter.

Maka akhir-akhir ini gue mulai sering mikir, kalo kehidupan kita di dunia ini bagaikan stase-stase dala sebuah game. Untuk dapat lanjut ke level yang lebih tinggi, lo harus menyelesaikan tugas-tugas terlebih dahulu. Ada suatu misi yang harus diselesaikan dengan baik. Ada ujian yang harus dilewati terlebih dahulu agar bisa naik tingkat.Bahkan, ada bala bantuan yang bisa dipergunakan. Tapi sayang, kehidupan aslinya gak mengenal nyawa cadangan.

Kembali soal membaca tanda. Gue sempet mikir, kalo kita hidup di dunia ini bagaikan anak SMA yang mau ikut Ujian Nasional. Lo harus belajar yang rajin biar bisa lulus dengan nilai yang baik. Atau, kalaupun nilai lo gak bagus-bagus amat, yang penting lo bisa lulus dan gak bikin malu orang tua. Sebelum ujian biasanya dikasi les tambahan, di luar maupun di dalam sekolah. Sebelum ujian juga dikasi kisi-kisi soal, yang katanya bakal keluar pas UN nanti. Sama seperti kisah kehidupan. Sebelum ujian nanti (hisab), kita disuruh belajar dulu yang baik, biar bisa lulus dengan nilai yang membanggakan. Biar bisa masuk surga, katanya. Meskipun masuk surga atau neraka itu merupakan hak mutlak dari Tuhan. Terserah Tuhan mau masukin siapa.

Sebelum UN biasanya kita juga dikasi ujian-ujian kecil berupa Try Out. Begitu juga dengan kehidupan. Sebelum final (hisab) nanti, kita juga dikasi ujian-ujian kecil dalam hidup. Mungkin diuji seperti Nabi Nuh dan Nabi Adam yang punya anak-anak yang ‘tidak berbakti’, atau seperti Rasulullah yang yatim kemudian menjadi piatu. Banyak macamnya. Banyak ragam ujiannya.

Lantas, mana kisi-kisi soalnya? Gimana bisa lulus ujian dengan baik kalo kita gak tahu gimana bentuk contoh soal-soalnya?

Percayalah, Tuhan gak pernah sia-sia. Gak mungkin Tuhan menghadirkan suatu masalah tanpa adanya solusi. Karena ini bukan acara televsi. Tuhan menghadirkan kitab-kitab terdahulu dan Al-Qur’an sebagai kisi-kisi. Ada banyak pemecahan masalah di dalamnya. Ada ribuan solusi. Ada ribuan jalan keluar. Hanya saja, sudah sejauh mana kita membaca dan membahas, lantas memahaminya? Jangan cuma baca halaman pertama saja lantas sudah berani mengeluh, “Ujian ini terlalu berat. Gak ada dalam kisi-kisi soal”, atau, “Soal yang ini gak cocok buat hamba dengan kemampuan standar seperti kita”. Ketiadaan solusi bukan karena Tuhan yang menutup jalan keluar. Ketiadaan solusi dikarenakan kita yang tak mau belajar dan terlalu malas untuk membaca. Membaca tak terikat dengan sesuatu yang tertulis saja. Membaca juga bisa berarti memahami tanda-tanda.

Sebagai seorang visual, gue belajar bahwa merah itu simbol marah, keberanian, sensualitas, bahkan ego. Sebagai seorang manusia, gue mencoba belajar dari sekitar. Bahwa tidak semua yang ada pada diri orang lain cocok untuk digunakan pada diri kita. Karena diri kita bukanlah rumah yang pantas untuk disinggahi oleh apa-apa yang menjadi milik orang lain. Dalam artian, diri kita ini adalah sebuah rumah yang memiliki sebuah kunci. Hanya kunci yang pas yang bisa membuka pintu menuju rumah kita. Kunci yang dimiliki orang lain belum tentu bisa membuka pintu yang kita miliki. Begitu juga sebaliknya.

Jika orang lain memiliki kehidupan yang lebih enak dan nyaman (versi kita), belum tentu cocok dengan kondisi kita saat ini. Seperti gue yang selalu terbebani oleh berat badan muehehe. Jujur aja, gue kadang stress mikirin perkataan temen-temen yang bilang kalo badan gue berisi (menuju bantet). Kadang gue berpikir, mungkin enak kali yaa kalo gue punya badan yang rada kurusan. Gue bisa pake baju ini itu tanpa harus mikirin berat badan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, mungkin kondisi fisiologis seperti ini yang paling cocok untuk tubuh gue. Gue bukan orang yang obesitas. Setidaknya gue masih sanggup untuk lari 10 kali putaran lapangan bola. Mungkin kondisi seperti ini yang paling ideal bagi tubuh gue, selama gue masih sehat dan masih bisa beraktifitas seperti layaknya orang langsing kebanyakan. Intinya, syukuri aja. Ini semua pasti ada campur tangan Tuhan.

Well, intinya, membaca tanda itu penting. Karena manusia adalah makhluk visual yang terikat dengan tanda dan simbol. Lo gak akan kena tilang kalo gak menerobos lampu merah. Lampu merah sendiri adalah tanda. Lo akan menjalani kehidupan dengan baik dan aman-aman aja kalo lo bisa baca tanda-tanda Tuhan dalam kitabnya.

2 pemikiran pada “Semiotika dan Membaca Tanda

  1. Jadi pertanyaan plg penting udah bisa baca tanda dari gebetan belum?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s