Nikah dan Gengsi

Minggu lalu temen-temen gue sesama Alumni SMA dulu, mampir ke kosan. Katanya di luar lagi hujan, jadi mereka mau ikut neduh sekalian minta secangkir kopi dan sepotong roti. Dikira kosan gue warung kopi kali yaa.

Tapi ada satu pembahasan panjang yang sangat unik yang kami bahas waktu itu. Pas baru nyampe kosan, salah satu temen gue nyeletuk, “Eh, udah pada tau kan, kalo temen SMA kita si anu udah nikah”. Sontak anak-anak yang lain otomatis pada heboh. Dan seketika kosan gue jadi warung kopi beneran, dimana sekelompok mahasiswa rantau membahas tentang pernikahan.

Well, sebagai keturunan Minang tulen, gue dan temen-temen yang lain masih memegang adat istiadat yang berlaku di tanah kelahiran kami. Bukan berarti kami orang-orang kuno yang gak berpikiran modern. Hanya saja, jika bukan kami yang mempelajari dan menerapkan adat warisan nenek moyang, lantas siapa lagi? Dan mempelajari petuah dan adat istiadat itu menurut gue gak ada habisnya. Selalu saja ada kasus baru yang bermunculan dan menimbulkan pertanyaan, “Kalo dalam adat kita gak begitu, kan?”. Terlebih lagi gue dan temen-temen adalah perantau yang jauh dari kampung halaman. Jadi pembahasan soal adat semacam ini merupakan hot topic yang selalu menarik untuk dibahas.

Pembahasan ala warung kopi di kosan gue bermula dari salah satu temen kami yang menikah minggu lalu. Peristiwa pernikahannya menjadi perbincangan hangat, mulai dari make up, pakaian, dekorasi pelaminan, persoalan adat, sampai latar belakang si mempelai laki-laki. Agak gak ada kerjaan, memang. Sekelompok mahasiswa yang kehujanan membahas tentang background suami orang hahaha.

Balik lagi soal adat dan perkawinan. Salah satu temen gue sempet nyeletuk soal biaya pernikahan yang jumlahnya gak bisa dibilang sedikit, “Kok temen-temen kita pada berani, yaa nikah muda. Biaya nikah kan mahal”.

Well, ada benernya juga. Biaya nikah jaman sekarang emang mahal. Bukan mahal secara materi, tapi gengsi. Iya, yang mahal itu gengsinya. Gengsi sama tetangga. Gengsi sama keluarga yang lain. Gengsi sama tamu undangan. Kalo pesta kecil-kecilan kan malu, masa dekorasi pelaminannya biasa-biasa aja. Kalo gak pake souvenir pernikahan rasanya ada yang kurang. Kalo tendanya kurang heboh, rasanya malu sama tetangga. Nanti itu disangka tenda buat kemping, bukan buat nikah. Intinya, gak akan ada habisnya kalo ngikutin gengsi.

Bahkan ada yang sampai ngutang untuk biaya pernikahan. Buat biaya tenda, catering, pelaminan dan tetek bengek yang lain. Padahal sebenernya esensi dari pernikahan itu sendiri adalah mempersatukan dua keluarga besar dalam satu lembaga yang dilegalkan Tuhan dan negara. Kalo bahasa dakwahnya, nikah itu menyempurnakan separuh Diin atau agama. Bukan ajang untuk pamer dan adu gengsi.

Apalagi sebagai seorang Minang, butuh biaya ‘ekstra’ untuk melakukan suatu proses pernikahan. Bukan berarti Minang memberatkan calon pengantin dengan aturan adat, tapi memang begitulah prosedurnya. Sepengetahuan gue, lelaki Minang yang berasal dari daerah Pariaman akan mendapatkan uang ‘japutan’ dari pihak perempuan. Ini berbeda dengan mahar. Karena gue pribadi punya 4 orang abang yang udah menikah, dan kebetulan selama di rantau gue sering dapet pertanyaan Apakah Semua Pria Minang itu Dibeli? Jawaban gue, tidak. Berdasarkan pengalaman gue pribadi, lelaki Minang dari daerah Pariaman-lah yang ‘dibeli’ (tolong koreksi kalo ada daerah lain yang juga memberlakukan adat serupa). Dibeli disini bukan berarti adanya transaksi jual-beli atau perdagangan antara keluarga pria dan wanita. Uang ‘japutan’ yang diberikan oleh pihak wanita kepada pihak laki-laki dimaksudkan menjadi bekal bagi si laki-laki dalam membangun rumah tangganya kelak. Menurut gue ini hanya simbolik semata, karena pria Minang akhir-akhir ini sudah banyak yang hidup mapan saat menikah, jadi uang ‘japutan’ tidak serta merta digunakan untuk biaya rumah tangga, ada juga yang menggunakannya untuk keperluan ‘dapur’ saat mengadakan pesta pernikahan. Besaran uang ‘japutan’ juga merupakan kesepakatan kedua keluarga. Bukan semata-mata monopoli pihak laki-laki. Jika kedua belah pihak sudah setuju, dengan disaksikan oleh ninik-mamak, maka dicapailah kesepakan besaran uangnya. Jadi tidak ada pihak yang terbebani dan dirugikan dalam hal ini, karena semuanya dicapai melalui perundingan dan musyawarah keluarga.

Dan seperti yang gue sebutkan tadi, uang ‘japutan’ ini berbeda dengan mahar. Bukan berarti pihak wanita yang memberikan mahar kepada laki-laki. Mahar tetap menjadi tanggung jawab pihak laki-laki, dan sebaik-baiknya wanita adalah yang meringankan (yang murah) maharnya.

Well, cerita gue dan temen-temen gak cukup sampai di uang ‘japutan’ saja. Kami melanjutkan pembahasan adu gengsi keluarga dan saling unjuk diri saat pesta pernikahan berlangsung. Semacam ada proses branding dalam sebuah pesta pernikahan. Brand kelas atas akan menunjukkan kualitas dirinya. Tenda yang besar dan mewah, hidangan catering yang maha dahsyat lezatnya dan banyak jumlahnya, dekorasi pelaminan yang bertabur cahaya dan kelap-kelip, pakaian pengantin yang aduhai dan berat pastinya, sampai urusan souvenir dan kartu undangan juga ada hitungan gengsinya. Iya, lagi-lagi gengsi. Dan lagi, gengsi itu butuh biaya yang gak sedikit. Karena tenda yang mewah gak mengenal angka jutaan, mereka udah bermain di nominal belasan bahkan puluhan juta.

Lalu ada lagi temen gue yang nyeletuk, “Orang-orang yang nikah pada adu gengsi. Kita para tamu undangan semacam ‘dipaksa’ untuk melihat siapa mereka”.

Lagi-lagi soal gengsi. Seakan gengsi akan menaikkan derajat dan kualitas diri. Padahal gengsi hanya akan meninggalkan bekas kelelahan di keluarga mempelai. Lelah fisik dan lelah mental. Lelah secara materi juga pastinya. Tapi ya sudahlah. Dunia memang begini adanya. Tuhan sendiri sudah berkali-kali mengatakan kalau dunia ini mengandung fitnah. Dunia memang tempatnya bermain. Bermain dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab. Iya, setiap permainan pasti akan dimintai pertanggungjawabannya.

Well, pernikahan bukan cuma soal gengsi semata. Menurut temen-temen gue, nikah itu gak cuma SAH, tapi soal proses untuk mendengar kata SAH itu. Memilih calon yang baik itu yang terpenting. Karena kita akan menghabiskan sisa hidup dengan pasangan, jadi jangan asal nikah. Jangan asal SAH. Jangan karena adu cepet siapa yang laku duluan. Lagi-lagi adu gengsi, barang bagus akan segera sold out. Gak begitu. Nikah itu gak pake teori perdagangan. Gak perlu marketing juga. Gak perlu promosi berlebihan. Cukup pantau dari jarak jauh lalu mantapkan. Begitu kata temen gue. Entah berapa sachet kopi yang udah dia minum sampe mabok begitu.

Awalnya rada risih, memang membahas pernikahan dengan sekelompok mahasiswa jomblo yang haus perhatian haha. Tapi ya mau gimana lagi, sudah eranya bagi kami untuk membahas perancangan masa depan. Sudah saatnya untuk mulai memikirkan Apa, Siapa, Kapan, dan Bagaimana. Bahkan menurut temen gue, sudah saatnya nabung untuk biaya nikah. Biar bisa pamer sama tetangga. Minimal pas nikah nanti makanannya enak-enak biar tamu udangan gak kecewa. Halah ada-ada saja.

Gue pribadi, jujur aja sih, masih belum memikirkan detail pernikahan. Mikirin soal nikah aja udah bikin gue takut. Takut gak bisa jadi pasangan yang baik. Halah. Takut nantinya gue masih keseringan main ketimbang ngurusin pasangan. Takut gue masih freak dan suka heboh sendiri. Takut gue kebanyakan nonton drama Korea ketimbang beresein rumah. Iya, emang banyak takutnya. Malah gue sempet bilang ke nyokap kalo gue mau ke Korea dulu sebelum nikah, mana tau nemu jodoh disana wahahah. Tapi seperti biasa, bagi nyokap gue Indonesian more better than Korean. Malah nyokap pernah bilang kalo Lee Min Ho itu gak ada cakep-cakepnya. Kan hati gue langsung potek seketika.

Well, intinya jangan kebanyakan gengsi saat menikah. Karena lancar atau tidaknya kehidupan rumah tangga kelak tidak diukur berdasarkan seberapa fantastis resepsi yang kita adakan. Karena esensi dari resepsi pernikahan adalah sebagai iformation, memberi informasi kepada kerabat dan kolega bahwa kita adalah pasangan yang SAH, agar tidak menimbulkan fintah. Jadi, buat apa adu gengsi? Buat promosi tentang status soaial keluarga? Lah, kenapa gak pasang iklan aja kalo gitu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s