Pulang

Tadi malam saat sedang sibuk  berdebat dengan anak-anak kelas di grup line soal jadwal kuliah, salah seorang temen gue tiba-tiba nanya nomer ambulans. Gue  jadi kaget dan keringat dingin, takut dia kenapa-kenapa. Dan emang bener, bokapnya gak sadarkan diri. Temen gue itu juga panik. Yang dia obrolin di grup cuma “Ya Allaah. Aku gatau harus gimana”. Otomatis anak-anak juga pada heboh. Ada yang nyuruh berdoa. Ada yang nyuruh panggil tetangga dulu buat minta tolong. Ada yang nyuruh kasi bantuan CPR. Ada yang nyuruh longgarkan pakaiannya. Intinya, kita semua ikutan panik. Termasuk gue.

Saat perbincangan di grup masih heboh soal pertolongan pertama apa yang harus diberikan, temen gue itu nge-chat sesuatu lagi, “Ayah aku udah ga napas”. Nyess. Ga tau kenapa gue jadi ikutan lemes. Gue tanya apakah denyut nadinya masih ada atau engga, tapi lagi-lagi temen gue cuma jawab, “Udah. Ayah Aku. Udah ga ada. Makasih semuanya udah bantuin”. Oh God. Her father just passed away. He’s gone.

Jujur, semalam gue ga bisa tidur dengan nyenyak. Gue kepikiran temen gue itu. Gue kepikiran apa malam ini dia bisa tidur. Apalagi cuaca Bandung malam tadi gerimis mistis. Iya, gerimis yang dinginnya nusuk sampe ke tulang. Gue juga kepikiran apa temen gue itu bisa tabah menghadapi kenyataan ini, mengingat dia cuma tinggal bertiga sama orangtuanya, dan sekarang, minus bokap, itu berarti tinggal dia berdua sama nyokapnya. Gue juga kepikiran, apa temen gue itu tetap bisa berkonsentrasi menyelesaikan tugas akhir, yang dalam 2 minggu lagi kita akan menghadapi sidang pertama. Apa dia baik-baik aja? Apa dia bisa saling menguatkan dengan nyokapnya? Apa dia bisa menghadapi sidang pertama dengan baik? Iya, ada banyak hal yang gue pikirin tadi malam.

Jika gue ada di posisi dia, mungkin gue bakalan drop banget. Mungkin gue bakalan jatuh ke tingkatan paling dasar lalu mengendap beberapa saat. Tapi mungkin, kondisi gue agak lebih baik dibanding temen gue itu. Dia anak perempuan tunggal, yang cuma hidup bertiga dengan orang tuanya. Sementara gue anak perempuan satu-satunya dengan abang yang banyak. Saat bokapnya pergi, otomatis temen gue itulah yang akan jadi tiang penyangga, untuk saling menguatkan satu sama lain sekaligus teman yang tersisa bagi nyokapnya. Sedangkan gue, mungkin, mungkin, mungkin, gue dan nyokap masih bisa berpegang pada jari-jemari abang. Ah, ga kebayang, memang. Dibayangkan pun bakal bikin sakit. Gak kebayang jika September nanti, disaat kita wisuda, bokapnya udah ada di surga. Foto keluarganya udah gak sempurna lagi. Gak kebayang juga jika pas ramadhan dan idul fitri tahun ini adalah kali pertama bagi mereka berdua. Juga gak akan pernah kebayang, kalau sudatu saat nanti, disaat dia akan menikah, yang menikahkan bukanlah ayah kandungnya, melainkan wali hakim atau saudara kandung dari ayahnya. Sedih, memang. Tapi jika Tuhan sudah ingin mengambil kembali kepunyaan-Nya, lantas kita bisa apa?

Gue jadi keinget perkataan yang sering nyokap ucapkan, “Rasulullah meninggal dunia di usia 63 tahun. Itu artinya sebagai ummat Muhammad, kita diberikan jatah umur rata-rata cuma sampai 63 tahun, sesuai usia Rasul. Jika ada yang melebihi, itu berarti bonus”. Dan saat ini, nyokap dan bokap gue tengah menikmati “bonus” hidupnya. Bonus yang sering bikin gue deg-degan. Bonus yang bikin gue sering berpikir, “Yaa Allaah, jangan tahun ini”. Agak kelewatan, memang, jika meminta begitu sama Sang Pemilik Takdir. Tapi balik lagi, seperti perkataan nyokap gue, “Selama mama masih hidup, doa mama-lah yang diijabah. Tapi kalau mama sudah gak ada, doa kalian-lah yang akan dijawab”. Dan jujur aja, gue masih butuh doa-doa mustajab dari nyokap. Doa-doa yang menembus langit dan tidak akan tertolak. Doa-doa yang membuat gue terus-terusan ingin bermimpi, karena gue percaya ada kekuatan doa dari nyokap yang selalu mengiringi.

Jujur aja, gue sering kepikiran tentang kematian sejak 3 tahun yang lalu. Saat almarhum Ust.Jeffry Al Buchori meninggal dunia. Gue sempet kaget pas liat berita kalo beliau meninggal. Dan lebih kaget lagi pas tau kalo ulang tahun kita samaan, 12 April. Gue sempet mikir, apa gue juga akan meninggal di usia yang sama, yaitu 40 tahun? Apa gue akan meninggal dalam sebaik-baiknya keadaan? Apa bekal gue untuk pulang kampung sudah cukup banyak? Apa yang musti gue lakuin sambil menunggu kepulangan? Dan jawabannya cuma satu, mendekatkan diri dengan Tuhan. Karena soal maut, rezeki dan jodoh ada di tangan Tuhan. Begitu juga dengan masuk surga atau neraka. Semuanya hak mutlak dari Tuhan.

Seminggu lagi usia gue akan bertambah, sekaligus berkurangnya jatah hidup. Mungkin udah gak jaman minta umur yang panjang. Sekarang gue udah mulai ganti pola, mintanya sisa umur yang berkah. Tapi untuk kasus nyokap dan bokap, gue masih meminta hal yang sama, agar keduanya diberikan umur yang panjang dan usia yang berkah. Gue masih ingin nyokap-bokap hidup lebih lama lagi. Saat abang-abang sudah memberikan cucu-cucu yang lucu. Saat gue dan abang mulai merintis kerajaan bisnis yang baru, gue pengen kalo bokap ngeliat hasil kerja keras kami. Gue pengen bokap bangga ngeliat hasil didikannya. Gue pengen jika suatu saat nanti, saat datang seorang pemuda yang baik, bokap bisa melihatnya sendiri, dan menentukan pilihan apakah memberikan restu atau tidak. Gue pengen kalo bokap yang akan menikahkan putri satu-satunya ini. Meskipun gue punya stock abang yang banyak sebagai wali nikah, gue gak akan pernah putus berdoa agar bokap bisa menyempurnakan tugasnya sebagai seorang ayah. Gue pengen bokap sendiri yang bilang ke pemuda itu, “Tolong jaga putri saya”. Gue pengen bokap jadi ayah yang sempurna.

Sedih, memang, jika ditinggalkan orang yang kita sayangi. Membayangkannya aja udah bikin gue nyeri sampai ke hati, apalagi temen gue yang bener-bener ditinggalkan. Tapi balik lagi, kehidupan ini bagaikan anggota tubuh. Jika ada anggota tubuh yang rusak atau bahkan harus dibuang, sakitnya hanya akan terasa sementara. Lalu secara bertahap anggota tubuh kita akan memperbaiki jaringannya sendiri. Iya, menyembuhkan dirinya sendiri hingga akhirnya pulih. Sama halnya dengan manusia yang ditinggalkan. Harusnya kita bisa me-recovery hati secara bertahap. Karena kehidupan harus tetap berlanjut. Proses penyembuhan harus tetap berjalan, agar kita benar-benar pulih. Balik lagi, Innalillahi wa innailaihi raajiuun. We surely belong to Allaah, and to Him we shall return. Kita semua adalah milik Allaah, dan kepada-Nya kita harus kembali. Kullu nafsin dzaiqatul maut. Semua yang bernyawa pasti akan mati. Semua yang ada di dunia, pasti akan pulang kepada pemilik-Nya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s