I Miss You, Pa

Barusan gue buka Facebook, niatnya mau cuci mata liat abang-abang koriya. Tapi temen gue yang baru ditinggal ayahnya seminggu yang lalu nge-share sebuah video dari youtube. Sebuah lagu dari Aimer-Kyoukara Omoide yang  membuat gue langsung inget masa-masa kecil bersama bokap. Gue emang gak ngerti bahasa Jepang, tapi dari visualisasi videonya gue bisa tau kalo itu cerita tentang seorang ayah dengan putri kecilnya. Ayah yang selalu ada setiap hari, hingga suatu saat pergi dan gak pernah balik lagi. It’s so damn hurt. I think she’s a masochist. Baru seminggu ditinggal ayah tapi berani-beraninya dia nonton video beginian. But i’m proud of you, sist. Don’t worry, let the past be the past. You’re stronger than i know. Your dad must be proud of you too. Let’s finish this semester safely and graduate for the sake of our parents.

Gue jadi inget bokap di rumah. Tetiba gue jadi rindu. Terakhir kali gue denger suara beliau itu pas nelpon nyokap minggu lalu. Kebetulan nyokap lagi mandi, jadi bokap yang angkat telepon. Pas denger suara bokap dari seberang sana tetiba kerongkongan gue jadi tersendat. Yang bisa gue omongin cuma, “Apakabar, pa? Papa sehat?”. Udah, gitu aja. Gue gak bisa ngomong banyak. Gue terlalu rindu untuk ngomong sesuatu. Dan ujung-ujungnya gue malah ngomong, “Nanti aku telepon lagi ya, Pa. Kalo mama udah beres mandi”.

Kejadiannya selalu begitu. Selama gue jadi mahasiswa, gue jarang banget nelpon bokap. Bokap pun juga begitu. Kalopun ngobrol via telepon pasti gak akan lama. Mungkin kita sama-sama rindu makanya gak bisa ngomong banyak. Obrolan terpanjang gue sama bokap itu waktu gue pertama kali merantau ke Aceh. Saat gue baru jadi mahasiswa dan hidup jauh dari orang tua. Di minggu pertama kuliah, saat nyokap pulang ke rumah setelah beberapa hari menemani gue di kosan, bokap nelepon. Persis saat nyokap gue di jemput mobil travel di depan kosan. Bokap gue nanya hal-hal yang standar seperti, “Mama udah berangkat? Kamu udah makan, belum? Jaga kesehatan, ya. Jangan lupa shalat. Rajin-rajin ngaji”. Dan sumpah, yang bisa gue lakuin cuma nangis. Pas denger gue nangis, bokap bilang, “Lah, kenapa malah nangis? Kamu kan udah besar. Udah jadi mahasiswa. Jangan nangis lagi”.

Dan seketika gue mikir, “Dad, can i be your lil’ girl forever?”

Bokap gue emang tipikal orang yang gak banyak omong. Beliau lebih banyak mikir dan kerja ketimbang bicara. Kadang gue juga suka heran kenapa sampai sekarang bokap masih kerja keras siang dan malam. Gue sering mikir, uang buat siapa lagi yang bokap usahakan. Abang-abang udah pada kerja, udah pada ‘lepas’ semua. Yang jadi tanggungan bokap cuma gue seorang. Toh, gue makannya juga gak banyak. Paling sepiring lebih dikit. Terus, bokap kerja keras buat siapa lagi? Gue gak banyak minta, kok. Yang gue minta cuma bokap istirahat, duduk manis depan tv sambil makan gorengan hasil eksplorasi tangan gue. Itu aja, gak muluk-muluk.

Mungkin karena bokap orangnya gak bisa duduk diam. Dalam keadaan sakit pun bokap masih tetep kerja. Katanya kalo duduk doang malah bikin tambah meriang. Menurut riwayat sejarah dari nyokap sih katanya waktu kecil dulu bokap udah terbiasa kerja keras. Katanya kalo gak kerja gak bisa makan. Kalo mau makan ya harus nanem sesuatu dulu. Kalo mau makan ikan ya harus mancing. Kalo mau makan jagung ya berkebun. Kalo mau hidup enak ya kerja.

Dulu waktu masih SD, gue selalu dianter-jemput bokap tiap hari. Kalo waktunya gajian, sepulang sekolah bokap selalu ngajak gue mampir ke sebuah warung nasi langganan. Dan menu wajib yang selalu dipesan bokap adalah, ikan bakar. Mungkin waktu itu, bokap baru bisa makan enak pas udah gajian. Mungkin bokap baru bisa makan ikan bakar pas awal-awal bulan. Mungkin sepotong ikan bakar waktu itu bagaikan penawar rindu bagi bokap yang selama sebulan penuh jadi abdi negara bernama PNS. Mungkin waktu itu gue belum tau apa itu rindu. Gue belum tau gimana susahnya nyari uang, yang saking  susahnya, lo cuma bisa makan enak sekali dalam sebulan. Tapi sekarang, mudah-mudahan gue sadar dengan keadaan.

Waktu kecil gue juga sering makan nasi ‘racikan’ bokap. Iya, nasi putih dengan lauk ikan yang udah dibuang tulangnya. Ikan tanpa tulang yang dicampur dengan nasi putih hangat, diaduk pakai tangan bokap sendiri. Iya, bokap mencampurkan ikan dan nasi dengan tangannya sendiri, seperti seorang masterchef yang membuat adonan roti. Tapi disitulah letak nikmatnya makan nasi dengan ikan tanpa tulang. Itulah nikmatnya makan nasi dengan lauk yang udah tercampur dan tinggal hap masuk ke mulut. Nasi dengan sentuhan ‘rasa’ tangan bokap. Nasi yang tersimpan rapi dalam kotak bernama memori. Nasi hangat yang akan selalu gue ingat. Nasi hangat yang mungkin gak akan pernah gue temukan di tempat lain, selain di rumah yang ada bokapnya.

Waktu kecil, kalo gue sakit ataupun demam, selain pergi ke dokter, gue juga punya semacam ritual khusus. Setiap kali demam, gue harus mandi bareng bokap, atau minimal gue dimandiin bokap.  Dengan begitu demam gue langsung turun, dan gue jadi sembuh. Entahlah, mungkin ini magic. Atau mungkin bokap gue punya semacam keahlian menyembuhkan seseorang melalui air bekas sabunnya. Haha.

Ah, gue rindu bokap. I miss you so bad, pa. Gue gak tau mau bilang apa. Gue gak berani bilang rindu, karena gue dididik untuk jadi anak yang mandiri. Bokap selalu mencontohkan untuk jadi pribadi yang kuat dan tegar. Jadi gue juga harus menjadi pribadi seperti bokap.

Pa, aku tau papa juga rindu. Kita adalah pribadi yang sama-sama merindu tapi terlalu malu untuk mengaku. Aku juga tau ada banyak hal yang berkeliaran di pikiran papa. Hal-hal yang terlalu mengganggu. Hal-hal yang seharusnya papa bagi, tapi papa memilih untuk menyimpannya sendiri. Cause you’re strong. You think you can handle it all by yourself. But i want to know it more. I want to know how your feel. I want to comfort you, when you need to cure. I want to listen to all of your problems. I want to hug you when you feeling guilty. I want to know it more, pa. So don’t hide your feelings.

Kalo papa mau nangis, nangis aja, pa. Aku tau sebenernya papa pengen nangis, tapi beban papa sebagai kepala keluarga terlalu besar. Papa harus menjaga wibawa sebagai nahkoda. Papa harus menggenggam tangan kami satu per satu, dan menyeberangkan kami dengan selamat sampai ke tujuan. Papa gak pernah ninggalin kami di tengah jalan, meskipun terkadang kami ingin melepaskan pegangan tangan. Dengan sabarnya papa berlari, mengejar kami dan berkata, “Ayo, nak. Kita pulang. Pegang tangan papa erat-erat”. Papa gak akan pernah membiarkan kami tersesat.

Don’t worry, pa. Papa gak usah risau, karena papa sudah jadi ayah yang sukses dalam mendidik kami. Anak-anak papa sekarang sudah jadi orang penting. Papa berhasil menjadi ayah, teman, nahkoda, serta bodyguard kami. Papa boleh berbangga dengan abang yang sudah jadi orang penting di kantornya, yang secara berkala melakukan perjalanan dinas ke luar kota. Papa boleh berbangga dengan kakak yang juga jadi orang penting di korps-nya. Papa boleh berbangga dengan si putra bungsu papa yang baru saja naik pangkat. Atau, papa boleh berbangga dengan kami sisanya yang sebentar lagi akan pulang dan menjadi orang yang berguna, calon orang penting berikutnya.Papa boleh menangis dengan bangga. Sebagaimana yang papa lakukan saat kakak memberi kabar bahwa dia lolos tes tahap akhir, dan berangkat ke Semarang. Silakan menangis dengan harunya, pa. Kami ingin menjadi penyebab dibalik tangis haru papa.

Kalau papa mencemaskan si bungsu, masih ada 5 pemain cadangan yang siap menjadi back-up nya papa. Kalau papa mencemaskan uang sakuku, jangan khawatir, suntikan dana dari abang sudah lebih dari cukup kok, pa. Haha. Jadi, papa jangan terlalu ngotot bekerja. Aku akan kurangi makan, pa, biar tanggungan biaya papa tiap bulannya juga berkurang. Haha. Terimakasih atas kerja keras papa selama ini. Terimakasih atas malam-malam panjang yang papa habiskan untuk bekerja, demi membiayai kami. Terimakasih atas panas terik yang papa hadapi setiap harinya. Terimakasih atas dinginnya hujan yang papa terobos demi mencukupi kebutuhan kami. Terimakasih atas didikan yang papa terapkan sejak kecil, hingga aku bisa mandiri seperti saat ini. Saat aku mencari mama karena kehilangan baju, papa memarahiku karena seharusnya aku mencarinya sendiri, bukan meminta bantuan mama. Dan sekarang aku merasakan manfaatnya, pa. Kini, si bungsu papa ini sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Aku bisa bepergian sendiri, pa. Aku juga bisa mengangkat galon air sendiri, tanpa bantuan orang lain. Aku juga bisa menyelesaikan masalahku sendiri. Karena papa yang mengajarkan bahwa, tidak ada satupun orang yang bisa menjadi penolong kecuali diri kita sendiri.

Akhir tahun ini, kuharap papa bisa berangkat ke Bandung, saat si bungsumu ini menyandang gelar sarjana. Mungkin aku gagal jadi dokter seperti kemauan papa. Tapi jadi sarjana desain juga gak masalah kan, pa? Haha. Terakhir kali papa ke luar kota ya saat kakak dilantik jadi perwira. Eh, atau waktu kondangan 2 tahun lalu? Tahun ini papa juga harus ke luar kota lagi, saat aku ‘dilantik’ jadi sarjana. Selalu doakan aku disetiap sujudmu, pa. Doakan aku di malam-malam panjangmu. Semoga tahun ini aku bisa pulang dengan membawa kabar baik. Semoga aku bisa pulang dengan penambahan 3 huruf di belakang nama.  Semoga aku bisa membuat papa bangga.

Setiap kali berdoa, aku selalu meminta agar papa diberkahi umur yang panjang serta diberikan kesehatan. Agar papa bisa mencarikan seorang pemuda yang baik untukku. Seorang pemuda yang akan menjabat tangan papa dengan khidmatnya, dan melanjutkan tugas-tugas papa. Papa harus panjang umur dan selalu sehat. Sampai papa bisa melihat cucu-cucu berikutnya. Haha. Papa jangan terlalu lelah bekerja.  Sudah waktunya bagi papa untuk beristirahat dan menikmati hasil jerih payah papa selama belasan tahun ini. Sudah seharusnya papa duduk ngemil di depan tv sambil nonton film dokumenter kesukaan papa. Selalu sehat ya, pa. Kami semua sayang papa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s