Serba Idaman

Time goes so fast. Waktu berlalu dan melesat bagaikan peluru. Itu yang gue rasain saat ini. Gak nyangka, tahun ini gue udah 23 tahun. Rasanya baru kemaren ini gue merengek-rengek minta beli handphone ke nyokap, tapi gak dikasih. Akhirnya gue nabung dan beli handphone sendiri. Rasanya baru kemaren ini gue diantar-jemput bokap berangkat sekolah. Rasanya baru kemaren ini gue dimandiin abang. Rasanya baru kemaren ini. Iya, gue rasa begitu.

Gue jadi inget nasehat dari seorang guru sewaktu SMA, beliau ini juga temen baiknya bokap gue. Beliau mengatakan bahwa ada 2 hal yang harus diingat dalam hidup ini. Yaitu waktu yang paling jauh dari diri kita adalah yang telah berlalu, dan yang paling dekat adalah kematian. Dan gue baru sadar akan hal itu pas udah menginjak usia 20-an. Gue ngerasa saat memasuki usia 20-an, apa-apa yang gue lakukan itu berlalu dengan sangat cepat. Mulai dari kuliah, main, belajar, bahkan hingga saat udah mau wisuda. Semuanya berlangsung dengan sangat cepat. Semuanya berlalu tanpa gue sadari.

Kalo dulu gue ngerasa, “Ah, kapan ya gue kuliah. Kapan ya, gue wisuda. Kapan ya, gue kerja. Kapan ya, gue nikah. Kapan ya, gue punya anak”. Tapi sekarang, seakan-akan gue gak mau melewati fase-fase itu dengan sangat cepat. Rasanya gue pengen menjalani fase-fase kehidupan dalam keadaan slow motion. Sekarang gue ngerasa kalo semuanya berjalan terlalu cepat. Atau, dunia saat ini begitu adanya. Atau, gue-nya aja yang terlalu lelet. Hahaha

Well, sebentar lagi gue udah (harus) wisuda. Atas izin Tuhan, gue akan lulus tahun ini. Dan dari sana-sini udah mulai terdengar bisikan-bisikan halus, “Ayo, nikah. Mama udah punya kandidat calonnya”. And now, i’m realizing that i’m an adult. Ternyata gue udah dewasa. Berdasarkan hukum dan undang-undang perkawinan yang berlaku di negara ini, gue udah dilegalkan untuk menikah. Haa. Entah gue harus bangga karena udah dilegalkan dan mendapatkan semacam pengakuan sebagai orang dewasa, atau harus poker face karena gue belum memikirkan pernikahan.

Wait, i’m a normal person who can be loving someone. Gue normal, kok. Gue juga punya perasaan terhadap lawan jenis. Gue juga memiliki ketertarikan yang sama dengan anak-anak gadis lainnya. Bedanya, anak-anak gadis lainnya udah pada sold out dan memutuskan untuk menjalin suatu hubungan, gue memilih jalan untuk berpuasa terlebih dahulu. Hahaha. Tertarik akan lawan jenis bukan berarti harus menyegerakan untuk menjalin suatu hubungan. Halah. Bukan berarti gue sok jual mahal atau memiliki standar yang terlalu tinggi. Bukan juga karena gue berharap ‘too much’ sama oppa-oppa koriya. Bukan juga karena gue yang terlalu freak dengan dunia ala-ala kpop. Hanya saja gue merasa belum siap dengan suatu komitmen. Gue ngerasa kalo gue ini masih banyak kurangnya. Masih banyak yang harus gue perbaiki. Masih banyak kebocoran-kebocoran diri ini yang musti ditambal.

Wanita yang baik diperuntukkan bagi lelaki yang baik. Begitu pula sebaliknya.

Entah kenapa gue selalu berpatokan akan hal itu. Gue selalu percaya bahwa di tepian jalan nanti akan ada seorang pemuda yang sama ‘baiknya’ dengan keadaan diri gue sendiri. Gue percaya kalo Dia telah mempersiapkan seseorang yang menunggu di tepian jalan. Iya, gue sebut tepian karena kita akan sama-sama berjalan beriringan menuju ujung jalan nanti. Mungkin selama di perjalanan kita akan menemukan beberapa persimpangan, belokan, tikungan, atau bahkan jalan buntu. Makanya, gue sebut tepian jalan, karena kita akan berjalan beriringan hingga akhir. Hingga sampai ke tujuan, entah itu di ujung jalan, atau ada jalan-jalan lain yang harus kita lewati bersama. Intinya, bersama.

Hal semacam ini yang jujur aja, menjadi beban bagi gue. Gue ngerasa kalo gue belum cukup baik untuk berjalan beriringan dengan seseorang. Mengingat tanggung jawab selama dalam perjalanan sangatlah berat. Gue ngerasa kalo gue masih banyak kurangnya, hingga gue belum mampu atau bahkan malu untuk berhadapan langsung dengan seseorang di tepian jalan nanti. I’m not a perfect person. Dan gue percaya kalo gak ada yang sempurna di dunia ini kecuali Tuhan. Mencari kesempurnaan adalah suatu keniscayaan. Tapi sebagai seorang manusia biasa, gue ingin menjadi yang terbaik, atau at least menjadi yang ‘baik-‘baik’. Agar gue juga dipasangkan dengan seseorang yang berkualitas sama.

Semacam ada ketakutan dalam diri gue sendiri. Gue takut menjadi pribadi yang belum pantas untuk disebut sebagai orang baik. Karena jujur aja, gue mengharapkan dapat bertemu dengan seseorang yang juga baik (yang berdasarkan teori dari firman Tuhan, gue harus jadi orang baik agar layak dipersandingkan dengan seseorang yang juga baik). Gue sendiri punya ekspektasi yang cukup tinggi. Yah, cukup tinggi karena gue pribadi mengagumi sosok abang. Iya, abang kandung gue. Gue ngerasa kalo abang itu figur yang perfeksionis, yang bahkan diamini oleh nyokap gue. Nyokap bilang kalo abang adalah sosok yang sempurna, yang gak ketulungan baiknya, yang gak pernah bilang ‘enggak’, yang gak pernah menolak kalo ada yang minta tolong (yang kalo udah mentok gak bisa bantuin, abang bakal ngasih opsi lain). Pokoknya he’s such a perfect man. He has a good grades, good-looking, he has a good atitude, literary he doesn’t smoke (tapi kadang-kadang sih hahaha), better in person, hard-working, loving his family more than the other things, doing a good job in his company, bla bla bla. Pokoknya abang itu family-man banget. Malah nyokap gue pernah bilang kalo abang itu orang baik, yang bahkan nyokap gue sendiri agak gak enak hati dengan kebaikan-kebaikan abang. Abang gue bela-belain pulang ke rumah tiap akhir pekan (menempuh perjalan hampir dua jam lamanya, belum lagi macetnya jalanan di akhir pekan), cuma buat nengokin nyokap. Memang, ini udah sepantasnya dilakukan oleh seorang anak terhadap orang tuanya. Tapi nyokap gue bilang, kalo abang udah terlalu baik. Abang juga sering ngambil cuti buat nganter dan nemenin kalo nyokap-bokap check up di rumah sakit, atau sekadar nganter nyokap pergi-pergi wirid atau perkumpulan lainnya. Abang rela nungguin sampe malam, terus pagi-pagi buta juga udah harus berangkat ke kantor. Bahkan abang juga sering bawa pekerjaan kantornya ke rumah. Abang juga gak pernah mengeluh, baik akan hal kecil maupun hal-hal besar. Abang gak pernah marah. Abang gak pernah mematahkan semangat orang lain. Abang gak pernah kehabisan ide. Entahlah, gue juga bingung, dari zat apa Tuhan menciptakan abang. Pastilah sama dengan zat yang digunakan saat penciptaan gue. Haha. Tapi kenapa antara gue dan abang punya banyak perbedaan. Lebih tepatnya, gue masih banyak kurangnya. Mungkin karena abang anak yang berbakti, makanya abang selalu dibanjiri oleh doa-doa dari nyokap, hingga saat ini gue rasa kalo kehidupan abang berkilau seperti piring yang baru dicuci. Tapi gue yakin, beban yang dipikul abang juga jauh lebih besar dibanding beban kehidupan gue sendiri. Jauh di dalam hatinya, pastilah abang juga butuh didengar karena selama ini abang selalu mendengarkan keluhan-keluhan orang lain, abang juga butuh ditenangkan karena selama ini abang selalu menenangkan orang lain, abang juga butuh tempat mengadu karena selama ini abang memposisikan diri sebagai seorang problem solver, jadi gue rasa, he also needs a cure.

Mungkin karena gue terlalu mengidolakan figur abang, jadi ada semacam kekhawatiran dalam diri gue. Gue khawatir apa gue bisa seperfeksionis abang, agar pantas bersanding dengan seseorang yang menyerupai figur abang? Gue juga takut mengecewakan orang banyak. Gue takut mengecewakan keluarga dan pasangan gue nantinya, karena mereka terlalu berharap terhadap gue. Mungkin keluarga gue akan mem-blow-up hal-hal baik tentang diri gue hingga kekurangan-kekurangan gue tertutupi. Keluarga gue pastinya akan menceritakan prestasi-prestasi gue, hingga mereka lupa bahwa gue gak sebaik itu. Gue takut kalo nantinya akan ada pihak yang dikecewakan, kalau-kalau selama di perjalanan nanti, gue gak sebaik yang digembor-gemborkan selama ini. Intinya, too afraid to be true. Gue hanya ‘takut’ saat memikirkan pernikahan. Karena manusia modern pada umumnya memprioritaskan pernikahan hanya pada seremonialnya saja. Tapi bagi gue, it’s all about the marriage life not about the wedding. It’s all about the life after the party. It’s about me and him. It’s about our family. It’s about ours not yours. Ahh. Intinya gue masih takut.

Kadang gue sering menerka-nerka seperti apa pasangan gue nantinya, mengingat keadaan gue masih seperti ini. Iya, gue masih pecicilan, belum bisa pake heels dan masih suka pake kets kemana-mana, masih suka pake kemeja gombrong dengan skinny jeans atau ‘belel’ jeans, masih yang…ahh gue malu kalo mengekspos semuanya. Hahaha. Lucu aja kalo ngebayangin gue udah jadi istri seseorang. Duh, Tuhan. Gue harap sih jadi happily ever after kayak yang ada dalam dongeng disney. Tapi caranya biar happily ever after itu yang susah. Lagi-lagi gue masih takut gak bisa jadi the ideal one. Meskipun sebenernya gak ada yang pernah sempurna dalam menjalani sebuah pernikahan. Gak ada yang digelari ‘master’ dalam pernikahan. Karena semuanya, setiap orang yang menikah pasti belajar setiap harinya. Belajar memahami pasangan. Belajar memahami keadaan. Belajar menerima kekurangan. Tapi entah kenapa, meskipun gue yakin akan suatu proses pembelajaran, gue masih dibayang-bayangi rasa takut. Gue juga gak tau sumber takutnya berasal dari mana.

Hanya saja gue selalu berdoa agar Tuhan menyimpan orang itu dengan baik, dengan sebaik-baiknya keadaan. Keluarkan dia, jika memang sudah waktunya untuk bertemu. Gue juga selalu berdoa agar diri gue senantiasa di upgrade, jika memang orang itu memiliki level yang cukup tinggi. Kan malu, kalo gue masih di level standar. Bahasa kekiniannya adalah ngarep. Gue ngarepin seseorang yang baik tapi gue belum jadi orang baik. Haha.

Entah tahun ini atau tahun berikutnya. Atau malah ditahun-tahun berikutnya lagi. Gue hanya berharap, jika saatnya bertemu nanti, gue sudah menjadi pribadi yang pas, menjadi sosok yang pantas. Dan gue juga berharap, agar kehidupan ‘after the party’ dan di sepanjang perjalanan nanti, kita bisa saling menguatkan. Selalu mencari alasan agar tidak saling meninggalkan. Saling mengisi, ibarat kepingan-kepingan puzzle yang punya slot masing-masing. Saling melengkapi bukan malah mencari-cari kekurangan, karena manusia memang diciptakan dengan berbagai kekhilafan. Saling mengingatkan untuk senantiasa berbahagia. Saling bercerita tentang apa itu surga. Saling berbagi, apapun, meskipun hanya berupa penggalan cerita pendek tentang pekerjaan di kantor. Saling menghormati, bukan lagi soal ini keluargaku dan itu keluargamu, tapi saling mencoba untuk menggantinya dengan keluarga kita. Ayahmu jadi ayahku. Ibuku jadi ibumu. Saudaraku juga saudaramu. Hormati ibumu sebagaimana kau menghormati beliau jauh sebelum kita bertemu, hormati beliau karena dia sumber surgamu. Hormati ayahmu sebagaimana kau menghormatinya jauh sebelum kita bertemu, karena beliau adalah tulang punggungmu dulu. Sayangi saudara-saudaramu sebagaimana kau menyayangi mereka jauh sebelum kita bertemu, karena mereka adalah orang terdekatmu sebelum aku. Mari berbagi, mulai dari hal-hal kecil hingga mimpi-mimpi. Biarkan aku memperbaiki diri terlebih dahulu. Agar kita sama-sama pantas. Agar kita sama-sama pas.

Duh, gue berasa jadi pujangga kaki lima.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s