Menerka Si Bapak

Pak, aku putrimu yang kemarin pulang ke sisimu. Sampai sekarang aku masih menerka-nerka apa yang ada dalam benak Bapak. Sampai sekarang aku masih menerka-nerka jalan macam apa yang tersimpan rapi dalam otak Bapak yang kini terbungkus rambut tipis yang menguban. Sampai sekarang aku masih menerka-nerka sedalam apa luka hati yang Bapak pendam hingga saat ini. Pak, bolehkah aku menerka-nerka apa yang Bapak pikirkan?

Pak, aku baru sadar bahwa selama ini aku terlalu sibuk mengejar mimpi, sehingga lupa bahwa Bapak semakin menua dan renta. Aku baru sadar, Pak, jika duniaku selama ini berotasi pada sumbu yang amat pendek, sehingga aku berputar pada duniaku sendiri, dan lupa pada dunia di sekitarku. Pak, apa ini yang disebut sebagai suatu proses pendewasaan? Jika memang benar, aku lebih suka menjadi dewasa, Pak. Agar aku peka terhadap perasaan Bapak.

Pak, ku dengar Bapak ingin aku jadi PNS. Katanya agar hidupku kelak terjamin. Aku tahu kecemasan Bapak. Aku tahu kalau Bapak mengkhawatirkan kehidupanku setelah kepergian Bapak nanti. Aku tahu kalau Bapak tidak ingin putrimu ini menjadi beban bagi orang lain. Bapak ingin aku mapan dan mandiri, benar, kan, Pak? Tapi, Pak, maafkan aku jika PNS bukan passion ku. Aku bukan tipikal pengabdi yang siap menghabiskan sebagian besar waktu untuk bekerja kantoran. Bapak tau sendiri, kan. Kalau putrimu ini tipikal manusia kodok yang sebentar-sebentar berpindah. Kakiku selalu gatal untuk melangkah, Pak. Anganku terlalu tinggi untuk sekadar duduk diam di kantor. Dan yang terpenting, Pak. Aku ingin mengabdi pada keluargaku kelak. Aku ingin mengabdi pada mantu pilihan Bapak. Aku ingin mengabdi sepenuh hati untuk mengurusi cucu-cucu Bapak yang lucu.

Pak, Bapak tidak usah terlalu mengkhawatirkan putrimu ini. Soal rezeki ku nanti, percayakan saja pada Tuhan Yang Maha Pemurah dan Maha Kaya. Bapak titipkan aku pada Tuhan Yang Maha Menjaga. Insya Allah, Pak. Hidupku akan terjamin, dan tidak ada satupun makhluk yang berani memiskinkan aku kecuali atas izin Tuhan. Simple sekali, bukan, Pak?

Pak, Bapak tahu tidak, kalau Bapak adalah sosok panutanku. Sosok Bapak seringkali membuat dadaku terasa sesak, karena aku teringat akan baktiku yang belum seberapa. Sosok Bapak seringkali membuat air mataku mengalir tiba-tiba, karena aku teringat akan perjuangan dan kerja keras Bapak dalam mendidik kami. Sosok Bapak seringkali membuat luka hatiku serasa ditaburi garam, karena aku teringat akan tubuh renta Bapak yang masih saja bekerja hingga saat ini. Pak, pada titik ini aku merasa menjadi pribadi yang sangat lemah. Putrimu ini tidak bisa setegar yang Bapak harapkan.

Pak, ku dengar juga kalau Bapak mulai mencarikan sosok pemuda yang pantas untuk mendampingi putrimu ini. Iya, Pak. Itu memang tugasnya Bapak. Aku pun percaya kalau Bapak tidak akan sembarangan dalam memilihkan pasangan. Hanya saja, Pak, entah kenapa aku sedikit rendah diri jika berhadapan dengan pemuda yang berkualitas tinggi. Seringkali aku merasa belum pantas dan belum pas jika mendapatkan pemuda yang sempurna versi Bapak. Sebagaimana yang difirmankan Tuhan bahwa lelaki yang baik diperuntukkan bagi wanita yang baik, begitu pula sebaliknya. Pak, ijinkan aku memperbaiki kualitas diriku terlebih dahulu, agar aku pas dan pantas dengan sosok yang dijanjikan Tuhan. Aku pun seringkali berdoa agar Tuhan Yang Maha Membolak-balikkan Hati memberikan ketetapan pilihan bagiku, agar aku yakin akan pemuda pilihan Bapak. Pak, sudah yakinkah Bapak akan pemuda ini? Sudah yakinkah Bapak kalau dia adalah sosok yang tepat, yang akan berjabat tangan dan bertukar tanggung jawab dengan Bapak? Sudah yakinkah Bapak bahwa pemuda ini adalah sosok yang baik agamanya, baik akhlaknya, baik keluarganya dan Bapak pun ridha kepadanya? Sudah yakinkah Bapak bahwa pemuda ini bisa membimbingku dan cucu-cucumu kelak? Sudah yakinkah Bapak bahwa pemuda ini akan menjadi teman hidupku di dunia dan akhirat nanti? Kalau Bapak sudah yakin dan benar-benar yakin, maka aku pun akan mengamininya, Pak. Tinggal berserah diri pada Tuhan, Pak. Jika memang dia pemuda yang disimpan rapi oleh-Nya dan yang tertulis namanya di lauhul mahfuz sana, Insya Allah, Pak, kami pasti akan berjodoh.

Pak, akan datang masanya putrimu diambil alih tanggung jawabnya oleh seorang pemuda yang bergelar suami. Mungkin jika saat itu tiba, Bapak bisa bernafas lega, karena tugas terakhir Bapak telah selesai, dan Bapak telah menjadi ayah yang sempurna. Tapi, Pak. Ijinkan aku menunaikan baktiku sedikit lebih lama lagi. Tidakkah Bapak rindu akan celotehanku yang selama 5 tahun terakhir telah jarang Bapak dengarkan? Tidakkah Bapak rindu mendengar cerita-cerita dariku selama hidup di perantauan? Tidakkah Bapak rindu mendengar rentetan mimpi yang dulu seringkali ku perdengarkan? Jujur saja, Pak. Masih ada banyak mimpi yang ingin ku paparkan pada Bapak. Mimpiku akan pendidikan yang tinggi, mimpiku akan menjadi seorang entrepreneur, mimpiku akan sosok pemuda yang baik agamanya, baik akhlaknya, baik keluarganya dan Bapak pun ridha kepadanya, mimpiku akan keluarga kecil yang menentramkan hati, serta mimpiku akan Bapak. Mimpiku akan Bapak yang berjabat tangan dengan pemuda yang aku impikan, Pak.

Pak, bersabar sedikit lagi. Sedikit lagi, Pak. Bapak akan sempurna menjadi seorang ayah. Aku yakin bahwa Tuhan punya rencana yang indah, sebuah kejutan yang menggembirakan di penghujung jalan nanti. Bukankah sebuah penantian yang panjang akan membuat hati ini semakin deg-degan dan penasaran? Bukankah perjalanan panjang ini akan memberikan pengalaman yang lebih banyak? Bukankah rasa penasaran dan perjalanan panjang ini semakin hari semakin menarik, Pak? Pak, aku sangat menyukai perjalanan panjang dan berliku seperti ini. Dua puluh tiga tahun lamanya, Pak. Selama 23 tahun aku berpuasa, agar aku siap dan pantas menerima nama yang ditakdirkan Tuhan. Dan Bapak tahu? Penantian panjang ini semakin menarik, kurasa. Karena setiap hari aku bertanya-tanya pada Tuhan dan menerka-nerka sosok seperti apa yang tersimpan di ujung sana. Setiap hari aku menerka-nerka kapan dan dimana kami akan berjumpa. Setiap hari aku bertanya pada Tuhan, masihkah aku harus berpuasa lebih lama lagi? Dan sungguh, Pak. Ini adalah sesuatu yang menarik. Sangat menarik, Pak. Rasanya hati ini diisi oleh ribuan kupu-kupu yang berterbangan. Rasanya aku semakin bersemangat untuk memperbaiki kualitas diri ini agar aku segera dipantaskan untuk bertemu dengan sosok pilihan Tuhan. Rasanya aku ingin selalu belajar, Pak. Belajar apa saja yang sekiranya menjadikanku sosok yang pantas untuk pemuda tersebut. Kurasa perjalanan kali ini semakin menarik, Pak.

Pak, semoga fisik dan mental Bapak tetap sehat hingga Bapak menunaikan kewajiban Bapak yang terakhir. Semoga Bapak bisa memilihkan sosok mantu terbaik, yang akan menggantikan Bapak dan menjaga putri Bapak hingga akhir hayat nanti. Semoga Bapak diberikan kelapangan hati, ketentraman jiwa, dan ketenangan dalam menjalani hari-hari. Aku, putrimu sangat menyayangimu, Pak.

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s