Belajar Sabar Dari Bapak

Pak, ku dengar-dengar dari orang lain, katanya sabar itu tidak ada batasnya. Tadinya ku pikir itu cuma bualan semata, Pak. Logikanya, mana ada manusia yang tercipta sepaket beserta nafsu, bisa menahan perasaannya hingga tak berbatas? Tapi setelah melihat Bapak, aku mulai percaya, Pak. Aku percaya kalau sabar itu tidak bertepi. Sabar itu bagaikan pantai yang tak berujung.

Pak, masih jauhkan perjalanan sabar yang harus ku tempuh? Kalaulah dengan bersabar bisa mendewasakan dan membuat kualitas diri ini semakin membaik, aku rela, Pak. Aku rela untuk menepuh perjalanan panjang berikutnya. Aku rela, meskipun di perjalanan nantinya aku harus dihadapkan dengan kondisi-kondisi pahit yang menguji kesabaran. Aku rela belajar sabar seperti Bapak.

Pak, terkadang aku berpikir bahwa sabar ini melegakan. Aku bersabar selama 23 tahun untuk tidak membuka hati kepada siapa pun yang tidak serius. Aku bersabar selama 23 tahun untuk menanti sebuah nama yang telah dituliskan Tuhan jauh sebelum aku lahir di dunia ini. Aku bersabar selama 23 tahun untuk menanti waktu yang pas, menanti sosok yang pantas, yang akan menggantikan tugas dan tanggung jawab Bapak. Aku belajar sabar, Pak. Aku belajar menanti dalam ikhlas. Aku belajar menanti dalam kepasrahan. Perempuan-perempuan yang baik adalah untuk lelaki-lelaki yang baik. Aksi sama dengan reaksi, begitu, kan, Pak? Untuk bertemu dengan lelaki yang baik, maka aku harus menjadi pribadi yang baik, kan, Pak?

Pak, sabar ku dalam konteks ini sangatlah menyenangkan. Bapak bayangkan saja, setiap hari aku berdoa memohon petunjuk dan ketetapan hati pada Tuhan Yang Maha Mengetahui. Setiap hari aku berdialog dengan Tuhan, menerka-nerka siapa dia, siapa namanya, bagaimana sosoknya, bagaimana agamanya, bagaimana akhlaknya, bagaimana keluarganya, dan bagaimana dia memperlakukan ibunya. Dan sungguh, Pak. Tuhan itu penuh dengan misteri. Tuhan itu penuh dengan kejutan. Sampai sekarang aku masih dibuat penasaran. Dan sungguh, Pak. Obat dari rasa penasaran ini adalah dengan bersabar. Ikhtiar dan tawakal juga diperlukan.

Pak, doakan aku dalam pelajaran sabar kali ini. Madu yang manis berasal dari lebah-lebah yang sabar, yang setiap hari bekerja keras untuk menghasilkan madu-madu berkualitas. Aku pun juga harus bersabar, kan, Pak? Agar aku menghasilkan keturunan-keturunan yang juga berkualitas. Kenapa bisa begitu, Pak? Iya, karena aku harus bersabar dalam menanti sosok yang pas, sosok yang pantas untuk dijadikan pasangan yang berkualitas. Agar keturunan kami nantinya sama berkualitasnya. Jangan lupa doakan aku, Pak. Doakan agar rasa sabar ku tak bertepi layaknya lautan lepas.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s