Surat Cinta Untuk Tuhan

Wahai Rabb Yang Maha Agung, ini aku, salah satu hamba-Mu yang mengadu. Tahun ini adalah tahun yang penuh berkah bagiku. Iya, Kau melimpahiku dengan rahmat-Mu yang tiada henti-hentinya. Tahun ini adalah tahun yang panjang sekaligus melelahkan. Tapi Kau mengajari dan menuntunku untuk terus bersabar. Sungguh besar cinta-Mu padaku, wahai Rabb ku.

Awal tahun ini aku dipusingkan dengan judul dan penelitian skripsi. Sempat dibuat frustasi dipertengahan jalan karena aku tak mengerti apa yang pembimbing inginkan. Aku menghamba kepada-Mu setiap malam, memohon petunjuk akan masalah yang tengah kuhadapi. Dan dengan kuasa-Mu, wahai Rabb Yang Maha Agung, Kau permudah urusanku. Kau lapangkan hati dan pikiranku. Kau perlancar tulisanku, hingga akhirnya aku bisa menyelesaikan tugasku tepat waktu. Dan hadiah indah lainnya dari-Mu, wahai Rabb ku. Kau amanahkan padaku sebuah penghargaan yang menjadi pelebur lelahku selama berjuang menulis laporan skripsi. Kau ganjar perjuanganku dengan titel sebagai “skripsi terbaik”. Maka nikmat-Mu yang mana lagi yang bisa aku ingkari, wahai Rabb pemilik dunia beserta isinya?

Wahai Rabb yang membolak-balikkan hati. Masih teringat olehku beberapa bulan yang lalu aku datang menghadapmu di malam yang sepi dan sunyi. Aku mengadu, atau lebih tepatnya aku datang berkeluh kesah kepadamu. Ada banyak masalah yang kuperdengarkan pada-Mu di malam itu. Masalah kuliahku, masalah keluargaku, hingga masalah hatiku. Sungguh Kau Maha Melihat lagi Maha Mendengar, wahai Rabb ku.

Aku pernah membaca sebuah “nasihat agama” yang mengatakan bahwa jikalau Engkau, wahai Rabb semesta alam akan turun ke bumi di sepertiga malam terakhir. Aku pun tak ingin melewatkan kesempatan itu. Aku ingin lebih intim dengan-Mu wahai Rabb ku. Aku ingin bercerita semua yang ingin ku ceritakan. Aku ingin bertanya semua yang ingin ku tanyakan. Aku ingin meminta semua yang ingin ku minta. Aku pun ingin menghamba sejauh yang ku bisa.

Pernah aku berkeluh kesah pada-Mu, wahai Rabb Yang Maha Mengetahui. Aku berkeluh kesah tentang kesendirianku. Aku pun berkali-kali mempertanyakan hal ini pada-Mu, “apa yang kurang dariku?”. Aku pun berkeluh kesah pada-Mu tentang kesepian yang aku rasakan. Aku butuh teman bercerita selain Engkau tentunya, wahai Rabb ku. Ada banyak hal yang ingin ku ceritakan pada teman bercerita ku itu. Aku ingin bercerita tentang masa kecilku, mimpi dan cita-citaku, dan harapan-harapanku kedepannya. Aku butuh teman bercerita yang tau tentang ceritaku luar dan dalam. Aku butuh teman yang bersedia mendengarkan semua isi hatiku. Dan berkali-kali aku bertanya pada-Mu wahai Rabb ku, “masih lamakah ku harus menunggu?”.

Dan sungguh, lagi-lagi Kau mengajariku caranya bersabar. Penantian dalam sabar ini begitu menenangkan dan semakin nikmat ku rasa. Penantian ini penuh misteri dan bagaikan sebuah teka-teki yang harus ku jawab dengan teliti. Tahun ini aku memang belajar banyak tentang sabar. Dan sungguh, wahai Rabb ku. Tiada lain obat yang paling menenangkan di dunia ini kecuali sabar.

Aku bersabar dalam penantianku. Aku bersabar dalam puasaku yang panjang. Aku bersabar menanti ketetapanmu. Aku bersabar menunggu waktu yang telah Engkau tuliskan di Lauhul Mahfuz. Aku bersabar karena-Mu, wahai Rabb ku. Orang kekinian mengatakan bahwa aku adalah seorang singelillah. Single karena Allah. Aku sendiri karena-Mu. Aku sendiri sebagai bentuk ketaatanku pada-Mu. Aku sendiri demi menjaga amanah-Mu. Aku sendiri demi mengharapkan ridha-Mu. Sebagaimana yang telah Engkau janjikan, wanita-wanita yang baik diperuntukkan bagi lelaki-lelaki yang baik, begitu pula sebaliknya. Dan aku percaya akan janji dan ketentuan-Mu. Jikalau diriku sudah baik adanya, maka Kau akan atur sendiri pertemuanku dengan seorang pemuda yang sama baiknya. Dan Kau pun menunjukkannya hari ini wahai Rabb ku.

Wahai Rabb Yang Maha Mengetahui apa-apa yang tidak ku ketahui. Sekian lama aku berpuasa dan sendiri, disaat teman-temanku yang sebaya lebih memilih untuk menjalin hubungan “ilegal” dengan lawan jenis yang tentunya tidak Engkau sukai. Sekian lama aku menutup hati bagi orang-orang yang tidak mengerti akan arti cinta sesungguhnya. Bukankah cinta datang dari-Mu wahai Rabb ku? Lantas, kenapa cinta yang suci harus diungkapkan dengan cara yang tidak Engkau ridhai? Kalau memang cinta, harusnya segera halalkan dengan cara menikah. Satu-satunya jalan yang Engkaui ridhai dan satu-satunya obat penawar bagi dua insan yang saling mencintai.

Wahai Rabb Sang Pemilik Cinta. Terkadang lucu rasanya mendengar ada gadis yang mencari pacar shaleh, rajin mengaji dan berjamaah di masjid. Kalaulah memang ada pemuda yang rajin mengaji, harusnya dia tidak memilih jalan berpacaran. Karena Engkau wahai Rabb ku, telah menegaskan dalam firman-Mu “dan janganlah dekati zina”. Secara terang-terangan Engkau melarang hamba-Mu untuk berpacaran. Lantas, apa yang shaleh masih mau berpacaran? Jikalau ada yang berpacaran, apa masih pantas dilabeli shaleh?

Ah, sudahlah. Tak seharusnya aku membahas mereka. Harusnya aku bercerita saja tentang hatiku yang tengah berbunga karena cinta yang Engkau titipkan dihati ini. Selama ini aku berpuasa, menjaga hati dari orang-orang yang “tak pantas”, menjaga pergaulan agar menjadi pantas dan pas, menjaga perasaan agar tidak terlalu berharap, dan menjaga mimpi-mimpi agar tidak terlalu jauh menari. Sekian banyak pemuda sesumbar yang datang, sekian banyak pemuda gombal yang mendekat, sekian banyak pemuda labil yang menghampiri dan pada akhirnya aku mendebatnya dengan dalil “janganlah mendekati zina”. Semuanya mental, wahai Rabb ku. Semuanya pergi tidak ada kabar. Sungguh, Engkau sungguh sayang padaku. Engkau tidak ingin kalau aku jatuh pada hati yang salah. Engkau tidak ingin aku bersandar pada sosok yang tidak benar. Sosok yang hanya mengikuti nafsu semata tanpa tau hakikat cinta yang sebenarnya.

Sungguh Kau memang sayang padaku wahai Rabb Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Ibarat seorang kekasih, Kau adalah kekasih yang protektif. Kau menjagaku layaknya seorang kekasih yang menjaga belahan hatinya. Kau menjagaku dari orang-orang yang salah. Kau menjagaku dengan sebaik-baiknya penjagaan. Sungguh. Ini sungguh romantis wahai Rabb ku. Tiada cerita romantis yang lebih menyentuh selain rasa kasih dan sayang-Mu padaku.

Wahai Rabb ku. Kini, kau tunjukkan padaku “God sign” dari-Mu. Kau tunjukkan secara perlahan apa-apa yang Kau simpan selama ini. Kau keluarkan perlahan. Mengajarkanku kembali akan apa itu bersabar. Tapi sungguh, aku sungguh menikmati rencana-Mu ini. Rencana yang tidak pernah ku duga selama ini. Rencana ajaib yang hanya Engkau yang tau. Rencana yang membuatku seringkali tersenyum tanpa sebab, tersenyum sepanjang hari. Rencana yang membuatku berpikir, “sungguh Engkau Yang Maha Mengatur, wahai Tuhanku. pengaturan-Mu tidak akan pernah meleset meskipun se-inchi”.

Wahai Rabb ku. Jika memang ini yang Engkau ridhai, maka biarkanlah cinta ini tumbuh dengan semestinya. Sebagaimana cinta yang Engkau ridhai, perkenankanlah cinta ini untuk terus tumbuh di jalan-Mu, sesuai aturan-Mu. Jangan biarkan aku menjauh dari-Mu karena hadirnya cinta yang lain. Jika memang aku dan dia saling cinta dan Kau adalah “Mak Comblang” yang paling sempurna, maka dekatkanlah kami dengan cara yang Engkau ridhai. Dekatkan kami, dekatkan hati kami, dan dekatkan pula kami dengan-Mu, Sang Pemilik Cinta Yang Abadi.

Wahai Rabb ku, aku masih menjadi kekasih-Mu, kan?🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s