Kau Yang (mungkin) Ada Di Masa Depan

Teruntuk kau yang (mungkin) ada di masa depan, kita adalah dua orang asing yang mencoba untuk saling meraba sifat dan karakter masing-masing. Kita adalah dua orang asing yang mencoba untuk saling menerka apa-apa yang disukai dan tidak disukai oleh masing-masing. Kita adalah dua orang asing yang mencoba untuk saling mendengarkan mimpi masing-masing. Kita adalah dua orang asing yang bertemu, berkenalan, lalu saling memantapkan diri, atas kehendak Tuhan. Iya, kau dan aku adalah dua orang asing yang baru saja berkenalan.

Dua bulan yang lalu, kau, seorang pemuda yang masih asing bagiku, mengajakku untuk berkenalan. Kau, pemuda yang masih asing bagiku, menanyakan kesediaanku untuk bertemu denganmu. Kau, pemuda yang bahkan ku tak tahu siapa namamu, mengajakku untuk berkenalan secara langsung. Kau, pemuda yang berada diluar kendaliku.

Kau, pemuda yang berani. Belum genap sebulan berkenalan, kau mengutarakan niat untuk bertamu ke rumahku, bertemu ayah dan ibuku. Kau, pemuda yang seringkali menimbulkan banyak pertanyaan dalam benakku, “Berani sekali pemuda ini”, “Seyakin itukah dia?”, “Apa yang membuatnya yakin untuk bertemu orang tuaku?”.

Dan kini, kau kembali hadir dengan gagasan-gagasanmu yang unpredictable. Kau sungguh diluar dugaan. Belum genap dua bulan berkenalan, kau kembali menanyakan kesiapanku untuk hidup bersama denganmu. Kau menanyakan kesiapanku untuk membangun sebuah kapal dan berlayar bersama hingga tua nanti. Kau menanyakan kesiapanku untuk hidup jauh dari orang tua (lagi) dan tinggal bersamamu di perantauan. Kau menanyakan kesiapanku untuk menerima pemuda bersahaja sepertimu. Seorang pemuda biasa, dari keluarga biasa, dan dengan pekerjaan yang juga biasa. Kau, berkali-kali menanyakan kesiapanku untuk menikah denganmu.

Kalaulah bukan karena Tuhan yang memberikan ketetapan hati, mungkin aku sudah gamang segamang-gamangnya gamang mendengar rentetan pertanyaan darimu. Kalaulah bukan karena Tuhan yang memberikan ketetapan hati, mungkin aku akan berpikir seribu kali lagi untuk berkata YA padamu. Iya, ini semua atas kehendak Tuhan Yang Maha Membolak-balikkan hati. Berkali-kali aku berdoa agar diberikan ketetapan hati pada satu pilihan yang Dia ridhai, berkali-kali pula aku diberikan jawaban yang merujuk pada sosokmu. Berkali-kali aku menghamba, memohon diberikan petunjuk akan seseorang yang telah Dia tuliskan di lauhul mahfuz, berkali-kali pula Dia berikan jawaban yang sama, kamu.

Entahlah. Mungkin ini yang dinamakan jodoh. Sekian banyak kota yang telah kau dan aku singgahi. Sekian kali aku berpindah tempat kuliah dan perantauan, sekian kali pula kau bepergian ke tempat-tempat berbeda, namun jika Tuhan menakdirkan kita untuk bertemu pada satu titik yang sama, lantas, kita bisa apa selain mengikuti skenario-Nya?

Sungguh, baik kau dan rencana Tuhan, sama-sama diluar dugaanku. Siapa yang menyangka kalau kita akan dipertemukan dan dimantapkan hatinya secepat ini? Siapa yang menyangka kalau kau adalah anak dari kawan karib orang tuaku? Siapa yang menyangka kalau kita, dahulunya adalah senior dan junior di sekolah yang sama? Siapa yang menyangka kalau Tuhan mempertemukan kita dengan cara-Nya yang diluar dugaan seperti ini? Sungguh, berkali-kali aku mengucap syukur pada Tuhan, atas doa-doaku yang segera diijabah oleh-Nya.

Setiap kali berdoa, aku selalu memohon pada Tuhan agar senantiasa meridhai perjalanan kita nantinya. Jika memang benar kita adalah dua insan yang saling cinta dan Tuhan adalah penyebab utamanya, aku memohon pada Tuhan agar mendekatkan kita satu sama lain, mendekatkan hati kita, dan mendekatkan kita pada-Nya. Tiada lain cinta yang hakiki selain cinta Sang Rabb yang Maha Agung kepada hamba-Nya. Maka aku tidak ingin kita saling terlena dan lalai hanya karena kita saling cinta dan lupa pada Sang Pemilik Cinta yang sebenarnya. Aku juga memohon pada Tuhan, jika memang benar kita adalah dua insan yang saling cinta, persatukan kita dalam sebuah ikatan yang Dia ridhai. Sebuah ikatan yang akan mengindarkan kita dan keluarga kita dari fitnah yang paling keji. Sebuah ikatan yang akan menjadi penyempurna separuh dari agama kita. Sebuah ikatan yang akan bernilai ibadah, disetiap apapun yang kita lakukan bersama. Tiada lain obat penawar bagi dua insan yang saling mencintai kecuali pernikahan.

Teruntuk kau yang ada di masa depanku. Berkali-kali kau mengatakan padaku bahwa kau yakin dan siap seratus persen untuk hidup bersamaku. Berkali-kali juga aku mengatakan pada diri sendiri, bahwa aku juga siap menerima segala risiko yang akan kita hadapi nantinya.

Kau, seorang pemuda yang akan berjabat tangan dan bertukar tanggung jawab dengan ayahku nantinya. Kau, pemuda yang akan memikul beban berat di pundakmu. Kau, yang akan menjadi penanggungjawabku, pengayomku, pendidikku, imamku, serta pemikul dosa-dosaku nantinya. Sungguh, sebenarnya aku tidak tega membayangkan begitu banyak beban yang akan kau pikul nantinya. Tap berkali-kali kau meyakinkanku bahwa kau telah siap untuk memikul semua tanggung jawab itu.

Teruntuk kau yang ada di masa depanku. Mari kita berjalan beriringan bersama, saling menggenggam satu sama lain, berpegangan erat, melompat, berlari, terdiam, merenung akan pahala dan dosa, becerita tentang mimpi-mimpi dan surga, saling menguatkan satu sama lain, saling mengingatkan untuk tidak saling meninggalkan, saling berbagi, saling bercerita, dan saling berbahagia sampai tua sampai Tuhan memisahkan raga. Mari kita menua bersama. Mari kita beribadah dan berbahagia bersama, mencari ridha Tuhan yang telah mempertemukan kita dengan cara-Nya.

Iklan

2 pemikiran pada “Kau Yang (mungkin) Ada Di Masa Depan

  1. Beuhhhhh sangat puitis kali. Ku mau kasi link ini ke uda tu laah. Biar melayang layang dia wkwk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s