Berani Menikah. Menikah Harus Berani!

Insya Allah, atas izin Tuhan Yang Maha Kuasa, kurang lebih 6 minggu lagi gue bakalan nikah. Iya, nikah. Sama siapa? Sama seseorang yang terus-terusan gue sebut dalam doa tanpa menggumamkan namanya. Seseorang yang terus-terusan gue minta, berdampingan dengan harapan dan mimpi-mimpi yang seringkalii gue setorkan pada Tuhan. Iya, seseorang yang sama persis seperti yang gue doakan selama ini. Sungguh, Tuhan Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Tiada satupun doa (yang baik) yang tidak diijabah oleh Allah.

Sedikit flashback pada perkenalan gue dengan si calon imam ini. Semua berawal dari keisengan nyokap gue yang suka nanya-nanyain anak bujang orang. Hahah. Dan kebetulan akhir tahun lalu, anaknya temen nyokap ada yang nikah (and the truth is, my spouse to be is her best friend’s son). Iya, yang nikah itu anaknya calon mertua gue alias kakaknya calon gue ini. Disitulah nyokap kenalan dan beliau bilang pada waktu itu nyokap ser-seran, berasa deg-degan, dan yakin kalo ini adalah calon mantunya. Iya, nyokap waktu itu GeEr banget, emang.

Dan ternyata, sosok yang diliat nyokap di pesta nikahan anak temennya itu Insya Allah bakalan jadi jodoh gue dunia akhirat. Semacam ini adalah skenario termanis yang dituliskan Tuhan. Iya, siapa yang menyangka kalau pertemuan singkat nyokap dengan calon gue ini (yang tadinya cuma berawal dari guyonan emak-emak semata) berakhir pada ikatan yang lebih sakral. Siapa yang menyangka, jika gue pada akhirnya berjodoh dengan anak dari sahabat karib nyokap gue sendiri. Siapa yang menyangka, jika jodoh gue ternyata tinggal di daerah yang hanya berjarak 15 menit dari rumah gue. Siapa yang menyangka, jika dulunya gue adalah juniornya saat SD dan SMA dulu. Iya, siapa yang menyangka jika jodoh bisa sesimple dan semanis ini.

Enam minggu lagi. Gue makin deg-degan. Deg-degan yang bercampur dengan rasa was-was. Was-was yang terkontaminasi perasaan sedih ninggalin rumah. Lebih sedih lagi, saat gue mulai sadar bahwa, gue bakalan ninggalin rumah, dan nyokap bokap gue udah gak muda lagi. Sedih, banget. Lebih sedih dari 6 tahun lalu saat gue pertama kali merantau ke ujung Banda Aceh sana. Lebih sedih dari pada saat gue nangis kejer di bandara sewaktu mau take off ke Medan waktu itu. Lebih sedih dari pada hujan badai di Bandung dengan hawa dingin dan perut kosong. Entah kenapa gue ngerasa perantauan kali ini lebih dramatis.

Mungkin karena adanya perubahan status. Iya, kali ini gue merantau bukan sebagai mahasiswa lagi. Gue merantau bukan lagi sebagai si bungsu yang tiap bulan dapet kiriman dari nyokap, sesekali dapet kiriman rendang juga. Kali ini, gue merantau sebagai istri orang. Gue udah bukan anak kecil lagi. Bahkan yang sedihnya lagi, nantinya nama gue gak akan berjejer lagi di bawah nama bokap dan nyokap dalam Kartu Keluarga. Nanti gue bakal punya KK sendiri. Gue bakal punya kepala keluarga sendiri. Damn, it’s hurt. Bukan bokap lagi yang bakal jadi kepala keluarga gue. Bukan bokap lagi yang bakal tanda tangan surat menyurat gue. Bukan bokap lagi orang pertama yang kasih gue izin mau ngapa-ngapain.

Sedih. Memang, sedih. Tapi setiap kali ngerasa sedih buat ninggalin rumah, gue mencoba untuk mengingat-ingat bahwa, semua yang terjadi kali ini sangat sesuai dengan apa yang gue minta dulu. Iya, jodoh gue ini sama persis seperti yang selalu gue sebut dalam doa. Jadi terlalu kufur rasanya jika gue mulai meragu hanya karena kesedihan yang gak tau juntrungannya ini. Gue yang minta jodoh begini, jadi gue harus siap untuk menikah. Iya, segera menikah dan harus menikah.

Menikah, bukan hanya karena suka orangnya. Menikah, bukan hanya karena dia mau sama kita. Menikah tidak sebercanda itu. Bagi gue, menikah adalah salah satu sunnah Rasulullah yang bisa gue tunaikan dengan segera (dikarenakan gue mampu dan sudah ada calonnya). Gue menikah, karena ingin beribadah bersama. Menikah, karena gue yakin memang inilah sosok yang dijanjikan Tuhan sebagai jodoh gue. Menikah, bukan hanya mikir enaknya saja. Gue mau menikah dengan si “udaa” ini, karena gue merasa bahwa dia bisa menjadi teman yang baik. Teman, yang bisa menggantikan sosok ayah gue kelak (jikalau bokap gue telah berpulang nantinya). Teman, yang juga bisa berperan sebagai kakak bagi gue. Teman, yang bisa jadi bener-bener teman. Dan selama gue mengenal dia, gue ngerasa kalau, “Yaa, ini orang bisa diajak susah, senang, gila, merangkai mimpi, jatuh bangun, cerita segala macam mulai dari film aneh sampai pesta nikahan orang lain”. Iya, intinya gue ngerasa cocok. Dan yang lebih penting lagi, Tuhan punya peran dalam semua ini.

Iklan